The red femi

saya tak bisa berhenti bahagia

with one comment

saya bersyukur, tidak ada obat penawar bagi rasa bahagia. jadi, rasanya kebahagiaan ini tak akan habis.

dan saya yakin, rasa bahagia ini akan terus menjejak hati. lihat, pipi saya selalu memerah bila mengingatnya. sunggingan bibir ini tak putus-putusnya menyurut setiap kali melihat benda-benda yang mengingatkan saya padanya.

dream2.jpgdark choc lindt kesukaan saya. kotak kaleng biskuit cokelat yang dibungkus dengan kertas hijau gelap. luggage-tag si burung besi. dompet tante-tante berwarna merah. stiker tas sepeda ‘fragile’. semuanya masih ada di meja saya. saya tak ingin membuangnya. iya, saya akan menyimpan rapi semuanya. mereka masih ada di meja saya. warna keemasan kotak cokelat ini akan menyerang indera lihat siapa saya yang lewat di depan kubikel saya. iya, kotak-kotak cokelat itu masih ada di atas meja. persis di sebelah kanan saya, tempat saya membuncahkan bahagia di halaman putih ini.

ya ampun Tuhan, jangan ambil rasa bahagia ini ya!

kemarin.

meradelima. saya dan laki-laki dengan pjamas kotak-kotak memesan tiga porsi. ayam bakar bumbu kuning. sop iga dan sate ayam. kami sembari berbincang tentang banyak hal. pola makan. kebiasaan sehari-hari. pekerjaan. teman-teman. juga, tentang waktu yang sebentar lagi habis. si kecil yang bandel menggoda kami. mencoba mencuri perhatian kami. aih, siapa takut? kami justru balik menggodanya.

kinokuniya pondok indah. tak banyak buku yang bisa diangkut. pelajaran bahasa inggris-jepang-indonesia, tak ada. yang ada adalah kamus inggris-indonesia. owh, tidak!

starbucks pondok indah. dua kue ada di meja. yang habis? satu saja. padahal, maunya pesan tiga. frapucinno java chip grande, itu pesanan saya. selebihnya, ada apple juice dan latte. eh, ada yang cemburu rupanya saya duduk berjejeran dengannya!

sogo pondok indah. yang dicari buah kelengkeng.

sarinah thamrin. kaos khas indonesia. humh. ada ya? ini untuk oleh-oleh kerabat di seberang. “harusnya kamu yang dibungkus untuk dibawa pulang. baik hati, tidak sombong, pemaaf, murah hati, tidak pelit, mudah lupa … ” kata abang saya saat saya bilang padanya sedang ada di sarinah. haduh, abang ini apa-apaan.

pulang.

hari ini.

sogo plaza indonesia. kami datang kepagian ke cilantro. hasilnya, kami menyambangi sogo plaza indonesia. membungkus dua jus buah dan satu yoghurt. lima belas kotak cokelat. jambu air. belimbing.

cilantro. kami ada di lantai paling tinggi di gedung tertinggi di jakarta. hore! saya berharap, bukan hanya mencicipi racikan sushi di resto tertinggi ini saja. tapi, menggantungkan harap lebih tinggi dari jumlah lantai di gedung ini.

pulang.

malam nanti laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah itu akan memunggungi saya. si burung besi akan mengantarnya kembali ke kandangnya. untuk berapa lama? entah. mungkin setahun, bisa jadi dua tahun, atau tiga tahun, bahkan empat tahun. bisa lebih. tidak tahu pasti. tak apa. jarak 5768 km tak akan menggerus rasa bahagia ini kok.

tapi tadi saya tak menangis. iya, tak ada butiran bening yang mengalir dari sudut mata. saya melihat lambaian di sudut antena VI di radio dalam itu. tapi saya tak bisa menangis. saya tersenyum. tahu kenapa? karena saya yakin saya akan menjumpainya kembali tak lama lagi.

saya masih ingat percakapan kami, minggu lalu. gelap membikin kami semakin melarut dalam canda dan hangat. 

“bulan empat ah aku ke sana. mmm … atau, bulan sembilan aja ya aku datang!” kata saya.

“boleh … boleh kapan saja … bulan sembilan juga boleh …” jawabnya.

“lho, kok bilang begitu sih?” tanya saya, menggugat.

“harusnya bilang bagaimana?” sergahnya, cepat.

“harusnya kamu bilang, ‘bulan empat ajaaaaa … kok bulan sembilan sih? kelamaan. bulan empat ya!’ gitu hun …” jawab saya. dan kami terbahak.

siang tadi, gurauan kami masih mendebatkan soal bulan empat dan bulan sembilan. “bagaimana kalau bulan dua saja?” tanyanya, seolah menantang. ah, maaf, kali ini saya tidak bisa menerima tantangan ini.

saya cukup mendekap bahagia ini. apapun yang terjadi besok pagi, harapan itu tetap tinggi kok. lebih tinggi dari gedung tertinggi di Jakarta. mimpi itu masih ada di sana. lebih indah dari kenyataan, pastinya. tapi tak apa. saya bahagia. bersamanya. disampingnya. meski cuma sebentar, dia sudah meninggalkan jejak disini. iya, jejaknya tetap tinggal, yaitu rasa bahagia yang amat sangat.

(ps: Tuhan, terima kasih ya untuk semuanya! kalau memang cinta itu indah, tunjukkan cinta yang indah itu melalui dia. dan, jangan ambil rasa bahagia ini ya.)

Written by femi adi soempeno

January 8, 2008 at 4:28 pm

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. oooohhh… so sweet….

    aureliaclaresta

    February 6, 2008 at 8:11 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: