The red femi

telepon cinta

leave a comment »

sudut mata ini mengerut. ingin rasanya menangis. kali ini bahagia.

perbincangan lebih dari dua jam lewat pesawat telepon merupakan representasi dari tabungan rindu kami yang terpecah. seminggu. menumpuk. tinggi rindunya segunung, bahkan lebih. rindu ini sungguh menguras energi. tapi kerinduan ini memecut hati, kian kuat, kian kokoh, kian membentuk, kian utuh. lewat udara, jarak bermil-mil jauhnya mengantarkan derai tawa kami, dan juga secuil kemanjaan.

langkah kami semakin selaras seirama. kami membutuhkan pengertian. dan, stok pengertian itu selalu ada. pendeknya, kompromi. sungguh, saya bersyukur atas kehadirannya dalam hidup sejak empat tahun belakangan. bahagia ini tidak tanggal. menyenangkan. sabtu pukul 18.00 kian menguatkan apa yang kami mulai sejak awal tahun ini.

kami membincangkan unit apartemen. ah, lucunya. lelaki dengan pjamas kotak-kotak ingin tinggal di jakarta kelak? “maintenance enggak repot, sementara bisa disewakan saat aku masih ada disini,” katanya. boleh boleh. nanti ya saya carikan segepok brosur hunian vertikal di jakarta.

kami juga membincangkan rencana bulan sembilan. iiih, kan masih lama! tapi kami akan menabung keinginan dan kerinduan untuk bulan sembilan. mau ini. mau itu. “aku mau naik angkutan umum di japan nanti, tidak usah pakai mobil,” kata saya. iya, iya. kemudian dengan garangnya ia memamerkan beragam angkutan umum di japan. uwh. jakarta mana punya ya. tapi, kelak jakarta pasti punya.

yang jelas, nanti jika berjumpa kembali kami akan membandingkan lebar lingkar pinggang celana. “kamu kan lebih besar dari aku!” kata saya, ngotot. agaknya ia tak mau mati gengsi. “itu karena aku lebih tinggi dari kamu, sayang. jadinya terlihat lebih besar!” hahahahahaha … lihat. lihat saja nanti.

obesitas. berat badan. ukuran pakaian. asupan makanan. malas olah raga. kami menjejerkan sejumlah ejekan. untuk kami tertawai bersama. coba saja lihat, kabel putih pesawat telepon ini juga ikut tertawa melihat polah kami.

kami mengenang masa sekolah. bandelnya femi hingga DO. “itu bener ya, kamu DO dulu? kok bisa?” tanyanya, terheran. ah, harusnya kami berjumpa sepuluh tahun silam. biar saja ia melihat kelakuan si bungsu di sekolah. malas belajar. melawan guru dan ibu asrama. suka mencuri pepaya di kebun belakang. malas ke gereja. botak. hiiii …

kelak, kami berharap bisa ke Bali. mencacah waktu diantara belantara jam kerja. liburan. saling mendekap hangat sepanjang hari. berjejalin dengan Bali yang tak pelit matahari.

humh.

kami merindu.

telepon cinta ini membuat rindu kami habis dalam dua jam. dan nanti setelahnya, akan muncul kerinduan lain yang akan kami tabung untuk perbincangan minggu depan. saya tetap disini. ia juga masih disana. kami bergerak dengan aktivitas yang kami lalui saban hari.

kami juga terus jatuh cinta pada orang yang sama setiap harinya. saya dan dia, tentu saja. 

Written by femi adi soempeno

February 9, 2008 at 12:17 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: