The red femi

Semuanya tak sama

with 2 comments

Hari ini saya dipenuhi dengan kejutan yang tak saya inginkan.

Iya, rasanya April Mop datang terlalu pagi. Ini kan baru bulan Februari. Kejutan itu tiba persis di meja saya tanpa pita warna-warni. Tanpa paper bag berbentuk kepik merah berbintik hitam. Tanpa ciuman di pipi dan ucapan atas ulangtahun-kelahiran-selamatlulus.

Siang tadi.

Yang ada, “Gue minta maaf … gue nggak membela (diri) …”

Ia berujar lirih begitu.

Bayangkan. Tubuhnya membungkuk berlurusan dengan meja saya. Wajahnya persis di samping wajah saya.

Saya menangis.

Saya menangis lagi.

Dan saya terus menangis.

Kamu tahu, ‘Patah hati’ kali ini bukan seperti bilahan bambu yang terbagi dua. Bukan. Bukan juga puzzle mickey mouse dan donal bebek berukuran 20 x 30 cm yang tersenggol dan jatuh ke lantai berserakan. Bukan. Bukan pula chocolate bar yang sudah terbagi per bagian sesuai dengan ukurannya sendiri-sendiri. Bukan.

Ini seperti celengan ayam yang terbikin dari tanah liat yang sengaja dihentakkan ke lantai. Pecah. Menjadi puing halus. Kembali menjadi tanah. Kecil-kecil. Butuh waktu yang tak sebentar untuk merekatkannya dan menjadikannya utuh seperti celengan ayam. Memilih remahan jengger. Memasangkan cucuk ayam. Menggabungkan badan ayam yang gemuk. Menghimpun semua serpihan itu menjadi celengan ayam seperti semula.

Celengan itu isinya rindu. Cerita. Rasa-ingin-bertemu. Hangat. Sandaran bahu. Senja sore yang mengkilat. Fajar di Kuta. Frapucinno Java Chips Venti. Rokok esse mentol dan Marlboro merah. Semringet. Gelak tawa. Sumringah bahagia. Rencana masa depan.

“one last chance … ” ujarnya, masih lirih.

Bukan takut terdengar yang lain.

Hanya ingin membicarakannya berdua.

Karena yang lain tak berhak tahu.

Tentang persaudaraan-persahabatan yang terjadi diantara kami.

“kita kan pernah mengalami seperti ini, pas gue sampe ngejar-ngejar elu di taksi dulu, pas kita di mobilnya ulin …”

Iya. Kita dulu pernah mengalami ‘masa sulit’ seperti ini. masa dimana kepala ini begitu keras. A adalah A, dan B bukanlah N. butuh waktu yang tak sebentar untuk membuat hati ini sedikit lebih longgar, menyejukkan napas dan membikin hati lumer. Rasanya pengen berlari ke atas bukit, dan berteriak lepas, “Gue cuma punya lo disini! Nggak ada siapa-siapa lagi, kecuali lo!” sayangnya, tidak bisa. Bahkan dia pun tak lagi saya punya.

Sejak sore tadi saya mencoba untuk lebih biasa dan kembali pada masa sebelum hari rabu lalu. Sulit. Dan pasti tak sama. Besok, pasti juga tetap tak sama. Setidaknya, gudang pasir itu kini mulai terayaki lagi. siapa tahu, bila digosok akan menjadi tambang berlian.

Written by femi adi soempeno

February 12, 2007 at 4:28 pm

Posted in Uncategorized

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. ngger cah ayu, tangismu ki tangis seneng po senep je? wis wis.. dilereni tangise.. iseh akeh sing kudu diomani tangismu. halah..

    mbahmu!

    mbah atemo

    February 12, 2007 at 5:11 pm

  2. hueheuhe…aq ga ngerti ceritanya apa..tp aq suka cara berceritanya..bikin novel aja po mba’q..huahua..^^v

    HuN

    February 13, 2007 at 4:48 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: