The red femi

Gosh … my broken english!

with one comment

ross tieman membikin saya gila.

whoops, saya bukannya tergila-gila dengan lelaki yang nyentrik dan cihuy itu, tetapi karena dia sungguh menginspirasi saya. “80 words in brief!” perintahnya, memaksa saya dan semua teman-teman disini menulis hanya dengan 80 kata saja.

tetapi dia cukup fair.

dia juga membikin sama dengan apa yang kami bikin. yaitu, dia juga bikin berita dalam 80 kata.  setelahnya, kami membaca satu per satu. membikin dahi berkerut. mencoba mencerna. sedikit menggelengkan kepala. meragukan lead.

ini bukan pelajaran bahasa inggris. tetapi pelajaran menulis berita dalam 80 kata.  dan ini tidak mudah (ternyata).

finalnya, saya wajib menulis sepuluh kali lipatnya. yaitu 800 kata. waduh.

dan saya mengawalinya begini.

Garuda Indonesia and TPG: An Unfolding Scenario

When I wrote about the crash of Garuda Indonesia aircraft on landing in Yogyakarta last March, I was imagining that this airline company would be takeover by private equity and hedge fund investors. More than just a bankrupt and un-safely company, they would see the jewels inside.

dan saya mengakhirinya begini.

The dispute of TPG and Garuda has not end. It becomes an unfolding scenario. But. with or without TPG, Garuda must runs well and knows how to land safely. So, as an Indonesian, I would not imagine that this airline company should be takeover by private equity firm.

tapi nyatanya masih banyak keliru. “Jumping and jumping …” kata Ross. oh.

dan saya mengadu pada BY, chief editor saya, dan esti, kakak saya.

“Resep manjur yang paling gampang, sering-seringlah baca tulisan dalam bahasa inggris. Tak harus tulisan yang serius, novel pun sama efektifnya. Saat membaca kita akan mengenali sesuatu yang paling penting dalam berbahasa: logika dan cara berpikir….” kata BY.

kemudian dia bertutur tentang banyak hal.

soal tata bahasa dan pola pikir.

“Dalam mempelajari bahasa inggris, kita biasanya lebih terpaku pada grammar daripada pola berpikir ini. Padahal, akan sangat penting bila pola berpikir kita yang lebih menonjol ketimbang grammar, karena di situ orang akan menilai kita sebagai penulis dalam bahasa inggris yang lebih baik. …”

juga tentang bruce willis dan hugh grant.

“Yang jelas, tak usah kecil hati dengan broken english. Dunia sudah semakin menerima bahwa sebagai bukan native, kita jelas tak akan bisa menulis sebagus orang Inggris. bahkan akses bicara pun juga kian beragam dan tidak lagi dianggap sebagai kekurangan. Tapi sekali lagi, memang gaya bicara Hugh Grant pasti jauh terasa lebih sophisticated ketimbang Bruce Willis. Maklum saja, wong nenek moyangnya Hugh Grant itu yang menciptakan bahasa ini, sementara Bruce Willis kan  sudah keracunan aksen-aksen non standar. Tapi sekali lagi ini bukan lagi a big deal dalam pergaulan internasional…”

hingga soal mimpi kecil.

“Dari membaca itu, lama-kelamaan, kita akan lebih mengenali expression style yang lebih nginggris ketimbang Inggris jawa dan pasti akan terbawa untuk menerapkannya. Dan juga, yang penting, kita kudu sering-sering nulis dalam bahasa inggris. Kalau enggak, ya skill ini ilang lagi…nanti aku bikinin Kontan in english deh ….don’t worry…”

terima kasih, BY. merci, Ross.

Written by femi adi soempeno

July 21, 2007 at 1:19 pm

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. jumping and jumping? sounds familiar to me hehehehe..
    gw banget😉

    cyn

    August 6, 2007 at 3:41 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: