The red femi

Dilarang pikir-pikir terlalu serius

with one comment

saya terus mengamati kartupos yang saya beli dari Joger, Bali seharga Rp 1000 itu. tulisannya: dilarang pikir-pikir terlalu serius.

saya membelinya saat bertandang ke bali beberapa waktu lalu. saya tak pernah berniat memajangnya di kubikel saya. hanya saja pagi tadi saya tiba-tiba menjadi tergelitik untuk menempelnya di dinding kubikel. sebaris tulisan dengan lambang huruf P yang dicoret itu selalu membuat ujung bibir saya melengkung ke atas. sehari ini, saat saya puyeng dengan tulisan dan dua temu janji yang mendadak dibatalkan, saya bisa spontan tersenyum usai mengintip tulisan di kartu pos itu.

tidak tidak, saya tidak akan memberati diri dengan memikirkan yang serius-serius. soal pekerjaan yang begini-begini saja. yah, bukannya memang begini pekerjaan menjadi wartawan? ritmenya selalu berulang setiap minggu. letihnya selalu datang di pertengahan minggu setelah titik klimaks penerbitan. kemudian, pusing lagi dengan sejumlah tugas yang memiliki tenggat yang begitu cepat.

saya juga tdak akan memberati diri dengan memikirkan yang serius-serius soal kamar kos yang bertumpukan buku-buku. kalau sudah agak longgaran, saya akan mengirimkannya ke jogja. tentu, setelah lemari di jogja selesai saya bangun. lihat, beberapa kardus di kubikel saya sudah mencuri space tidur saya. tapi saya tak ingin memikirkannya terlalu serius kok. begini sudah cukup. saya masih bisa memiringkan badan ke kanan dan ke kiri. kursi saya juga masih bisa berputar.

saya juga tak akan memberati diri dengan memikirkan yang serius-serius soal meja yang –selalu saya keluhkan– tak pernah rapi dan bersih. seperti meja acong, misalnya. atau, meja mas marga kala cuti datang. tidak. tidak. rapi atau tidak rapi. tak jadi soal kok. yang penting, saya masih bisa meletakkan notebook di meja dan menggeserkan mouse dengan leluasa. itu saja.

saya juga tak memikir-mikir terlalu serius kapan saya akan menikah. hahaha … semuanya kan ada rentetannya. misalnya, memilih belahan jiwa dulu, kemudian membikin fit and propper test, dan menentukan pemenang. setelah itu, baru menjajal beragam kemampuannya, dari menyetir, memasak, membawakan belanjaan, hingga mengantar-jemput. kalau sudah lulus tes kemampuan itu, baru bikin undangan kawin … dan menikah secara sah baik secara surat maupun urat. wakakaka …

saya juga tak akan memikir dengan serius bila beberapa teman memiliki barang lebih canggih, atau pakaian lebih fashionable. sejak saya tahu ibu saya meninggal dengan tidak mengusung apa-apa kecuali pakaian yang melekat di tubuhnya, saya selalu meyakinkan diri saya bahwa yang paling berharga dalam hidup adalah hidup itu sendiri. dus, tak perlu iri, tak perlu sirik, atau tak perlu berlomba dengan mereka.

saya juga tak lagi memikirkan dengan serius kenapa komputer saya tak kunjung datang ke meja saya. hahaha … ini lo, kerja kantoran kok ya masih pake laptop sendiri. hallah …

yang saya seriusi sekarang ini hanya satu: mencoba melangkah satu demi satu atas resolusi yang sudah saya bikin untuk tahun 2007 ini. serius! sungguh! beneran! hmmh … iyaa!

Written by femi adi soempeno

January 8, 2007 at 4:42 pm

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. wah, perlu belajar ke kamu aku Fe! eh …Fem xi xi xi

    Uare

    January 12, 2007 at 2:31 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: