The red femi

sensitif, dan terus sensitif

with 5 comments

setahun belakangan, saya menjadi orang yang lebih sensitif.

saat hendak bersiap-siap untuk liburan lebaran, mulut seseorang menyalak dengan garang. “lho, kamu pulang lebaran? kamu kan enggak ngerayain lebaran? lagian, di rumah jogja enggak ada siapa-siapa kan?” owh. iya, benar-benar. saya hendak pulang lebaran. juga, saya tidak merayakan lebaran. bahkan, dirumah jogja enggak ada siapa-siapa adalah hal yang sungguh benar.

tapi

apa iya saya nggak boleh pulang ke jogja dan berlebaran di rumah saja? apakah karena tidak ada seorangpun di rumah, saya harus merayakan lebaran di jakarta? dan saya menjawab dengan kemarahan yang tak juga tanggal. “hati-hati kalo ngomong ya. jangan mentang-mentang bokap gue nggak ada, terus gue nggak lebaran di jogja. gitu mau lo? trus, otak lo itu enggak mikir ya kalo gue punya rumah di jogja yang mesti gue rawat?”

dan lagi

natal tiba. saatnya kembali ke rumah, menyambut kelahiranNya dan menjumpai ayah dan ibu di rumah mereka. mulut seseorang, masih juga menganga dengan gaharnya. “ngapain natal di jogja, disini aja. dirumah kamu natal sendiri juga kan?” owh! iya. adakah natal yang lebih indah ketimbang natalan bersama keluarga? saya rasa tidak. natal bukan hanya bertoples-toples makanan di meja, tetapi juga Dia, dan keluarga.

sehingga

saya kembali memunculkan taring saya. “salah ya kalo gue natalan di jogja? salah ya kalo gue natalan sendiri tanpa bokap sama kakak gue? salah ya kalo gue nggak natalan di jakarta? siapa gue gitu lo, yang wajib natalan di jakarta. dan siapa elo yang nyuruh gue natalan di sini!” saya kesal. saya marah. jogja adalah bagian terindah dari rangkaian 52 minggu dalam setahun. natal atau tidak natal, jogja adalah bagian dari hidup saya yang menyejarah.

dan dua minggu lalu

seseorang bertanya kembali. “lo pulang besok?” saya jawab dan saya terangkan, saya butuh pulang untuk merayakan paskah di rumah. bukan hanya tukang koran dan bulik tari saja yang menunggu pembayaran rekening dari saya. tetapi juga Dia, dan ayah ibu saya. “ngapain lo pulang, disini aja paskahannya …”

dan dada saya sesak. bahkan kakak saya pun tidak mengatur saya dimana saya harus merayakan paskah. dan setahu saya, ayah juga tak pernah marah kalau saya memaksakan pulang demi merayakan paskah di rumah. “lo jangan ngomong gitu lagi ya. gue paling nggak suka kalo ada orang yang ngomong begitu ke gue …”

dan barusan!

“minggir-minggir … bagi dulu buat anak yatim … anak yatim nih …” kata seorang teman, dalam momen rayahan kue mandarin yang dibawa oleh seorang teman lain. bisa jadi, itu cuma becanda saja. bisa jadi, itu menjadi semacam permakluman agar minimal sepotong kue tetap tersisa buatnya. “jangan bangga lo jadi anak yatim … lo nggak pernah jadi anak yatim piatu kan?”

saya, kini dengan begitu mudahnya marah. tidak tidak, saya tidak marah padaNya yang sudah mengambil ayah dan ibu saya. saya hanya marah pada kamu, kamu, kamu dan kamu yang belum pernah merasakan bagaimana menjadi anak yatim piatu di usia yang begitu mudanya.

saya tidak pernah tahu, apakah esti, kakak saya, juga menghadapi situasi yang serupa dengan saya. sampai saya bertanya padanya, barusan. dia kemudian bilang, “woooooooo…nek koyo ngono kudu dikampleng mem!!! aku sensitif dalam hal tertentu, tur aku rung tau nduwe konco sing cangkeme koyo ngono! tur nek koyo ngono emang njaluk disantlap kok mem.”

saya bersyukur, seusia ini, Dia sudah memberi pelajaran yang begitu berharga pada saya: saya menjadi tahu bagaimana rasanya hidup tanpa ayah dan ibu di usia 26 tahun.

Written by femi adi soempeno

April 11, 2007 at 2:46 pm

Posted in Uncategorized

5 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. sing sabar Fem.. sensitif itu bagus, kok. berarti dirimu masih punya hati🙂

    ika

    April 12, 2007 at 6:39 am

  2. ngger, menungso ancen kerep le do waton-watonan..
    sing sabar wae…

    mbah

    April 12, 2007 at 9:03 am

  3. “you can try and understand, you can sympathize, but until you feel that loss” -from grey anatomy

    tapi kayanya si kamu, kamu dan kamu jauh dari rasa simpati ya.. hehehehe..

    sabar ya fem🙂
    *hugs*

    cyn

    April 12, 2007 at 7:47 pm

  4. sabar ya jeng…

    *hugs*

    NAD

    April 16, 2007 at 10:05 am

  5. Sing sabar yah neng… kadang membuat diri inibisa lebih siap ngadepin hidup adalah melalui orang2 yang negselin seperti itu.. somehow you gotta be able to put-up further with those kinds of personalities to step further in life.

    Wishing you success and hang in there.. you’ve got friends from that closest corner till the most further one in West Africa🙂

    Kampret Nyasar

    April 16, 2007 at 10:24 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: