The red femi

owsh, harusnya bukan ayah

leave a comment »

setelah 19 tahun hidup dalam cerita ini, saya mendapatkan versi lain.

saya ingat persis, bagaimana undangan itu mampir ke telinga saya, saat saya berusia 8 tahun. saya masih pakai kaos oblong, celana pendek. rambut saya cepak. saya masih suka berlarian. dari ujung pagar, menggenggam duit Rp 500, saya berteriak pada ibu, “wafer supermen?”. ini membuat ibu menjadi sangat marah karena menurutnya anak perempuan tak pantas berteriak-teriak. “ora elok!” katanya. mm … sembilan belas tahun silam. tahun 1988.

ayah meminta saya duduk di ranjangnya. disana, ada juga esti–kakak saya. wajahnya tirus. kecil. rambut hitam masih tertancap di kulit kepalanya. tersisir rapi. kacamatanya putih dengan bingkai hitam tebal. gurat tuanya belum terlihat, meski saat itu ia sudah mencatatkan usia kepala lima.

ayah mulai membuka pembicaraan. tentang keluarga kami yang ternyata cukup banyak. tentang penamaan E untuk Esti dan F untuk Femi. ternyata, masih ada A hingga D didepannya. iya, kakak-kakak saya yang lain. saya ternyata masih punya 4 kakak yang lain, yang jauh lebih tua dari kami. ayah mulai bercerita tentang kakak A yang saya sangat kenal. ia sering datang berkunjung, juga kakak D. ayah juga menyinggung kakak B dan C. komplit. hanya saja, mereka tak serahim dengan saya maupun esti.

“tapi, mereka tetap saudaramu,” katanya. dalam suara yang datar dan legowo, ia kemudian bercerita tentang potongan kehidupannya di era soekarno. cuilan itu kemudian melahirkan esti maupun saya. 

sambil terus bercerita, kemudian ayah memamerkan sebundel buku usang. itu buku catatan harian miliknya. buku nyanyian yang berukuran kecil, yang disampul kulit berwarna cokelat. celengan batok kelapa yang berukir indah. sapu tangan yang disulam dengan benang warna-warni. saya lihat disana, ada gambar wajah ayah, seorang perempuan dan empat anaknya. sulaman itu rapi, indah. dalam saputangan itu, ada juga gambar jeruji besi, beberapa tanggal kelahiran dan tanggal penting lainnya, dan setangkai bunga yang patah di bagian tengah.

meski mencoba merekamnya di benak, tak banyak yang saya mengerti. apa yang meluncur dari mulutnya, tak seperti yang saya tahu selama 2 tahun berseragam merah-putih di sekolah dasar. pendidikan moral pancasila. pendidikan sejarah perjuangan bangsa. iya, cerita ayah justru sangat berkebalikan dengan apa yang saya serap di sekolah.

saya terus mendengar, mendengarkan, menyimak dan mencatatnya dalam ingatan. tapi saya tahu bahwa ini adalah potongan puzzle pertama yang harus saya letakkan di meja. puzzle pertama ini letaknya di ujung sebelah kiri. bentuknya menyudut. dan potongan ini sudah saya letakkan di meja, saat usia saya 8 tahun.

dari potongan itu, saya tahu betapa jagad hati ayah saya sangat luas. tahun 1966-1975 tak membuatnya kehilangan harapan hidup meski semua yang dimilikinya habis. kosong. tak tersisa. tak berjejak. tapi ia terus melipatkan nyawanya seperti kucing. ia tak takut mati. ia tahu betul, killed or to be killed ada di setiap peristiwa sejarah. tapi ia juga tak kehilangan harapan hidup.

ia tak ingin memelihara konflik. ia juga tak pernah berniat mewariskan ‘dosa-dosanya’ pada keenam anak-anaknya A-F agar terstigma sebagai anak PKI. ia justru menularkan nukilan kehidupannya untuk mendamaikan fakta-fakta.

“waktu bulik menjemput ayahmu, petugas CPM bilang kalau sebenernya telah terjadi tangkap. mestinya bukan ayahmu, tetapi istrinya …” kata bulik pada saya.

deg.

jantung saya terasa berhenti. owsh, harusnya bukan ayah. mungkin ayah tahu. tapi mungkin ayah tidak tahu. mungkin ayah tahu, tetapi tidak peduli. mungkin ayah tahu, tetapi ia yang memilih untuk diangkut, daripada istrinya. mungkin ayah tidak tahu, baru tahu setelah keluar dari bui. mungkin ayah …

cerita bulik ini adalah potongan puzzle baru. puzzle ini belum terangkai sempurna. bahkan, tidak akan pernah terangkai sempurna. saya sudah meletakkan beberapa potong puzzle diatas meja. tapi, saya juga masih menelisik potongan puzzle lain. 

(tulisan ini saya bungkus untuk ayah, iya untuk 9 tahun masa penantian nya di belakang jeruji besi. ayah, si bungsu kangen ayah.)

Written by femi adi soempeno

October 4, 2007 at 3:41 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: