The red femi

Teras, depan rumah

with one comment

Sepucuk undangan mendarat di meja saya.

Undangan itu sangat istimewa. Juga, datang dari orang-orang yang istimewa. Paimun, Bram, Aan, Bimo, Arun. Orang-orang yang berhati baik dengan sekotak kasih dan segudang senyum. Isinya, untuk menerobos malam, menghitung bintang, menggelak bersama, membuang letih, meletakkan harap, menabung keceriaan. Selebihnya, melenggokkan tubuh dan memberi secuil tanda pada masa muda.

Meski gelap, namun reriungan kecil ini tiba-tiba menjadi hidup dan semarak. Perjumpaan kembali setelah ratusan senja meningkahi kami dengan gelak dan gurau yang tak ada habisnya. Perbincangan dengan pohon. Liukan tubuh seirama alunan live music. Bahu yang terguncang saat selorohan menyeruak. ‘Papi’ Todi dan waiter yang bentuk tubuhnya menyerupai sapi. Duh.

Botol dibuka. Pitcher dituangkan. Gelas berdenting. Cocolan garam dan jeruk nipis. Sruputan malam.

Teras sudah mencatatkan semuanya. Iya, di Teras ini kami kembali bertautan usai tumpukan pekerjaan dan sebundel skripsi. Disinilah saat-saat terbaik berbagi ceria dengan teman. tanpa komputer. Tanpa buku-buku. Tanpa temu janji. Tanpa pakain formal. Hanya kalian, apa adanya kalian.

Malam belum habis. Gelap semakin merdu menyanyikan nada terbaiknya dan menghasilkan lantunan malam, dan kompsisinya terpatri jelas di awan hitam yang lupa menerbitkan awan putih. Malam ini untuk kalian. Malam ini milik kita. Dalam hentakan musik yang semakin menggelora, dengan mudahnya kegembiraan tergapai. Kegembiraan ini saya taruh di reriungan kita ya, supaya kita bisa menikmatinya bersama-sama. Tolong, simpan satu dari kegembiraan yang kita punya malam ini untuk cerita di masa tua kita kelak.

Hey dengar!

Itu lagu terakhir!

Tangan bertautan. Kaki-kaki menjejak bumi. Badan melenggok. Berpelukan. Semuanya ceria. Keceriaan ini untuk kalian, hadiah dari si pemilik hidup yang menyimpankan bulir rindu yang menguap karena ritme kerja dan kuliah yang melonggarkan jejalin persahabatan ini.

Mata saya mengerjap. Tubuh saya ringan. Badan saya terjungkal-jungkal. Saya kehabisan kata-kata. Beruntung saya punya kalian yang menggotong saya pulang.

(ps: terima kasih untuk arun dan paimun. Saya tahu, saya habis tanpa kalian. Terima kasih untuk es jeruknya. Lain kali, pesannya dua gelas, bukan hanya satu gelas saja.)

Written by femi adi soempeno

January 22, 2007 at 8:41 am

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. pesenin es jeruknya jg yah🙂, kripiknya aku malah belum tahu hehhehe

    Hery Martono

    January 25, 2007 at 4:54 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: