The red femi

energi baru

leave a comment »

kami tak punya waktu obrol yang tak lama.

obrolan kami juga nyaris tak pernah ditemani dengan panganan. eh, pernah ding. saat syukuran buku yang tercetak hingga empat kali. janji memasakkan sepiring rawon untuk saya juga tak pernah dipenuhi. alasannya ada saja. sedang tidak ingin memasak. sedang malas memasak. sedang kesulitan bahan baku. sedang pergi keluar kota. wah.

obrolan kami selalu berkisar soal kami. iya, soal talenta yang Dia berikan untuk saya. saya tahu betul, Dia memberikan saya sepasang tangan dan sepuluh jari untuk menari diatas keyboard hitam. mengadu mata dengan layar Dell 17 inch di meja kerja dan 14 inch di laptop putih. saya tahu persis, Dia ingin saya mengembangkan kemampuan ini. dan lelaki yang duduk di depan saya ini, juga ingin saya terus berkembang.

kami juga membincangkan materi tulisan yang ribuan jumlahnya. teknologi begitu mudahnya membantu penulisan sebuah buku. mesin pencari google. narasumber yang mudah dihubungi. archive tulisan. tumpukan buku di gudang. tinggal di ublek-ublek-ublek-ublek, jadilah satu tulisan.

kami terus berbicara. berbincang.

saya tahu, ada energi yang dia tularkan pada saya. untuk terus menulis. untuk menulis buku lagi. untuk terus meninggalkan jejak. iya, ada energi yang dia tularkan pada saya, meski tanpa panganan di meja obrolan.

saya pulang dengan keinginan besar untuk menulis kembali. dan saya membuka laptop, mencoba mulai menulis kembali.

terima kasih, mas julius.

Written by femi adi soempeno

October 11, 2007 at 10:38 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: