The red femi

Lift up your heart, flow with the year 2007

with one comment

kalian punya buku harian?

dulu, saya punya. setiap awal tahun, saya selalu menyiapkan satu buku agenda yang sudah bertanggal dengan khusus, dan saya tinggal menulisi halaman putihnya saja. saya selalu giat mengisinya. mencoretinya dengan cerita-cerita garing, basi, ceria, sedih hingga keriaan yang tak bisa saya tahan.

tetapi memasuki bulan ketiga, atau keempat dan seterusnya, agenda itu selalu kosong melompong. buku harian itu tak lagi sebagai halamn putih yang menyimpan banyak cerita dan jejalin sebuah masa. hilang. habis. saya mulai malas mengisinya. alasanya klise: nggak sempat, atau capek, atau malas.

semalam, saat berkereta ke Jakarta, saya duduk sebelah menyebelah dengan lelaki tengah baya yang kemudian saya kenal sebagai orang yang bernama ananta. dalam sebuah penggalan ceritanya, ia menceritakan buku harian yang ia miliki, lengkap dari tahun ke tahun. tetapi, satu memori hilang bersama dengan raibnya satu buku harian. periode yang tak berjejak itu menunjuk pada tahun 1992. dalam emosi yang termuntahkan, ia begitu menyesalkan hilangnya buku hariannya, meski ‘hanya’ setahun saja.

padahal, saya sudah bertahun-tahun ‘menghilangkan’ guratan cerita dalam hidup saya. persisnya, saya sengaja tak menulisi halaman buku catatan harian.

hingga saya mengenal blog ini dan menjadikannya layaknya sebuah catatan pinggir dan celoteh pribadi. narsis? bisa jadi iya. tetapi, saya tak terlalu memikirkannya terlalu serius. hehe … males aja. yang penting, saat libido menulis saya sudah diujung, saya tetap punya halaman putih untuk saya tulisi dengan cerita aapaaaa saja. termasuk, tentang ketidakpunyaan atas buku harian saya.

hmmh …

barusan, saya menengok buku harian dari starbucks. sampulnya begitu menggugah: lift up your heart, flow with the year 2007. saya hanya sedang menebak-nebak, apakah nasibnya bakal sama dengan buku harian saya lainnya, yang kemudian mandek di bulan ke tiga atau keempat.

Written by femi adi soempeno

January 8, 2007 at 5:17 pm

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. kata ‘buku harian’ memicu kesadaranku ‘tuk melompat ke masa-masa jadul di asrama. Sepotong pagi, selama 15 menit, setiap misa pagi, adalah waktu untuk menulis buku harian. Masih ditambah petang hari waktu rohani atau malam hari sebelum merajut mimpi. Itu dulu. Pernah setelah masa asrama usai, aku mencoba meneruskan tradisi buku harian ini. Tapi, berhenti di tengah jalan. Lebih tepatnya, angot-angotan (musiman saja). Satu tahun belakangan, tradisi buku harian itu tidak aku hidupi. Paling-paling, cuman bikin catatan kecil di laptopku. Termasuk, kalau mau, aku posting di blog.

    Ada sekitar tujuh buku harian yang masih tersimpan rapi di dus di pojok kamarku. Geli juga saat membacanya kembali. Lucu. Polos. Melankolis. Tapi, indah juga. Hue he he, mungkin, perlu juga, kalau ada kemauan, aku menyalinnya jadi dalam word dan bisa dijilid sendiri. Yah, alih-alih sebagai pelengkap obituari jika kelak kematian datang menyapa….

    peziarah muda

    January 9, 2007 at 4:20 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: