The red femi

telepon cinta

with 2 comments

sepertinya kami ada di dalam kelas dan mengacungkan tangan saat pak guru mengabsen. “hadir!”

jogja masih basah saat kami membikin temu janji pukul 6 sore. berbincang. meregang rindu. membikin jalan setapak cinta ini menjadi lebih panjang. berjejalin lebih erat. hangat.

suaranya lirih. tapi dari kejauhan, saya bisa membayangkan senyumnya yang nakal dengan aksen indonesianya yang sudah berantakan. saya jadi membayangkan hangatnya pelukannya. dulu.

padanya saya bilang, “aku kangen.”

“kenapa kangen?” tanyanya. ini adalah pertanyaan menyebalkan yang pernah saya dengar.

“apakah harus ada alasan untuk kangen?” saya balik bertanya.

“iya …” jawabnya.

sekenanya, saya membikin alasan. “karena kamu jauh. kalau dekat, bisa jadi aku nggak sekangen saat ini.”

saban sabtu, ungkapan ‘kangen’ ini lebih mudah diumbar. juga, lebih banyak diumbar. dengan suara yang sedikit tertahan dan kekesalan kecil karena jarak kami yang berjauhan. hingga ‘kangen’ menjadi sebuah kata yang dimuntahkan dengan sebuah kesungguhan. ya, dan sabtu adalah ajang mengumbar kangen. tawa renyah. rasa cemburu. membagi ilmu. mengiris kedewasaan.

baru saya tahu, nyatanya ia tak bisa makan soto padang, rendang, sate padang, lamang baluo dan teh talua dalam waktu yang bersamaan. terlalu banyak. saya membayangkan dia berteriak, “emang perut gue sumur??” hahaha … nyatanya dia tak berteriak begitu. “coba femi sedikit lebih dewasa …” katanya.

baginya, ini bukan soal cemburu dan tidak cemburu.

tetapi soal hati yang sedikit terusik saat saya bercerita soal anu, anu, anu, anu, anu, anu, anu … . iya, soal teman-teman laki-laki yang mengerubungi kehidupan saya. eh, teman lo, hanya teman. nyatanya, umbaran cerita ini terlalu berlebihan buatnya. padanya saya bilang, “maafin aku ya …” rasa bersalah itu kemudian muncul.

tapi bukan dia kalau tak bisa membikin saya lekas tertawa kembali. “lho, dia itu duda lo, kaya, ganteng …” godanya, menunjuk pada salah satu tokoh yang saya tulis dalam buku kedua saya. ini dia bagian dari perbincangan yang saya paling nggak doyan. digoda. “saya mendukung kok kalau kamu sama dia …” katanya lagi. halah. dan seperti biasa, saya buru-buru memamerkan rasa sebal saya padanya. mau tahu apa balasannya? sebuah tawa yang renyah. aiiih! “coba kamu ada disini, sudah kucubitin kamu!” kata saya, menyerah.

sabtu malam juga masa untuk mengumbar ciuman. kali ini, kado ciuman untuk saya berlimpah! lebih dari itu, sabtu adalah sebuah penanda. sebuah patok. untuk sebuah rasa kangen yang lunas terbayar.

Written by femi adi soempeno

February 3, 2008 at 10:30 pm

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. eh..mbak kemana aja..????

    escoret

    February 4, 2008 at 3:00 am

  2. jadi kangen yogya kekekekeke
    apa fe judul buku keduanya? bersedia dikirim plus ttd nya😉

    cyn

    February 4, 2008 at 3:49 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: