The red femi

belajar angka

leave a comment »

namanya elke pickartz.

cantik, tinggi, langsing, putih, pintar. wow. paduan yang sangat sempurna ya. dia yang mengajari kami tentang angka. minggu depan dia juga akan datang lagi untuk mengajari soal central bank. huwh.

angka … angka … angka. BY di kantor juga selalu bilang, “jangan lupa angka!” atau, dulu sat masa-masa pertama belajar soal ekonomi wartawan-wartawan senior bialng, “kita itu menulis angkat, tapi kita nggak pernah pegang secara nyata angka-angka itu,” katanya. kemudian dia mencointohkan tulisan triliunan rupiah dan senyatanya para wartawan sendiri belum pernah liat uang segitu banyaknya.

tugas pertama adalah bikin berita dalam bahasa inggris berdasarkan press release dari BPS-nya jerman untuk kuartal pertama. Femi bikin berita dalam bahasa inggris? Hahaha … lagi ini! we, siapa tau abis dari KONTAN pindah ke New York Times. Hah?

hari ini teman-teman mulai liquid. alias, nggak semuanya harus jalan bareng. finally aku bisa jalan sendirian dari apartemen ke kelas, dan begitu juga sebaliknya. Modalnya Cuma peta dan harus lihat arah. Seperti di singapura atau malaysia. Cuma, ini lebih ribet dan di kanan kiri nggak semuanya bisa bahasa inggris.

Jeevan, teman dari India, naksir dengan kaos yang hari ini saya pake. Kaos ini putih, Cuma ada sablonan gambar dasi, jadinya kalau dari jauh seperti pake dasi. Ahahaha …. dia sudah nembung untuk memintanya saat pulang India nanti. Oalah mas … mas … ngerti ngono tak gawakke surjan. Hihhi …

saya kemarin beli roti tawar. Di plastiknya tertera Bauernschinitten, mungkin itu mereknya. Di bahwanya masih ada tulisan ohne konservierungsstoffe roggenmischbrot. Hayo, apa coba? Pas tak ambil dari bungkusnya, dingin. Terus, rasanya juga ga ada. Tawar banget. Pas tak celup ke teh manis, rasanya jadi kecut. Olala … buru-buru aku mengolesinya dengan strawberry jam biar agak beradab.

ternyata bentuk setiap apartemen nggak sama. Maksutnya, setiap kamar. Kemarin saya sempat mengeluh pada orin, soalnya ga bisa cebok pake air kalo abis pup. Hehehehe … tapi orin bisa! “caranya, kamu ambil tisue yang tebel lalu dibasahin di wastafel sebelah!” hah … lha wong wastafelnya itu ada di bagian luar je. Mosok ekeh-ekeh metu njuk ambil air di tisue. Hahahaha … repot … repot … thats why aku beli tisue basah. Harganya 1,5 euro untuk 150 lembar. Aku pup disini sehari sekali. Lumayan lah. Pup, bukankah salah satu indikator sudah krasan di suatu tempat?

Eh, ngomongin kereta, nggak bayar lo. Hummm … sebenernya sih bayar, 2.1 euro per single trip. Tapi aku nggak pernah liat ada pemeriksaan disini. Kata Daniella, sering tiba-tiba ada pemeriksaan acak gitu, tapi ga pada setiap gerbong dan nggak setiap saat Hehehe … kalau kereta di Indonesia namanya PS alias pemeriksaan serentak. Hahahaha …

disini orang yang naik sepeda juga bisa naikin sepedanya ke kereta. Tapi sepertinya nggak setiap gerbong bisa dimasuki sepeda. Soalnya ada tanda khusus gambar sepeda di gerbong tertentu. Dan mereka cuek saja bawa sepeda masuk, pating telalang gitu.

Written by femi adi soempeno

June 6, 2007 at 3:24 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: