The red femi

Menabung rindu untuk ayah dan ibu

with 7 comments

Tabungan rindu untuk ayah dan ibu sudah penuh.

Satu.

Dua.

Dan … sepertinya tiga.

Iya, hampir tiga minggu ini saya belum menjenguk mereka.

Membasuh kaki ibu dan ayah dengan lap dengan air hangat dan sabun wangi. Memerciki badan mereka dengan asap wewangian yang keluar dari dupa panjang. Meletakkan seikat kembang aster atau mawar persis di sebelah mereka. Kemudian, mereka akan tersenyum dan berucap terimakasih untuk kunjungan si bungsu. Mereka kemudian duduk sebelah menyebelah, sementara saya menyesaki ditengahnya. Dan saya memulai cerita dengan ujaran, “Dad, mom … You know … bla bla bla …”

Saya berbicara. Dan saya terus berbicara. Seolah mereka sungguh ada ditengah saya. Dan menyingsingkan kuping mereka untuk cerita-cerita saya.

Tentang tulisan yang harus saya kerjakan di gudang kata-kata tempat saya bekerja. Senja yang bundar dari balik pancuran minyak Shell di bilangan Pancoran. Dilmah tea rasa nyentrik yang saya angkut dari Sogo. Rasa malas yang hinggap saat mbak jum tak mendagangkan sayurnya. Ipod shuffle yang belakangan sering tersangkut di kuping saya. Gelak tawa Esti yang saya simpan dari jejaring kabel telepon. ‘Antep’ di pantat saat kaki ini terpeleset di kamar mandi. Gudang tanaman yang bersih di kebun ayah.

Bayangkan.

Mereka menyimak.

Mereka mendengarkan.

Ayah akan mengerenyitkan dahinya saat mendengar cerita tentang si bungsu yang sakit. Atau, menggeleng-gelengkan kepalanya saat cerita kemalasan itu mampir ke telinganya. Aduh. Sementara, ibu hanya diam, dan sesekali tersenyum. Setelahnya, sejumlah nasihat muncul dari bibir tipisnya. Hingga butiran bening ini menetes dari sudut mata. Tanpa terencana. “Ayah dan ibu pasti sangat tahu, betapa si bungsu yang bandel ini kangen sekali berjumpa dengan kalian!” ujar saya kemudian, selalu.

Kisah tentang rasa rindu dan kangen ini tak ada habisnya. Barangkali, karena sejak dulu sesuatu di dalam hati saya selalu berkata bahwa usia 20 tahun dan 26 tahun bukanlah usia yang ‘cukup dewasa’ untuk ditinggal orang tua. Rasa ‘masih terlalu kecil’ selalu melasak-lasak saat tabungan rindu ini mulai penuh.

Tiga minggu. Bukan waktu yang pendek untuk absen mengunjungi ayah dan ibu. Kalian tahu tidak seperti apa rasanya saat meninggalkan rumah mereka setelah kunjungan itu dan menoleh ke belakang sejenak? Ada rasa bahagia yang tinggal. Dan, ‘amunisi bahagia’ itu hanya cukup untuk seminggu, bukan tiga minggu.

 

 

 

Written by femi adi soempeno

February 13, 2007 at 1:03 pm

Posted in Uncategorized

7 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. selamat hari kasih sayang ya bune…
    di saat yang indah ini, aku ingin kamu tau
    kalau aku bersyukur banget menemukan dirimu di sampingku, tak kan kubiarkan dirimu lepas dariku!

    halah!
    aku sayang kamu buNe!
    wakakakakakakka

    18 aku ke yk

    pakNe

    February 13, 2007 at 2:06 pm

  2. Fe, sepanjang hidupku aku tidak pernah merayakan Hari Valentine. Hari berjalan begitu saja seperti matahari. Tidak ada cokelat. Tidak ada wine. Tidak ada kue. Tidak ada mawar merah. Tidak ada kecupan. Tidak ada kado dengan sampul bertabur gambar cupid. Tapi, Fe, hari ini, aku mengirim setangkai mawar elektrik untuk seorang gadis muda. Aku tidak kenal dia. Tapi, aku pastikan pernah melihat wajahnya. Hari ini, gadis muda itu mati. Muntah darah. Mawar merah mungil bagi gadis muda itu adalah mawar Valentine pertamaku. Di samping mawar itu, aku tuliskan: Pasti Velentine-mu jadi penuh sekarang!

    musafir muda

    February 14, 2007 at 9:44 am

  3. hmm benar bila rindu itu terasa berat. bukan hanya untuk diri sendiri namun orang yang di seberang sana.

    benar satu minggu tidaklah lama, namun kisaran waktu emanglah relatif. E=m.c2, kan?

    hmm… aku pernah meninggalkan Yogya untuk dua hari dua malam. dan sebuah telepon di ujung seberang dari rumah hanya berisi keheningan, simbok tak mampu berkata-kata lagi karena merasa rindu tak tertahankan… lebih karena takut kehilangan…

    rasa yang tak nyaman di hati, namun patutlah disyukuri karena artinya kita masih punya hati yang hangat, belum membeku sekeras kehidupan ini.

    selamat hari valentin juga untukmu…
    selamat tahun baru (lagi – imlek) untukmu…

    munggur

    February 15, 2007 at 4:37 am

  4. simpan dulu rindumu, jadikan telaga, cuk..

    atemodikoro

    February 18, 2007 at 11:02 am

  5. kalo berjauhan sama orang yg kita sayang pasti gitu, kangen. Coba deh serumah ma ortu, pasti biasa aja, malah kadang suka brantem mulu (eh, itu mah gue yaa… hehe).

    Btw makasih ya dah mampir ke blogku, maap juga ni baru mampir skrg, soalnya bbrp minggu ini aku coba msk WP gak bisa… blog sapa pun itu, hiks…

    rey

    February 20, 2007 at 4:34 am

  6. gemar menabung pasti untung *hihihihi*
    slamat rindu n saya juga rindu postingan berikutnya hahahaha

    cyn

    February 20, 2007 at 4:09 pm

  7. aduhh jeng Femi… maap yaa… aku gak tau ternyata demikian. Gue aja nih bacanya gak cermat, sori yaa… sedih juga… :((

    rey

    February 21, 2007 at 1:25 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: