The red femi

Buku kecil hijau

leave a comment »

Paspor itu meninggalkan kenangan tersendiri buat saya.

Iya, saya ingat betul bagaimana saya membikinnya bersama ayah saya, setahun silam. Sabtu yang terik, ditingkahi angin yang menggerahkan, saya melaju ke kantor imigrasi di Jogja untuk dua buah buku kecil hijau. Iya, paspor itu. Tukang cendol yang ada di depan kantor imigrasi tak membikin kami bergeming. “enggak ah, nanti minum di rumah saja,” kata ayah saat itu. Tahu sendiri, ayah pemilih soal membeli makanan dan minuman di pinggir jalan.🙂

Dan kami melalui proses panjang membikin paspor. Mengisinya satu per satu, mencermati setiap tahap orang-orang lain yang juga membikin paspor. Saat itu kami memiliki secuil mimpi: mereka-reka bagaimana menjejak Singapura dan Malaysia. “Jangan bikin paspor lewat calo, sama saja. Kamu tetap harus membawa ayah ke kantor imigrasi buat foto!” pesan Esti, kakak saya.

Dan kami berdua duduk menghadap petugas imigrasi. Mereka tampak cerewet dan bertanya banyak hal pada kami, tentang rencana kepergian kami. Tentang paspor yang mendadak dibikin untuk kepergian secepatnya. Tentang rencana liburan. Tentang uang simpanan. Tentang pekerjaan. Tentang kesibukan.

“Mau kemana? Ooo … ke Singapura dan Malaysia ya?” tanyanya. Saya hanya mengiyakan saja. Ayah hanya senyum kecil.

“Mau berobat?” tanyanya lagi. Kali ini saya menjawab panjang.

“Enggak, mau liburan saja …” kata saya. Dan ayah meneruskan. “Ini hadiah ulang tahun buat saya, dari anak-anak saya … Usia saya 78 tahun, sehat dan ke negara-negara itu hanya untuk piknik saja kok,” katanya, gagah.

Ceklek. Ceklek.

Kami dipotret. Dan paspor itu menjadi kian istimewa. Dengan senyum ayah. Wajah lelaki yang kian menua. Menipis. Senyumnya datar. Rambutnya dibiarkan memutih. Gurat bekas wajah gemuknya kelihatan. Saya tahu persis, ayah mengurus. Lengkung matanya cekung. Garis mukanya tampak jelas.

Setidaknya, persiapan perjalanan sudah dimulai. Bekalnya adalah buku kecil hijau. Bahagianya.

Dan saya mulai jatuh cinta pada Singapura bersama ayah. Saya juga mulai mengenal Malaysia bersama ayah. Di Singapura, paspor ini ditimang oleh petugas di gerai seven eleven untuk satu unit kartu telepon. Di perbatasan Malaysia-Singapura, paspor tak terbaca. Sesampainya di Jogja kembali, dua paspor milik saya dan ayah disimpan oleh ayah. Rapi.

Dan saya tak pernah menanyakan lagi dimana paspor itu ayah simpan.

Hingga saatnya tiba. Saat ayah mengepel lantai rumah yang terakhir kalinya. Meminta sepasang sandal baru dan celana pendek baru. Menanyakan keadaan rumah usai gempa besar. Hingga Dia menjemputnya.

Saya tak pernah tahu dimana paspor itu disimpan.

Bruk. Bruk. Bruk. Bruk.

Hati saya habis. Membongkar semua dokumen ayah, menatanya ulang. Mencari surat PBB. Mencari dokumen rumah tinggal. Dan saya menemukan dua buku kecil hijau. Paspor.

“Eh, aplikasi course program ini harus menyertakan fotokopi paspor lo!” kata teman saya.

Saya jadi ingat buku kecil hijau itu. Paspor yang saya bikin dengan ayah saat matahari masih hangat, setahun silam.

Barusan saya menjajarkannya, paspor saya dengan paspor ayah. Saya menjumputnya dari tas hitam kaku, tempat ayah biasa menggudangkan dokumen-dokumennya. “Babe tak perlu bawa paspor untuk sampai ke surga, dia sudah memilikinya sepanjang hidupnya. Jadi, paspornya nggak usah dimasukin di dalam peti. Mereka nggak akan menagih paspor yang ini,” kata Esti, sesaat sebelum ayah mangkat.

Written by femi adi soempeno

April 15, 2007 at 5:38 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: