The red femi

ternyata sudah 10 tahun

leave a comment »

saya mengangkat gagang telepon, dan mencari seseorang di seberang sana. yani.

iya, namanya yani. dia adalah sahabat saya. she is my truly best friend. pengalaman batin tentang pertemanan belakangan, membuat saya harus berucap terima kasih padanya. ” … ternyata sudah 10 tahun ya, menyadarkan kita bahwa kita berteman sudah begitu lamanya …”

sebulan silam, saya menemukan potret kami saat masih duduk di bangku SMU. di Santa Maria, Jogja. rok abu-abu dan kemeja batik. kami duduk bersisian lagi di ruang tengah di rumahnya. di lantai, mainan anak-anak berserak riuh. menandakan ada kesibukan yang mengisi aktivitas setelah 10 tahun masa itu berlalu. kami berbincang. kami mencoba menelisik ruang ingatan kami. tentang kelas 3 bahasa yang ugal-ugalan. gaya preman ala anak SMU. keriaan di usia belasan. kami membadut, menghibur dan dihibur.

aih … nostalgia yang membikin kami selalu merasa ‘pernah ada’. sepuluh kalender tahunan teronggok malas di sudut ruangan. dan kami mulai menua.

yani menjadi ibu satu anak, dan istri seorang arsitek muda. menikah sesegera mungkin usai kuliah, adalah pilihan yang diambilnya. dua tahun silam, kabar bahagia itu mampir di telinga saya. kini tawa paolo, anak semata wayangnya, membuatnya semakin betah di rumah.

sementara saya, lajang, mencoba meninggalkan jejak di koran mingguan dan mencoretkan hari di halaman putih ini. dan, menggelisahkan sebuah pertemanan.

dan ternyata sudah 10 tahun.

“nggak terasa ya …” katanya. kami seperti mengulang nostalgia yang kami lakukan sebulan lalu. dan, kami masih terus mengaguminya betapa pertemanan ini terawat dengan begitu baiknya. kami memupuknya dengan pengertian. kami menyiraminya dengan keriaan. daun-daun yang menguning karena kesebalan dan protes yang tak tertahankan, nyatanya tetap saja tak membikin tanaman persahabatan ini melayu.

“terima kasih ya, kamu sudah ada dalam hidupku sepuluh tahun ini. mengenalmu dan memiliki sahabat sepertimu, adalah hadiah terindah yang aku punya,” kata saya.

dan butiran bening ini mengalir pelan dari sudut mata saya.

 

 

Written by femi adi soempeno

April 7, 2008 at 12:29 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: