The red femi

saya membasuhnya

with 2 comments

saya membasuh kaki ibu. di teras rumahnya. juga, membenahi atap rumah ayah.

perjumpaan saya dengan mereka hanya sebentar. sebentar sekali. saya membawa sebotol air bersih dan lap hijau. keduanya untuk membersihkan rumah ayah dan ibu. saya mengusapnya, pelan. masih ada debu yang merangkak di rumah keduanya.

“Ibu, femi pulang. maaf, si bungsu nggak bawa kembang …”

kembang adalah tanda. tada keterwakilan akan sebuah kehadiran. tapi siang ini saya datang tanpa jejak kembang crysant seperti yang biasanya saya bawa. tapi tanpa kembang, tak mengoyak cinta. saya tetap menyebrangkan rasa rindu dan meninggalkan jejak cinta di teras rumah mereka. “femi kangen kalian …”

rasa bahagia (bukan gembira) selalu menancap setiap weekend tiba. langkah sumringah selalu saya ayunkan memasuki pelataran rumah mereka. spontan. otomatis.  ujung minggu tiga tahun belakangan telah mengajari saya pulang tanpa rasa letih. ujung minggu si bungsu ini milik ayah dan ibu. ayah dan ibu yang tidur sangat panjang. tidak bangun kembali. hanya melemparkan salam dari dalam rumah. ibu yang mengenakan baju hitam bercorak bunga merah jambu. ayah yang mengenakan batik hijau, pilihannya sendiri. nafasnya terhembus lewat padatnya tanah dan terik bola raksasa setiap ujung minggu ini tiba. untuk si bungsu.  

kali ini tidak ada bulir bening yang mencuat dari ujung mata. saya tersenyum untuk ibu dan ayah. saya membasuh kaki ibu. juga, membenahi atap rumah ayah. “kalau si bungsu bisa berguna buat orang lain di Jakarta saat ujung minggu tiba, biarkan si bungsu melesatkan doa dari gereja di Jakarta ya …” 

Written by femi adi soempeno

September 2, 2007 at 11:05 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. u have the gift to change something simple n making it beautiful fem.. 🙂

    *am so touch*

    cyn

    September 3, 2007 at 5:49 am

  2. bukan… bukan di bangunan suci itu tempatmu berdoa pada bapak dan ibu. tapi di sini… ya di kota ini, yang bukan kota tempatmu menjadi kuli, bersama orang muda, yang ingin bertekun dalam tangan, di saat kau berbagi halaman, dengan kau mengusap kata hati mereka, kau mengusap kaki ibumu. pulanglah di akhir pekanmu, selalu. kita bikin sesuatu. pulanglah ke kota ini. kota ini.

    Kunto

    September 4, 2007 at 7:02 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: