The red femi

tidak ada yang menunggu saya di rumah

with 5 comments

entah, belakangan saya menjadi sangat sensitif.

tapi, sebenarnya bukan ‘belakangan’ yang hanya terbvilang satu atau dua minggu saja. bahkan, sudah lebih dari tiga tahun ini saya menjadi sangat perasa, sensitif, peka, mudah tersinggung. itu yang bikin saya mudah menangis meski saya tak sesungguhnya cengeng.

semalam, sahabat baik bercengkerama dengan saya di ruang maya. perbedaan waktu 5 jam membikin kami sering keruwetan memilih jam perjumpaan. disana, mungkin segelas susu hangat menemani obrolan kami. tapi, bisa jadi juga salad. entah. sementara saya disini punya beberapa pilihan menu. cokelat hangat, susu beruang, atau teh hijau panas. pilihan lainnya? ini, seperti sembari sarapan pagi begini.

saya tak ingin menyebutnya pertengkaran. saya hanya ingin menyebutnya sebagai sebuah ego diri saja. iya, ego saya yang terlalu besar. pembicaraan kami adalah soal pekerjaan, kantor, jam kerja dan kebiasaan. tapi ia melihatnya lain: kecanduan akan pekerjaan ini tak akan bisa hilang. uwh, rasanya seperti ada yang melempar linggis ke kubikel saya. sepertinya ada yang menghujani saya dengan ribuan palu yang memberantakkan isi kubikel saya.  

saya, femi, perempuan, 27 tahun, wartawan, penulis.

saya memang suka menulis sejak usia 12 tahun. barangkali, ini sebabnya saya mencandui aktivitas ini. alasan lainnya, karena Dia memberi kemampuan saya untuk menulis. saya menulis agar bisa ‘menjadi femi’. ambisi pangkat dan status yang cepat meyodok? tidak juga. saya dan teman-teman lain di pabrik kata-kata ini menempul rel yang sama. ambisi menimbun penghasilan yang lebih besar? tidak juga. pendapatan saya fixed, berapapun jumlah tulisan saya. itu sebabnya, saya mebnulis agar bisa ‘menjadi femi’. 

saya sampai kebingungan memilih kata-kata untuk menjelaskan mengapa saya datang ke kantor malam hari, bahkan hingga larut atau bahkan menginap di kantor. 

tahu sendiri, saya disini hidup sendiri. esti, kakak saya ada di US. tidak ada lagi orang tua di rumah. famili juga tak banyak yang dekat. sementara, saya mengandalkan hubungan baik dengan teman-teman yang sudah saya anggap saudara sendiri. kalau sudah begini, saya harus apa? tinggal dirumah sepanjang hari? sesiang di rumah, bersihin kamar, tidur nyuci pakaian. sore saat bola raksasa sudah bersembunyi, apa saya tak boleh ke kantor, cari makan dan browsing untuk bahan tulisan? 

bahkan, tidak ada yang menunggu saya di rumah. tidak ada orang yang harus saya layani kecuali diri saya sendiri. dulu saya punya ayah yang harus saya jumpai setiap minggu. dan begitu banyak orang bertanya, “kamu apa enggak capek ke jogja setiap minggu?” saya bosan dengan pertanyaan itu. orang-orang ga tahu betapa saya menyayangi ayahku. saya berusuaha membagi hari untuk bekerja dan pulang ke rumah. kenapa? karena ada ayah yang juga selalu menunggu saya di rumah!!!!!!  

sekarang saya punya siapa? tidak ada. tidak ada siapapun di rumah!

meski ayah tidak ada di rumah dan saya masih tetap pulang, orang-orang juga tetap saja bertanya tanpa bosannya; “kamu nggak capek ya ke jogja setiap minggu? kamu itu pulang buat siapa sih? kan ga ada orang di rumah.”  hampir satu setengah tahun ini, saya juga semakin bosan dengan pertanyaan itu. orang-orang yang bertanya itu bisa bertanya begitu karena ada keluarga yang menunggu mereka saat pulang kantor, bahkan weekend. juga, ada orang yang harus mereka layani di rumah. saya? nggak ada! hanya ayah dan ibu yang menunggu saya di makam untuk mendaraskan doa buat mereka. 

saya rindu makan bareng dengan keluarga. saya rindu bikinin teh atau kopi susu buat ayah. saya rindu pulang dan bercengkerama dengan keluarga. saya juga rindu punya pacar untuk aku bisa berbagi. tapi saya punya apa? nggak punya! 

tiga tahun terakhir saya memampatkan kerjaan agar bisa pulang di ujung minggu untuk ayah. saya pulang larut, bahkan tidak pulang, hanya demi pekerjaan yang usai sebelum deadline tiba. apa saya mengejar status? tidak. gaji tinggi? tidak. semuanya saya lakukan agar bisa mencuri waktu untuk pulang. pulang. p-u-l-a-n-g. 

dan itu belum berubah hingga saat ini. saya membereskan pekerjaan hari senin-selasa-rabu. saya juga masih memilih untuk tidur di kantor atau bekerja hingga larut. mengapa? karena tidak ada yang menunggu saya di kos-kosan. karena saya ingin segera pulang ke rumah jogja. karena saya ingin membikin buku. 

saya sendiri memang addicted dengan pekerjaan ini. soalnya, saya menyukai pekerjaan ini. tapi saya tidak pernah melupakan kodrat sebagai perempuan yang tetap harus melayani suami dan anak kelak. aku sudha menguji diri sendiri untuk menyambangi ayah dulu, sebagai bentuk tanggung jawab anak pada orang tua. saya rasa, hasilnya tidak menegcewakan. saya bahkan bisa menggaransi diriku sendiri, saya tidak akan melalaikan tanggung jawabku sebagai istri bahkan ibu kelak. 

saya sangat sedih saat teman saya bilang, “ga jamin tuch, karena udah adicted itu malah ga bisa hilangin.” dia, bahkan kalian, memang berhak bilang begitu. dia, bahkan siapapun juga, boleh bilang begitu. tapi yang tahu tentang gaya pekerjaan saya, adalah saya, bukan? memangnya kalian pernah menguji saya bahwa aku tidak bisa menghilangkan kecanduan terhadap pekerjaan? enggak pernah. kalian nggak pernah tahu bagaimana saya pernah mengalahkan kecanduan ini untuk ayah saya. 

saya juga sedih saat teman saya bilang, “mat kerja dan kumpulin duitnya ya..buat liburan di Bali nanti”. kalau begitu, saya memilih untuk enggak berlibur ke Bali nanti. buat apa liburan ke Bali dengannya kalau saya tetap terlihat ambisius banget ngumpulin duit biar bisa berjumpa dengannya dan liburan disana. anggap saja saya gagal mengumpulkan duit sehingga tak bisa liburan dengannya.

saya menangis.

bisa ya dia bilang begitu. sepertinya dia melihat saya bekerja hingga larut ini mendapat bonus tambahan yang bisa saya timbun untuk liburan ke Bali. padahal, enggak ada tu bonus lemburan segala macam sehingga bisa mendongkrak pendapatan dan bisa saya gunakan untuk berlibur. saya memang ga punya banyak duit untuk liburan lama. tapi saya harus bersyukur bahwa saya masih punya gaji tanpa harus cari tambalan kanan kiri demi berlibur ke Bali nanti. 

sungguh, kali ini ego yang bicara. saya tidak marah. saya hanya sedih aja chat dengannya semalam.

dan saya tahu persis, teman saya ini bukan ayah saya yang tahu banyak hal tentang saya. dia hanya teman yang tengah belajar menuduh saya.  

Written by femi adi soempeno

November 19, 2007 at 12:28 am

5 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. sabar,ya,nduk…………..

    RIA

    November 19, 2007 at 9:22 am

  2. ayo ngguyu waee..

    mbahatemo

    November 19, 2007 at 1:09 pm

  3. teruslah menulis. kami menanti tulisan-tulisan itu.

    munggur

    November 19, 2007 at 3:23 pm

  4. ah cuekin aja fe..
    prinsip Like I Care kekekekeke😉 *kompor*
    >> gw banget yak :p

    as long as u happy, nothing else matters toh
    it’s all about choice *sesama yg pulang malem*
    hehehehehe

    cyn

    November 20, 2007 at 5:50 pm

  5. Salam Kenal

    n3tg33ks

    November 20, 2007 at 6:23 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: