The red femi

eloprogo

with 3 comments

tempat ini seperti surga di dunia.

eeh, saya sih belum pernah mengintip surga yang tidak ada di dunia. tetapi mencuri dengar tentang keindahannya, bisa jadi sama dengan yang ada di sini. eloprogo.

ini adalah rumah seni milik seniman Soni Santoso. patung batu di bagian depan menjadi penanda pintu masuk ke kawasan seluah satu hektar ini. “itu Beti, istri saya yang sudah meninggal,” katanya sambil menunjuk patung batu dengan bentuk wajah manusia. cantik. patung itu dibuatnya dengan berkongsi bersama perupa lain. “itu belum selesai, maunya masih ada patung lain yang lebih kecil nanti,” imbuhnya.

selebihnya, rumah-rumah yang didesain sendiri oleh soni. jejeran batu bata yang rapi. tanpa plester. tanpa cat. telanjang begitu saja. lantai semen. lantai bebatuan. lantai kayu. adakah yang lebih menarik ketimbang rumah seniman? saya rasa tak ada. ini adalah salah satu diantaranya. rumah seniman yang nyentrik. hunian yang dekat dengan alam. rumah tinggal seperti surga.

tak ada satu ruang tamu. dimanapun bisa menjadi ruang tamu. lihat, ada ‘meja dan kursi’ dari batu alami yang dionggokkan begitu saja. dari sini, bisa melihat aliran kali elo dengan bebunyian aliran sungai. di sekitarnya tak ada pajangan guci atau kembang. yang ada, ilalang dan rumput yang tumbuh meliar.

memijak lantai semen, diatasnya adalah kamar soni. “ini kamar saya …” pamernya. sederhana. sebuah ranjang kayu tua berwarna dominasi hijau, dengan selimut merah menyala. lampu menguning membuat ruangan terasa lebih hangat. lihat, ada begitu banyak kerang. sebagai pembatas ruangan. sebagai pajangan. ada juga yang berbaris rapi di anak jendela.

bathub dan wc marmer agaknya melengkapi rumah seni ini menjadi kian nyeni. “nggak usah dihidupin lampunya, nanti dari sini keliatan …” selorohnya, dengan sedikit mengingatkan. aih. benar juga. tidak ada pintu kayu, besi maupun plastik. hanya selembar kain saja sebagai penghalang penglihatan ke kamar mandi ini. apalagi, jendela transparan akan membuat siapapun yang berada di dalam toilet menjadi tak tersamarkan. 

sebuah jembatan kayu menghubungkan antara kamar soni dengan teras samping. ayunan jejaring tali dengan pengait di setiap ujungnya. bersantai di ayunan sembari menunggu gagasan yang muncul dari balik manggar buah pisang, sepertinya menarik juga. iya, manggar yang agaknya sudah sulit dijumpai di pohon-pohon pisang di kota besar, di eloprogo masih berbiak dengan suburnya. merah. berdaging. enak dibikin gudeg.

batik-batik lawas maupun baru menggantung sempurna di sebagian dinding ruangan. terjalin rapi. berbaris. berderet. tertib. ada di kamar mandi. ada di ruang tengah. ada di bagian depan kamar soni. duh.

dan kami terus berbincang. membaca tarot. teh-jahe-serai menemani obrolan kami. ditambah, red label yang tinggal separo. juga dua kantong pothil, sisa criping talas dan dodol picnic. kami membincangkan keluarga, kliklik dan klukluk, made joni dan made mini, kalkun romeo-juliet, puluhan kucing, pekerjaan, queen of south, putri-putri yang menemani eloprogo, dan mimpi-mimpi masa depan.

hommy. saya makin hommy dengan eloprogo. dengan tanah. berkerikil. berbatu. tetumbuhan liar. galeri lukisan. panggung seni.

senang rasanya bertelanjang kaki di eloprogo. saya tak ingat, kapan terakhir bertelanjang kaki di tanah. halaman rumah di jogja sudah berkonblok, kecuali kebun ayah. kos dan kantor, juga tak menyisakan tanah secuilpun untuk berlarian. dibawah belasan pohon kelengkeng dan rambutan, saya berlarian. riang.

saya berlarian menuju pinggir sungai. dari atas, saya bisa menelan indahnya sungai yang berjalan menderas. pagar halaman dengan belasan pohon kelengkeng dan rambutan ini adalah tetumbuhan singkong, ilalang liar, pohon pisang, jati kecil dan pohon salak. tapi, saya masih bisa mengintip keruhnya sungai Elo.

keriangan ini menjadi berlipat saat lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah memecah celengan rindu selama seminggu. dan tiga jam menjadi cuilan waktu yang menyenangkan. di halaman tanah berkerikil dengan tetumbuhan liar, dengan gemericik aliran sungai Elo, kami memecah rindu. tiga jam.

terima kasih, sudah boleh menyegarkan jiwa di surga dunia ini.

Written by femi adi soempeno

January 22, 2008 at 1:39 am

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. akhirnya ku menemukanmu !
    ah, eloprogo…aku juga sudah lama tak lagi bertelanjang kaki, memasrahkan kulitku di sentuh tanah….
    ayoo ke sana lagi yak !

    ijhem

    January 24, 2008 at 6:08 am

  2. hmm..kemaren aku nemu kontan edisi lamaa bangeet, taun 2006, eh, ternyata ada namamu, mbak. aku terharu…

    sayang aku ga bisa terlalu lama disana kemaren ya, such a waste.. tapi sangat sangat sangat menyenangkan bersama teman2 baru disana..huehuehuee… waktuku sudah habis.
    my time’s running out.

    warm rgds,
    -di

    j'adore didi

    January 28, 2008 at 5:22 am

  3. waduuh mbaca postingane Mbak Femi ttg sungai Elo, aku jadi ingat novelnya Romo Mangun ” Balada dara – dara Mendut “( klo gak salah) settingnya kan di pinggir sungai Elo (btw cikal bakal SPG Virgo Fidelis Ambarawa, sekarang jadi SMU ya ?)

    piet

    January 30, 2008 at 3:08 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: