The red femi

‘thot’

leave a comment »

tiba-tiba saja saya teringat deraian tawa saya dan esti, kakak saya.

siang itu om joko datang ke rumah. dia adik ibu nomor 11. om joko membantu membalikkan mesin jahit ibu, agar terlipat ke bagian dalam, sehingga bisa berfungsi sebagai meja.

kendati ibu jagoan menjahit, rupanya darah itu tidak menitis pada kami berdua. tapi jika dibandingkan esti, saya lebih bisa menjahit. pelajaran menjahit terakhir yang ibu berikan pada saya adalah menjahit celana pendek. dan bisa. sesudahnya, tak lagi punya kesempatan untuk belajar menjahit hingga ibu tutup usia.

itu sebabnya, alih-alih menjahit kemeja. membalikkan mesin jahit ke arah tertelungkup saja sulit. dan om joko membantu kami.

om joko bilang, “nek meh dinggo meneh, diminyaki wae. ibu isih kagungan ‘thot’ ora?”

apa? ‘thot’????

ungkapan itu menggelikan bagi kuping saya dan esti. dulu, saat kami masih kecil dan tinggal di rumah simbah putri, kata ‘thot’ sebagai penunjuk minyak mesin itu sangat sering terdengar. tapi kata itu sudah hilang dari jangkauan gendang telingan kami selama bertahun-tahun.

thot.

ibu, seandainya ibu masih ada. si bungsu ini masih mau belajar bikin kemeja. tentu saja, mesin jahit harus diberi thot dulu biar bisa bekerja dengan lancar.  

Written by femi adi soempeno

May 6, 2008 at 6:48 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: