The red femi

terima kasih, kalian adalah energi

with 2 comments

huruf yang terangkai dalam kalimat itu menghambur begitu saja. muntah tak karuan di 106 lembar halaman putih.

saya membereskannya sendirian. mulai dari mengendus sudut yang paling nyaman untuk memuntahkan sebongkah kekesalan, sekaligus harap. hingga saya mendapatkan tong sampah yang paling besar untuk membuang kotoran muntahan itu. iya, satu buku selesai lagi. tentang sebuah luapan emosi. tentang sebuah pertanyaan. tentang sebuah kegelisahan. tentang sebuah rasa penasaran. persisnya, tentang soeharto dan juga (masih) tentang menantunya, prabowo.

coba pegang punggung saya. panas. rasanya semua energi memusat di punggung ini. berendam air hangat, pasti nyaman sekali. coba raba jemari saya. kriting. sebagian jemari saya meliuk sejak dua malam lalu. menari. berjoget. tuts hitam dell ini menjadi panggungnya.

meja saya berantakan. mm … memang sih, biasanya juga berantakan. tetapi, kali ini lebih berantakan. saya harus mensyukuri, teknologi memangkas keruwetan di meja saya. tidak ada selembar kertas pun yang saya cetak. semuanya masih menggeloyor di halaman putih yang bisa saya terawang dengan si tikus hitam di sisi kanan keyboard. ratusan, bahkan ribuan halaman hasil pencarian di gudang kliping tertanam di balik kehebatan teknologi ini.

lupa makan. lupa mandi. lupa minum. alih-alih beranjak. rasanya pantat sudah terpaku, dan tak bisa beranjak. mengambil segelas air putih, menjadi malas. menggeret handuk dan sabun leivy 1150 ml dari meja, juga malas. menggoweskan sepeda lipat untuk membungkus sate ayam permata, juga malas. sungguh, seperti ada mur dan baut yang membikin saya tak beranjak dari kursi hijau nan lusuh ini.

rabu, membongkar gudang kliping. kamis, mulai menulis. jumat, menulis lagi. sabtu, selesai menulis.

menulis, dan terus menulis. energi menulis ini datang dari segala penjuru. ayah dan ibu yang menunggui kubikel. rasa gembira dan kesenangan menulis. listrik, AC, air minum hangat dan dingin, telepon di kantor. meja berantakan yang dibiarkan tetap berantakan. sekelebatan senyum dari teman-teman yang datang berkunjung ke kubikel. turun sejenak ke lobby, dan memberi makan toto. guyuran air hangat dari shower di kamar mandi. pecutan telepon dari kota seberang. detikcom yang tak putus-putusnya mengabari dari selatan Jakarta. kesibukan membikin halaman depan. dan juga, laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah yang bolak-balik terus meyakinkan, “aku tidak sedang menggombal kok …”

terima kasih. kalian adalah energi buat saya. terima kasih. kalian membikin saya berkarya lagi. 

Written by femi adi soempeno

January 12, 2008 at 4:25 am

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. fem, nek meh nggolek ‘energi’ ki neng ndi yo?😀

    mbahatemo

    January 21, 2008 at 4:35 am

  2. Fem, selamat ya … salut banget bisa bikin satu lagi. marahi ngiri. hehehe .. denger dong komentarnya Andre, “gila ya .. kok Femi sempet sih .. kok Femi bisa??” .. sekali lagi, selamat yo! makasih banget, aku kecipratan yang masih panas dari jogja itu .. hehe ..

    bram

    January 25, 2008 at 3:21 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: