The red femi

grogi, dan sejenisnya

with 3 comments

berbicara di muka umum adalah salah satu masalah yang saya kantongi.

seperti sabtu ini, saat saya harus berbicara sedikitnya lima menit dimuka mahasiswa, dosen, peneliti dan siapapun yang saya sendiri juga ga kenal. meski tebaran mata dan pandangan sudah saya lakukan, nyatanya tetap sama, kepala saya seperti ingin berbicara banyak hal. saya tahu, upaya saya tak berhasil baik.

rasa grogi, takut, minder, bingung, selalu menyergap saya dalam situasi begini. buntutnya, terkencing-kencing, deg-degan, gemetaran. satu sulutan rokok yang saya desain untuk mengurani (atau menghilangkan) grogi itu, nyatanya juga gagal. soalnya, lelaki yang saya pinjam koreknya bilang, “lho, kok baru sekarang ngrokoknya? kok enggak dari tadi? lha itu sudah mulai, semuanya juga sudah pada masuk!”

gedubrak …

iya, iya, saya tahu. setengah batang rokok itu akhirnya saya lemparkan ke bebatuan.

dan hajatan itu dimulai. saya berbicara dengan terbata-bata, dalam kalimat-kalimat yang tak terstruktur. kalau ayah tahu, pasti dia bakal marah besar. kalau esti tahu, wah, lebih-lebih, dia akan ngundhat-undhat ‘aib’ ini sampai kami tua nanti. wakakaka …

“aku gugup setengah mati,” begitu tulis saya di secarik kertas pada mas islah, si moderator. sontak, mas islah langsung membubuhi kata ‘depan pramuka’ setelah kata ‘… gugup …’ asem tenan. apa ada gugup depan pramuka? dan saya terkencing-kencing. dari jam 09.00-12.00, saya sudah membuang hajat saya sebanyak lima kali. wacks.

sejatinya, tak ada alasan bagi saya untuk ‘takut berbicara di muka umum’. sejak kecil ayah saya sudah melecut saya untuk menjadi perempuan yang berani menghadapi khalayak (cailah, bahasanya: khalayak!). mulai dari menyanyi, berpidato, MC hingga menjadi mentor atau guru-guruan. hehe … “latihan berani … ” begitu kata ayah.  

saya juga masih ingat persis, seragam cokelat kehijauan semasa duduk di sekolah menengah di muntilan dulu, saya sudah dilatih untuk berbicara di muka umum. ada satu kelas khusus, kalau tidak salah ingat, namanya sidang akademi. kelas sidang akademi itu untuk melatih anak-anak mengetahui permasalahan secara mendalam, menguraikannya dalam sebuah kertas kerja dan mempresentasikan di muka umum. nah, siapapun boleh bertanya, boleh mengajukan gugatan, dan boleh apa saja deh. nah, yang kebagian presentasi itu yang harus menjawab dan menjelaskan secara runut, jelas danterstruktur.

lhah, apa yang terjadi pada hari sabtu tadi? 

gemetar, terkencing-kencing, grogi.  

apapun itu, lelaki dengan jambang di pipinya yang tembem itu sudah mengantarkan saya pada sabtu ini. antaran itu bukan tunggangan si ular besi kelas satu di indonesia, tetapi pada sebuah ruang yang memungkinkan saya untuk berhenti sejenak dan memenuhi sebagian mimpi saya. terima kasih!

Written by femi adi soempeno

March 24, 2007 at 11:55 pm

Posted in Uncategorized

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. selamat, ya Fem … makasih juga udah dibagi ‘sebagian mimpi’-mu. ayo, ditunggu yang kedua, ketiga, dst …

    ika

    March 26, 2007 at 9:50 am

  2. top markotop. gut marsogut. jangan lupa melahirkan banyak ‘anak.’ Kan, banyak anak, banyak rezeki. congrats! Salam juga buat Kunto. Semesta memberkati!

    musafir muda

    March 28, 2007 at 3:19 pm

  3. mbak femi, terima kasih atas sharingnya mengenai sidang akademi. saya sedang belajar tentang sidang akademi untuk mendampingi siswa-siswa saya agar trampil berkomunikasi. terima kasih atas inspirasinya.

    benjo

    June 23, 2008 at 6:24 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: