The red femi

nomer E

with one comment

“satu, bandung, nomer E, kursi yang agak tengah ya,” kata saya, pada si penjaga loket.

saya melihat mimik muka si penjaga. berubah. tangannya yang semula siaga di atas papan kunci, jadi terhenti, dan diletakkan di ujung meja. saya juga jadi ikutan diam. “E? nggak ada …” katanya.

wah, saya jadi ragu sendiri. saya mencemati papan kecil menyerupai kalender meja, berwarna kuning. disana tertera ‘parahyangan 13.30’. benar kok. ini kereta yang akan saya tumpangi. “yang dekat jendela,” jawab saya. tegas. bersemangat. berusaha meyakinkan. ujaran ini dijawab tak kalah mantap, “adanya A atau D.”

oops.

saya baru sadar. saya tahu. saya salah bilang. bukan E, tapi mestinya A atau D. ini bukan kereta ekonomi yang saya tungganggi saban weekend ke jogja. tapi kereta bisnis dan eksekutif yang hendak ke bandung. jadi, tak ada nomer E. adanya, A dan D, itu yang di dekat jendela.

“mulane fem, mlarat ojo kesuwen,” komentar esti, kakak saya, saat saya berbagi cerita soal kecelakaan pembelian tiket nomer E ini. (makanya fem, miskin jangan kelamaan)

Written by femi adi soempeno

July 26, 2008 at 1:01 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Ha..ha..ha.. aku yo lagi mikir kok.. ono bangku sampe E ki opo? tak pikir numpak travel, tapi kan biasane penanda bangkune pake angka, bukan huruf! Ato malah naik pesawat..😀

    tanti

    July 30, 2008 at 1:47 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: