The red femi

Selingkuh dengan abang

with 2 comments

Semalam saya ‘selingkuh’ sama abang.

Hahahahaha … abisnya abang bilang kalo tempat makan ini cocok banget buat selingkuh. Jauh dari pemukiman. Jauh dari perkantoran. “Cocok buat selingkuh!” hahahaha … saya lihat di sekitarnya, tempat makan yang kami tuju semalam tak memiliki tetangga kanan-kiri. Halaman parkirnya luas dan tampak teduh. Seperti di pinggir pantai yang banyak pohon nyiur tertancap. Rumput di divider menghijau tebal. Asri. Di dalam rumah makan itu, sorotan lampu tak begitu tajam. Hanya lampu remang-remang, plus lilin kecil di atas meja. Romantis. Barangkali, itu sebabnya abang menyebut tempat ini cocok buat selingkuh.

Abang membuang energy negatifnya. Bukan, bukan kekesalannya. Hanya menumpahkan nukilan cerita yang selama ini ia gudangkan. Otak atik gathuk. Saya mengenali nukuilan ceritanya. Saya tahu. Lebih dari itu, saya mengerti. Saya memahami.

“Ooo … yang waktu itu bla bla bla … ”

Atau,

“Ya ampun, jadi waktu itu kamu blab la blab la … ”

Atau,

“Lho, kejadian pas itu, kamu blab la blab la …”

Dan kami tergelak. Bukan, bukan karena cerita itu konyol. Atau, bukan karena ia menjadi orang yang supertahan menyimpan semuanya. Tetapi, karena abang telah menggudangkan harta karun itu, sementara saya hanya tahu sepotong dalam satu-dua tahun terakhir, dan saya kini tahu bagaimana sambungan ceritanya.

Gosh.

Ternyata ada banyak hal terjadi bersamaan dengan masuknya tahun 2007, usia yang sudah mencapai ‘separo hidup’. Usai berputar di dalam labirin dan lupa memberi tanda silang pada batang pohon serta meletakkan batu dibawahnya, ia sudah mengambil keputusan.

Abang mulai melarung sedih. Abang mulai melangkah. Menata hari. Ia adalah pemilik kisah tentang sebuah jejalin hati yang sejenak terkoyak. Mimpi yang harus dipupus. Revisi cetak biru. Hidup yang tak boleh jalan ditempat. Kalender yang selalu menunjukkan ‘hari esok’.

Agaknya abang tahu betul, hidup ini memang tidak statis.

 

(ps: lain kali, jangan ke-pedean mengajak adiknya ‘berselingkuh’ di outlet wine yang belum buka. masih ditata. lantainya pun masih diplester dengan kardus. Semua orang juga masih mencopot sandalnya untuk masuk ke sana. Lemarinya belum well done. Plang di bagian depan juga baru dipasang kemarin. Bisa jadi, wine nya masih ada di tanjung priok sana. Hahaha … Untung saja, abang kencan dengan saya, bukan dengan yang lainnya. Kalau dengan yang lainnya, bisa-bisa abang sudah habis karcis daaah …)

Written by femi adi soempeno

February 21, 2007 at 9:36 am

Posted in Uncategorized

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. mbahmu cemburu..😛

    atemodikoro

    February 25, 2007 at 1:12 pm

  2. wah itu abangnya perlu dikasih kartu kuning biar nggak bikin salah lg hihihihi

    Hery Martono

    February 28, 2007 at 5:00 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: