The red femi

harga kehidupan

leave a comment »

berapa sih harga sebuah kehidupan?

saya mencoba menakarnya.

mungkin Rp 2000, seharga sebotol air mineral yang saya bungkus di setiap perjalanan saya di kereta api saban minggu. air mineral itu mengasup rasa haus yang berkepanjangan dalam perjalanan sepanjang hampir 12 jam. nyess … gerah dan rasa kering di tenggorokan akan luruh.

mungkin Rp 6000, seharga seporsi gado-gado yang sering saya beli di gado-gado Teteg, Jogja. harga segitu, saya bisa mengisi perut dengan irisan selada, tomat, telur, ketupat, krupuk, emping. segar. apalagi, dengan siraman bumbu kacang. mengenyangkan.

kalau tidak makanan?

mm … mungkin Rp 15.000, harga yang setara dengan menjadi penumpang gelap di kereta api kelas ekonomi jurusan Jakarta-Jogja. saya bisa menyandarkan kepala saya dan membisiki malam betapa saya sangat ingin segera tiba di Jogja. kalau ada rasa apek dan pengap di kereta, itu bonus.

mungkin Rp 20.000, harga yang setara dengan bunga aster yang saya bungkus untuk ayah dan ibu di rumah mereka. wanginya tidak berasa. hanya saja, warna merah marun, kuning, putih dengan kuncupnya yang banyak, membuat hati saya tenang.

mungkin Rp 275.000, harga yang harus saya bayar untuk sewa kamar di bilangan Slipi, Jakarta Barat. humm … bukan kamar sih tepatnya. tapi gudang.🙂 saya menggudangkan segunung kardus berisi buku, setumpukan kertas, dan selemari pakaian. selebihnya, beberapa pasang sepatu dan sandal jepit.

ada yang lebih?

takut. kuatir. cemas. gelisah.

ada. semuanya itu tidak bisa saya bayar berapapun harganya.

saya takut sakit. saya takut masa muda saya hilang dengan ringkukan di ranjang yang berkepanjangan dan di dera rasa sakit yang amat sangat. saya kuatir tidak bisa mencicipi rasa menjadi tua, yang seperti dialami oleh ayah saya hingga usianya mencapai 78 tahun. saya kuatir menjadi biang kerepotan keluarga karenanya. saya cemas bila satu per satu fungsi dalam badan saya tidak lagi bekerja selayaknya.

itu sebabnya saya menggelisahi diri saya sendiri. mudah? tidak.

tetapi saya tidak bisa membeli fungsi hati dengan ongkos Rp 2000, seperti saya membayar sebotol air mineral. saya juga tidak bisa mendandani kadar gula darah saya dengan Rp 6000 saja, seperti saya membeli sepiring gado-gado. saya juga tidak bisa membungkus pankreas dengan banderol Rp 15.000, setara dengan lipatan duit yang saya selipkan di tangan kondektur kereta api.

saya tahu, saya butuh sakit untuk membeli sebuah kehidupan baru.

Written by femi adi soempeno

April 24, 2007 at 9:56 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: