The red femi

life is full of choices

with one comment

“life is full of choices …”

ungkapan itu tertera dalam sebuah poster besar bergambar bir yang pernah saya jumpai di berlin beberapa waktu lalu. poster itu memuat puluhan, mungkin juga ratusan, gambar bir dari penjuru dunia. great! hidup itu banyak pilihannya. seperti memilih satu dari sekian banyak merek bir, begitu juga hidup.

memilih menjadi seperti yang sekarang, bagi saya juga bukan perkara mudah. sama susahnya menentukan mana yang lebih enak: heineken atau bintang, atau kolsch atau becks. tapi saya harus memilih satu dari keduanya. hidup selalu ada di persimpangan.

menjadi 27 tahun seperti sekarang ini, tentu dengan sejumlah rekaman peristiwa di belakang. tautan itu juga jelas: karma baik dan karma buruk. konsekuensi dari setiap karma itu berbuntut, hingga hari ini. tahun ini sudah hampir habis. dan kemudian menjadi 27 tahun, berpekerjaan layak dan masih jomblo, adalah serangkaian buntut dari pilihan yang sudah saya ambil.

memilih bekerja di Jakarta. pilihan ini berbeda dengan kakak saya yang lebih memilih tinggal di Jogja pada saat saya berangkat ke Jakarta empat tahun silam, atau dia yang memilih tinggal di US saat ini. memacu adrenalin sebagai anak muda perantauan di ibukota, agaknya itu pilihan yang saya ambil. sementara, Jogja ada ujung minggu dan masa tua.

memilih menulis sebagai sesuatu yang membikin hidup menjadi lebih hidup. saya ingat betul kata-kata shanty beberapa waktu lalu, “lo itu multi talenta, tapi lo memilih satu bidang yang lo itu fokus banget …” saya tahu apa yang dia bilang. dia ingin mengatakan: menulis.

memilih gaya pakaian yang itu-itu saja. hingga saya sendiri tak peduli, apakah orang bosan melihat saya yang kemudian menjadi begitu-begitu saja.  kaos oblong, celana panjang jeans, sepatu kets, kaos kaki yang berbeda kanan dan kiri. selebihnya?kemeja atau sandal gunung maupun flat pantofel. hasilnya? ya begini-begini saja.

memilih pergi dengan abang ketimbang dengan teman-teman. eh … ini mah bukan urusan permodalan. soal permodalan untuk kongko, kami selalu bergantian. kami hanya saling membutuhkan kuping untuk saling mendengarkan dan didengarkan. kami juga hanya saling membutuhkan ruang untuk tertawa lepas dan meminjam bahu untuk menangis sebentar.

memilih pulang di ujung minggu. dulu, ada ayah. tak ada ayah pun saya tetap pulang.  “kalo gue bilang home sweet home, lo mau bilang apa?” tanya saya pada teman yang selalu menggugat kepulangan saya. dan saya capek, meski saya nggak ingin bilang saya capek. tapi ada yang lebih besar artinya ketimbang sekadar capek: bahagia.

jadi, apa pilihan kalian?

Written by femi adi soempeno

September 27, 2007 at 3:21 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with ,

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. andai pilihan itu lebih banyak berupa multiple choice dan bukan hanya sekedar benar-salah hehehehehe..

    ah.. it’s JUST life fe..😉

    cyn

    September 29, 2007 at 8:22 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: