The red femi

Terus menangis terus

with 3 comments

Saya tak pernah bisa menemukan jawaban, mengapa saya masih terus saja menangis saat mengunjungi mereka.

Kemarin, dua buket bunga aster berwarna merah marun saya gotong dari Jogja ke rumah ayah dan ibu. Rumah mereka bersih, rapi. Memasuki halaman rumah mereka, keceriaan masih membungkus langkah saya. “Hello dad! Mom … ” seperti biasanya.

Dan saya memunguti beberapa bunga kering yang ada di pekarangan mereka. Dan saya masih terus berbicara dengan mereka. Saya berceloteh tentang matahari yang hangat yang saya petik dari langit Mboro. Saya juga bercerita tentang harum angin dan pepohonan saat saya menerjang aspal rusak dalam perjalanan ke Mboro. Pada mereka saya bilang, usai liputan ke Mboro saya membungkus satu selimut putuh bersih dan hangat.

Saya duduk di teras. Ayah dan ibu mengamati saya lekat-lekat. “Kalian sedang apa?” tanya saya. Kemudian saya lihat mereka saling berpandangan dan tersenyum ke arah saya.

Ayah, ibu. Saya sudah bilang sama Dia supaya selalu memberi kalian rasa bahagia yang tak berkesudahan. Saya juga sudah minta Dia untuk menyetip kesalahan-kesalahan kecil yang pernah kalian bikin. Misalnya, memarahi Esti dengan menabok-nabok pantatnya saat dia masih kecil dulu, melarang si bungsu ini berhujan-hujan, memarahi si bungsu karena sering pulang larut, memarahi lantaran si bungsu merusakkan panci.

Tetapi ayah, ibu, saya juga bilang terimakasih sama Dia karena sudah memberikan kalian untuk saya dan Esti. Elusan kasih kalian. Kebesaran hati kalian. Kecupan tengah hari kalian. Dalam dua tangan yang menari di atas keyboard computer ini, juga menitis darah kalian.

Saya menangis. Sampai butiran bening ini habis.

Sejatinya tabungan selama seminggu ini bukanlah tabungan tangisan yang akan saya pecah di depan rumah ayah dan ibu. Ini adalah tabungan rindu. Hanya saja, saya tidak pernah tahu mengapa saya masih terus saja menangis saat mengunjungi mereka.

 

(ps: saya meninggalkan buku saya di rumah. Ayah dan ibu harus baca ya!)

Written by femi adi soempeno

March 12, 2007 at 6:05 am

Posted in Uncategorized

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. *sepichles* ….
    andai bisa menitikan air mata untuk saat mencari kelegaan

    cyn

    March 21, 2007 at 7:19 pm

  2. Aku jarang menangis. Lupa menangis. Amnesia menangis. Saat jiwa kakek meloncat dari tubuh rentanya, aku tidak menangis. Saat adikku mengerang kesakitan lantaran ulu hatinya terbakar alkohol, aku tidak menangis. Saat ibuku menangis, aku tidak menangis. Aku memilih beku. Aku mencoba mengingat-ingat kapan terakhir aku menangis. Aku ingat sepotong waktu saat senyap dan kosong menjadi tamu di penghujung malam. Waktu itu, mataku becek oleh butiran kristal basah. Tapi, aku lupa aku menangisi apa atau siapa? Yang jelas, waktu itu aku pernah menangis…

    musafir muda

    March 22, 2007 at 5:52 am

  3. 2 musafir muda: been there n fortunately.. still doing that.. (tidak bisa menangis)

    cyn

    March 24, 2007 at 9:36 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: