The red femi

sepatu plastik versus boot

with one comment

tiba-tiba saya teringat sepatu plastik punya ibu.

ukurannya mungil, soalnya kaki ibu juga mungil. kalau tidak mencermati dengan tepat, pasti akan mengira sepatu ibu yang berwarna hitam itu sepatu kulit. padahal, itu sepatu plastik. hitam. mengkilap. bersih. mulus. di bagian telapak kaki, bergaris hitam-putih. ibu sering mengenakannya saat musim hujan.

saya agak sebal dengan sepatu plastik itu. pikir saya waktu itu, kalau ada sepatu biasa, kenapa mesti mengenakan sepatu plastik. atau, kalau hujan datang dan bisa berganti dengan sandal jepit, kenapa masih mengenakan sepatu plastik. atau, apa sih istmewanya sepatu plastik itu. tidak lebih indah ketimbang sepatu lain yang membungkus kaki ibu.

kalau musim hujan hendak selesai, atau musim hujan akan tiba, ibu selalu berjaga-jaga dengan sepatu plastik itu. jepitan di depan kendaraan selalu ada jas hujan dan sepatu plastik. sepatu plastik itu selalu dimasukkan dalam tas kresek hitam atau putih. rasanya, ibu senang sekali dengan sepatu plastik itu.

saat itu saya masih kecil. saya masih senang berbasah-basah bila hujan jatuh ke bumi. tanah basah. senang rasanya membaui tanah basah. saya memilih untuk tetap membasahi sepatu kets hingga terasa berat, dan memberat. atau, saya memilih untuk telanjang kaki. dus, tak ada urgensinya kan mengenakan sepatu plastik? saya tahu, sepatu plastik itu didesain untuk ibu-ibu, seperti ibu saya. sayangnya saya tak sempat menanyakan dimana ibu beli sepatu plastik itu.

sekarang saya punya sepati boot. ini plastik. sepatu boot ini didesain untuk musim hujan, menghalau air agar tak masuk ke dalam sepatu. tingginya hingga setengah betis. psst sesunguhnya sepatu boot ini untuk anak-anak. warnanya merah dengan bintik-bintik hitam. diujungnya ada mata kepik yang menonjol. tu kan, ini memang sepatu boot untuk anak-anak.

tapi esti membungkuskannya untuk saya, si bungsu. “pakai saja kalau musim hujan …” katanya.

saya sudah mencobanya, awal tahun ini. dan … berhasil. air tak mampu menembus setinggi setengah betis saya. tak ada air yang masuk ke dalam sepatu. kaki dan kaos kaki saya tetap kering. hangat. ujung celana jeans saya juga tetap kering. tapi saya harus membayar mahal untuk ini: banyak mata menatap boot merah kepik yang digunakan perempuan berusia 27 tahun.

boot ini sama fungsinya dengan sepatu plastik ibu. bedanya, sepatu plastik ibu untuk ibu-ibu, sementara sepatu boot femi untuk perempuan muda. mm … beda kan?

(ps: ibu, femi jadi kangen ibu.)

Written by femi adi soempeno

October 16, 2007 at 1:22 am

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Aku mau lihat kamu pake sepatu itu, menyibak banjir di gang-gang belakang pasar palmerah.. huehuehue.. pasti ajaib!

    indah

    October 21, 2007 at 12:15 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: