The red femi

Hati saya terbawa puting beliung

with one comment

 

Kalian pernah kehabisan hati?

Mmm … atau, hati kalian hilang? Eh, atau, hati kalian terbang entah kemana? Yak. Ya, tepat begitu, hati kalian terbang entah kemana?

Saya pernah. Kemarin sore, hingga semalaman sampai saya jatuh tertidur. Hati saya terbang entah kemana. Barangkali, terbawa bersama angin putting beliung di Jogja. Tiba-tiba saya hati saya bersayap, dan mengepak dengan bebas. Itu terjadi kurang satu menit setelah kaki saya menginjak stasiun lempuyangan.

Awalnya adalah guyuran air dari langit dari si pemilik hidup. Aih. Rupanya si pemilik hidup terlampau bersemangat menyirami tanaman-tanaman yang ada di bumi. Dus, air seperti diterjunkan seperti si pemilik hidup tengah membuang hajat dengan leluasa. Plus, tiupan angin super dahsyat. BagiNya, bisa jadi tak begitu dahsyat. Tapi bagi tanaman yang ada di bumi ini. Wow.

Saya terus mandi. Saya mencuci. Saya beberes rumah. Menyiapkan diri untuk pulang ke Jakarta.

Reriungan saya lihat dari kejauhan. Macet. Mungkin razia. Mungkin kecelakaan. Sementara, sopir ambulans giat menginjakkan pedal gasnya.

“Saya harus segera kembali ke Jakarta, pak. Saya harus memarkirkan kendaraan saya di seberang stasiun!”

“Nggak bisa jalan. Pohon jatuh. Tiang listrik jatuh. Jalan ditutup! Kalau maksa masuk, cari jalan lain!”

Bah.

Dari pertigaan stasiun, saya melihat bagaimana pohon yang diameter batangnya satu pelukan orang dewasa, bergelimpangan di jalan. Gosh.

Saya kemudian bermetamorfosis seketika menjadi perempuan kerdil yang superpanik. Kepanikan pertama, saya gagal kembali ke jakarta. Kepanikan kedua, what the hell is this in Jogja?

Saya memutarkan kendaraan. Saya gas kencang ke arah Bintaran. Persis di perempatan, saya menjumpai pintu UGD RS Bethesda Lempuyangan padat dengan rerubungan orang.

“Ndut, Joko mana? Anterin ke stasiun! Eh, ini ada apa sih, semua pohon jatuh …?

“Ada di dalam. tadi ada angin besar, fem. Angin putting beliung … besar banget … bla bla bla …”

Saya menggeret Joko dari dapur dan menyurungkan kendaraan saya. Saya harus kembali ke jakarta. Saya tak ingat dan tak mencatat dalam ingatan apa yang diceletukkan Yani, sahabat superbaik itu.

Dan saya sampai di stasiun dengan diantar Joko.

Saya masuk.

Gelap.

Tak ada penjaga peron seperti biasanya.

Nyaris tak ada pedagang.

Beberapa sibuk berkemas.

Beberapa membereskan lantai dan stasiun yang (ternyata) porak poranda.

Saya menengadahkan kepala ke atas. Alamak. Atap stasiun entah pergi ke mana. Bolong. Saya buru-buru menghampiri pedagang yang sedang mengepak dagangannya. Kelihatannya dia mau pulang. Helm sudah tertancap di kepala.

Perempuan setengah baya yang wajahnya nyaris tak bisa saya lihat itu bilang ada angin besar yang ngosak-asik stasiun Lempuyangan. Lebih dari itu, sang bayu bahkan mengangkat atap stasiun yang terbikin dari seng yang cukup tebal. Beberapa besi juga tampak terangkut oleh kekuatan angin itu. Bagian kayu patah. Menurutnya, beberapa bagian atap sudah menjatuhi penumpang dan pedagang yang kemudian dilarikan di rumah sakit bethesda lempuyangan.

Hingga kereta yang saya tunggu itu datang.

Kereta Bengawan.

Saya bergegas masuk. Pemandangan dari dalam kereta sungguh tak sedaap. Sepasang mata saya mencatat atap mushola stasiun Lempuyangan nyaris habis. Tinggal beberapa genteng yang masih nyangkut beserta kayu-kayunya saja. Mushola sebelah timur itu sepi dan gelap. Kelihatan juga atap tempat parkir orang-orang yang suka menginapkan kendaraannya di stasiun. Atapnya terkikis bayu. Hilang. Habis. Tinggal rangka yang terbikin dari besi saja. Sebuah rumah magrong-magrong di seberang stasiun hanya menyisakan rangka kayu saja. Gosh.

Itu sebabnya satu-satunya hati yang saya miliki mengepak terbang. Bisa jadi, terbawa angin dahsyat yang bernama putting beliung.

Written by femi adi soempeno

February 19, 2007 at 5:04 pm

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Kalau ikut terbang bersama angin puting beliung, wah jadi seperti Dorothy di Wizard of Oz. Dibawa terbang hingga ke negeri antah berantah.

    Tapi untunglah, lesus yang memporakporandakan ini tak sebesar dan seganas putaran angin F4 seperti di film Twister.

    Bila ya, bukan hanya atap stasiun. Jembatan layang pertama dan satu dari dua di Yogya pun bisa ambrol. Lalu tak ada lagi pemandangan menawan dari jembatan itu.

    munggur

    March 5, 2007 at 2:19 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: