The red femi

sudahlah

with 3 comments

sudahlah, saya sudah menikmati hidup saya saat ini.

lihat, saya masih menulis, dan terus menulis. bahkan, saya masih mengisi halaman putih ini dengan cerita-cerita seru dalam kehidupan saya. kelak, saya bisa menjenguknya sebentar, untuk menyenyumi masa lalu. bisa jadi, setahun, lima tahun, bahkan sepuluh tahun ke depan, luka itu masih perih. sedih juga terus menggerus. tapi tak apa. bukankah ini yang disebut hidup?

rasa sedih ini tak ada artinya sama sekali bila dibandingkan dengan kepergian ayah, ibu, bahkan saat melambaikan tangan dan melihat punggung esti dari balik mesin sensor bandara. zero. nol. nihil. jadi, tak ada alasan untuk terus manyun, cemberut dan menyesali yang pernah ada. being single and alone is the most beautiful experience in my life.

memori baik? saya akan menggudangkannya dengan tag ‘pernah’. artinya, tak akan kembali lagi. tapi, tak ada genderang panggilan layaknya bedug yang ditabuh di masjid sebelah. undangan itu tak pernah datang. menengok ke belakang, saya juga enggan. maaf, kali ini saya sengaja mengasingkan diri. rasanya, ini jauh lebih baik. bahkan, bisa jadi kardus ber-tag ‘pernah’ ini juga tak akan lagi saya tengok.

eh, saya juga sudah mulai bekerja keras lagi lo. ingatan yang sangat baik tentang perjalanan berkereta ekonomi selama tiga tahun mengunjungi ayah sudah selesai terekam. sempurna. kini, saya sedang mencacah ingatan saya lagi untuk merekam kembali perjalanan dua bulan silam. memori ini jauh, bahkan –kemudian menjadi– sangat jauh lebih baik ketimbang mengingat kisah itu.😀 maaf.

bukankah segala sesuatu datang dan pergi dengan begitu mudahnya dan begitu cepatnya? saya sadar itu, sangat sadar. mungkin, sebentar lagi juga akan ada yang pergi lagi. sedih? tidak juga. bukankah itu adalah siklus kehidupan?

Written by femi adi soempeno

October 3, 2007 at 1:28 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with ,

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Hai Fem,
    salut dengan caramu memandang dan menyikapi rasa sedih. sungguh memberi semangat bagi yang juga sedang larut dalam sedih untuk bisa tersenyum kembali.

    Kemuning

    October 4, 2007 at 9:16 am

  2. Hai fem, apa kabar?
    memang sebaiknya kita menjadi seorang optimis yang tidak pernah jera. sama seperti kepahitan, kebahagiaanpun tidak pernah berhenti datang. jadi, apa yang harus disedihkan tentang hidup? toh, kebahagiaan akan datang sebentar lagi…

    kakakina

    October 5, 2007 at 9:52 am

  3. ya.. sudahlah

    indah

    October 8, 2007 at 9:18 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: