The red femi

satu becak = satu xenia (2)

with one comment

Satu dasawarsa silam, Ludger Matuzewski, pendiri Velotaxi GmbH tidak pernah membayangkan perusahaan becak ini berkembang sedemikian pesat. Padahal, bekas project manager Dailmer Chrysler ini awalnya hanya ingin mendirikan perusahaan angkutan dengan moda bus kecil.

Hanya saja, Ludger harus mempertimbangkan beberapa hal untuk membikin taksi dengan bus kecil. Pertama, harga bahan bakar yang semakin membumbung tinggi. Selain itu, di Eropa gencar kampanye pengurangan CO2. Belum lagi, ongkos pembelian bus yang tak murah.

Maka terbersitlah di benak Ludger untuk mengotak-atik sepeda. “Kami butuh becak khas Eropa, pihak-pihak yang menyeponsori kami, perusahaan yang menyerap tenaga kerja dan kendaraan yang ramah lingkungan,” jelas Ulbricht.

Maka, disulaplah sepeda sehingga mampu mengangkut penumpang sebanyak dua orang dewasa. Becak ini kemudian diberi nama Velotaxi dan di klaim sebagai becak khas Eropa.

Lebih dari itu, angkutan publik dengan tiga roda yang dikayuh dengan kecepatan kurang dari 10 km/jam ini mempesona banyak pihak. Bukan Cuma turis saja yang kepincut menjajal becak Jerman ini, tetapi juga warga lokal.

Melihat animo masyarakat yang begitu positif atas angkutan ramah lingkungan ini, naluri bisnis beberapa perusahaan kelas dunia pun berjalan. Inilah kesempatan beriklan yang cukup efektif. Sama-sama diuntungkan, Velotaxi juga tak susah-susah mencari sponsor untuk mengongkosi perusahaannya.

Apalagi, usai pameran di Hannover tahun 2000, permintaan membeludak. “Kami memutuskan, hanya mereka yang memegang lisensi Velotaxi lah yang boleh membeli sepeda-becak buatan kami,” kata Klaus C Ulbricht, COO Velotaxi GmbH.

Becak Jerman mendunia

Konsep awal becak sebagai angkutan publik dan sarana tur bagi turis pun dilengkapi. Ludger Matuzewski sebagai pemilik Velotaxi membikin konsep partnership atau kerjasama kepemilikan lisensi Velotaxi. Maklum, peminatnya tidak hanya datang dari Jerman saja, tetapi juga diluar Jerman.

“Kami tidak pasang iklan dan tidak mengajak mereka berpartner,” kata Ulbricht. Sebaliknya, malah mereka yang mengirimkan surat permohonan menjadi partner Velotaxi.

Agaknya Ludger ingin memenuhi brankasnya. Tahu ada wilayah bahkan negara lain yang berminat dengan becak bikinannya, ia menyambangi wilayah atau negara tersebut dan tinggal untuk sedikitnya tiga minggu. Waktu ini digunakan untuk survey dan mengenali pasar. Peminat Velotaxi membutuhkan setidaknya 2-3 bulan untuk mendapat keputusan Ludger.

Di Jerman, Velotaxi harus memenuhi permintaan mulai dari Rostock, Hamburg, Dusseldorf, Koln, Frankfurt, Stuutgart, Munchen, Freiburg dan beberapa wilayah lain di Jerman. Tak mau kalah, negara tetangga juga kepincut dengan becak berdesain minimalis ini. Diantaranya Amsterdam, Prague, Roma, Athena, Ryadh, Jepang, dan Korea.

Khusus untuk Jerman, Ludger punya beberapa kriteria bagi mereka yang ingin berkongsi dengan Velotaxi. Kriteria ini dibagi menjadi kelas A, B dan C berdasarkan luas wilayah, jumlah turis dan calon penumpang potensial.

Kelas A, corporation fee nya € 5.000 plus ongkos lisensi tahunan sebesar € 3,000. Kelas B, corporation fee nya € 3.000 plus ongkos lisensi tahunan sebesar € 2.000. sedangkan untuk wilayah yang paling ciut, hanya dikutip corporation fee € 1.000 plus ongkos lisensi tahunan sebesar € 1.000. Angka itu masih ditambah ongkos komisi sebesar 3-7%.

Tapi si partner ini masih harus membeli becak dari Velotaxi. Untuk wilayah kelas A jumlah becak minimal 5 unit, kelas B 3 unit dan kelas C 2 unit. Coba hitung besarnya duit yang masuk ke brankas Ludger kalau satu unit becak dijual dengan harga € 8.300. Harga jual becak itu setara dengan si kembar Daihatsu Xenia-Toyota Avanza!

Belum puas dengan konsep diatas kertas, Ludger pun dengan lincah menjadi pemain anyar di bisnis angkutan umum ini. Demi merespon permintaan, ia mendirikan anak perusahaan yaitu Veloform GmbH. Perusahaan ini membawahi produksi dan perakitan becak di tiga negara. Kabin becak dibikin di Belgia, bahan dasar untuk becak dibikin di Cekoslovakia, dan perakitannya di Berlin, Jerman.

Bahkan sejak tahun 2004, perusahaan ini sudah membuka pasar yang lebih luas. “Bukan hanya pemegang lisensi saja yang boleh membeli becak dari kami, tapi siapa saja juga boleh,” kata Ulbricht.

Nah, Anda berminat mengusung Velotaxi ke Indonesia?

Written by femi adi soempeno

June 27, 2007 at 1:01 pm

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. lha yo mending Xenia to jeng! mosok becak. opo penak e. wong jerman ki jan pancen kentir. back to basic yang kemunduren…

    munggur

    November 15, 2007 at 11:30 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: