The red femi

katanya wine, kok sekarang bir?

with 2 comments

pada dasarnya saya tak suka bir.

saya lebih suka wine. yohan handoyo membikin saya mencandu wine. untuk pasangan makan. untuk teman kongko. untuk menghabiskan malam dan menunggu rasa kantuk tiba.

ketimbang white wine, saya lebih suka red wine. (hayo, ngacung yang suka white wine!) varian red wine ini upamanya cabernet sauvignon, merlot, pinot noir dan shiraz. rasa cabernet sauvignon sangat sepat atau tannic. konon, jenis anggur ini banyak dijumpai di bordeaux, perancis, yang bersuhu hangat. cuma, saya lebih suka yang asal usulnya dari australia maupun california.

lain dengan merlot. merlot ini berkebalikan sekaligus berpasangan dengan cabernet sauvignon. rasanya lebih soft ketimbang cabernet sauvignon. tanin nya lebih empuk dan lembut. mereka yang terbilang ahli menyesap merlot, bilang bahwa merlot memiliki karakter buah yang kuat, seperti plum, blackberry maupun black currant. bahkan, kadang juga memiliki rasa dark chocolate, kopi maupun tembakau. waduh.

pinot noir beda 180 derajat dengan cabernet sauvignon. kadar tanin nya lebih ramah ketimbang cabernet sauvignon. dus, rasa strawberry nya sangat kental. warna wine nya pun lebih muda. wine yang nenek moyangnya ada di daerah champagne dan burgundy, perancis, ini konon sangat temperamental alias susah ditanam. kalau diminum, rasanya bisa bermacam-macam dan berubah-ubah. persisnya sih: mengejutkan.

shiraz dikenal di afsel maupun aussie. di perancis disebut dengan syrah. apapun namanya, rasa wine jenis ini pedes. aduh, bagaimana melukiskan rasa wine ini ya. yohan handoyo menyebutnya eksotis. saya lebih suka menyebutnya: pedes dan nendang. wine jenis ini paling kondang di rhone valley, perancis.

wine ini mengingatkan saya pada cerita hanna, wartawan jerman. “saya membeli rumah di frankfurt. saya tak menyangka, rumah yang saya beli itu di belakangnya terhampar ladang wine yang sangat luas …” aduh. saya jadi iri.

layaknya properti, lokasi adalah hal mutlak untuk menanam anggur. tak cuma tempat saja, tetapi untuk penanaman wine ini wajib hukumnya untuk memperhatikan bentu, struktur tanah, kemiringan dan iklim. masih harus dihitung juga, curah hujan, sinar matahari, angin, ketinggian tanah dan cuaca. dalam khazanah (halah, opo to yo iki) wine, ini dikenal sebagai terroir.

di sebuah siang, sebuah pertaruhan terjadi. holger dan saya bertaruh untuk cuaca yang tak menentu di berlin. perjanjiannya, sebotol wine dengan harga tak lebih dari 6 euro. “nanti siang hujan …” katanya. tidak. saya bilang kemudian, nanti siang tetap panas. dan yang terjadi adalah panas. horeeeeeee!! tapi holger masih berhutang dengan saya. hingga pulang ke Jakarta, pertaruhan ini belum lunas.

wine ini mengantarkan saya pada obrolan yang hangat dengan teman-temna. kami membincangkan tugas-tugas yang tidak masuk akal tentang IMF Nigeria. halah. membayangkan bentuk negara dan orang-orang yang ada di dalamnya saja susah, apalagi sistem moneter yang mencungkupi negeri itu. topik ini adalah topik terseru yang disandingkan dengan gosip soal teman-teman.

dan bir?

heineken membikin saya ketagihan bir. daripada bintang, sesungguhnya saya lebih suka heineken. sejak dari lebaran setahun silam, saya memenuhi kulkas di rumah dengan kalengan maupun botolan heineken. untuk teman membaca buku. untuk pelega dahaga usai berkebun. untuk siang yang terik dan menyiramkan heineken yang kemrenyes di tenggorokan. bir membikin saya gila.

havanna club di pojok berlin mengawali kegilaan saya terhadap bir. saat itu, bir yang saya cecap adalah becks. holger mengajari saya untuk menggebrakkan botol bir di meja usai toast. padahal, saat saya cerita pada abang, selorohannya membikin saya tak bisa berhenti ketawa. “kok kayak soto gebrak …” haduh.

dan benar. kalau ada wine, saya lebih suka wine. tapi kalau ada bir, bolehlah. seorang teman kemudian bilang, “makanya, jangan sampai ada bir dan wine di satu meja yang sama …” wakakaka. minum dua atau tiga botol bir saja sudah bisa bikin jalan saya tak lagi lempeng. seperti mengusung migren tahunan. seperti bumi yang terus menari tanpa kepanikan dan rumah-rumah yang merubuh. persisnya, saya mabuk.

di lidah saya, rasa bir yang begitu-begitu saja. nyaris tidak ada tantangan. paling-paling saya akan bilang, “ini lembut ya!” untuk menunjuk kolsch. atau, “ini nendang ya!” untuk menunjuk heineken. atau, “ini sepet, tapi ga terlalu manis ya!” untuk menunjuk bintang. apa lagi?

tapi belakangan bir telah mengantarkan saya pada memori yang menderet di kepala saya. tentang perbincangan yang seru di meja asian-union. tentang dentingan perpisahan antara european-asian-afro union. tentang pertemanan yang berantakan di circle K. tentang mister beer dari india. tentang rasa cemburu yang menggerogoti malam di night club cologne. tentang gelak tawa petugas bandara tegel dari kaos merah yang saya usung yang bertuliskan “will fuck for beer”. tentang pagi yang habis di sudut kantor.

terima kasih. malam dengan botol-botol bir membuat saya tahu bahwa kalian ada di sekitar saya. kalian yang meninggalkan rasa marah. dan juga kalian yang meninggalkan rasa rindu. mari bersulang.

Written by femi adi soempeno

September 30, 2007 at 10:10 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. fem, adikku minum white wine pas dalam perjalanan, eh malah diare .. hihihi .. enakan tiger to fem, alus ora marahi ketendang🙂

    Alexander Bramantyo

    October 1, 2007 at 8:27 am

  2. duh, ngantek cekik’en..

    mbahatemo

    October 2, 2007 at 1:40 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: