The red femi

berapa lama?

with one comment

berapa lama saya harus menyisihkan waktu saya untuk mengenal kamu?

sebulan. humm … dua bulan … enam bulan tidak, tidak. bisa jadi setahun, atau dua tahun … atau, hingga sepulangmu dari sekolah, sekitar 3,6 tahun lagi. dan, saat ini baru bulan ke tiga saya mengenalmu dengan rentang jarak 7641 km jauhnya.

tapi saya akan sabar menunggu kok. hingga masa itu tiba. perjumpaan kecil denganmu. reriungan dibawah langit gelap dengan gemintang menghiasinya. iya, saya pastikan saya akan sabar menunggu.

mencacah hari, saya akan mencoba mengenalmu. sedikit kemarahan. sedikit kekesalan. sedikit keriaan. sedikit buncah bahagia. sedikit kemanjaan. sedikit kerewelan. sedikit kecemasan. saya akan mengumpulkan remah-remah tentangmu dari setiap ke-sedikit-an itu. juga, mimpi-mimpi kecil usai 3,6 tahun terlewati.

kamu juga akan mengenal saya. bagaimana saya bisa berteriak kesal di sebelah kuping kamu. bagaimana saya membanting telepon dengan segenap kemarahan, kemudian menangis rapuh. bagaimana saya menarik manja bahumu untuk meminjamnya sejenak. bagaimana saya mengamitkan kelingking untuk meminta maaf. bagaimana saya mencermati setiap petuah bijak kamu. iya, hingga 3,6 tahun nanti.

tetapi kita membutuhkan satu hal saja: kesabaran.

4748 miles bukan jarak yang ciut kan? liukan kabel telepon memunculkan buncah bahagia dan menggerus tabungan rindu. tetapi juga bisa memunculkan setumpuk kekesalan dan isak tangis.

” … Im nothing for you …” katamu.

bukan, bukan. pasti, kamu keliru. sebaliknya, you are everything for me.

catat, bantingan telepon dan kekesalan itu hanya riak kecil. kita membutuhkan keduanya untuk sebuah perjumpaan dan untuk tinggal lebih lama. bukankah, Dia menggenapi kebahagiaan dan buncah bahagia dengan kekesalan dan isak tangis?

sayang, kita masih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengenal.

Written by femi adi soempeno

May 14, 2007 at 12:17 pm

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. hmm… riak kekesalan tanda tuntutan cinta. itu kata orang-orang tua.

    bila tak ada riak, bisa jadi tak ada buncah keriangan. setenang permukaan air yang membosankan.

    itu mengapa begitu banyak orang lebih menyukai berenang di ombak lepas. bergelombang penuh tantangan.

    semoga kalian berdua, saling mengenal lebih baik…

    munggur

    May 19, 2007 at 4:30 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: