The red femi

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

ubud, dan perbincangan itu

with 2 comments

saya menyambanginya.

ya, bertandang menjumpai piggy, teman masa sekolah dulu di kediamannya di ubud. ke bali rasanya belum ke bali jika tak bertemu dengannya. tawaran untuk plesiran ke sana dan ke mari rasanya tak bisa dibandingkan dengan serunya berbincang dengan piggy.

dan kami membincangkan banyak hal. tentang laki-laki diantara kami. tentang pertemanan. tentang hidup kami. tentang pernikahan. tentang pekerjaan. tentang ide-ide liar. tentang petikan gitar. tentang makanan. tentang bungallow. tentang olahan babi. tentang cita-cita tentang banyak hal.

“aku malah kepikiran begini fem. besok kalo married, enggak usah kasih undangan married, tapi pemberitahuan. jadi, bukan “mengundang anda untuk datang pada pernikahan kami bla bla bla …” tapi “telah menikah  …” bagaimana menurutmu fem?” selorohnya.

kontan, saya tak bisa menahan gelak saja. cerdas juga piggy.

kami berbincang hingga larut malam. hingga kantuk melemahkan kelopak mata kami.

Blogged with the Flock Browser

Written by femi adi soempeno

March 26, 2009 at 2:50 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,

ubud, dan perbincangan itu

leave a comment »

saya menyambanginya.

ya, bertandang menjumpai piggy, teman masa sekolah dulu di kediamannya di ubud. ke bali rasanya belum ke bali jika tak bertemu dengannya. tawaran untuk plesiran ke sana dan ke mari rasanya tak bisa dibandingkan dengan serunya berbincang dengan piggy.

dan kami membincangkan banyak hal. tentang laki-laki diantara kami. tentang pertemanan. tentang hidup kami. tentang pernikahan. tentang pekerjaan. tentang ide-ide liar. tentang petikan gitar. tentang makanan. tentang bungallow. tentang olahan babi. tentang cita-cita tentang banyak hal.

“aku malah kepikiran begini fem. besok kalo married, enggak usah kasih undangan married, tapi pemberitahuan. jadi, bukan “mengundang anda untuk datang pada pernikahan kami bla bla bla …” tapi “telah menikah  …” bagaimana menurutmu fem?” selorohnya.

kontan, saya tak bisa menahan gelak saja. cerdas juga piggy.

kami berbincang hingga larut malam. hingga kantuk melemahkan kelopak mata kami.

Blogged with the Flock Browser

Written by femi adi soempeno

March 26, 2009 at 2:48 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,

pindah rumah

with 3 comments

saya pamitan dari halaman putih ini.

saya hendak meninggalkan rumah yang hangat nan nyaman ini; untuk berpindah ke rumah yang lebih longgar, dengan pekarangan yang ditumbuhi rumput tebal dan semak yang bisa untuk bermain petak umpet. ada pohon belimbing besar di belakang rumah. pohon yang selalu mengingatkan saya pada ayah. juga ada tanaman merambat di sisi bangunan rumah. kali ini, bulik saya tak akan bisa memangkasnya.

silakan datang dan mampir di rumah saya yang baru.

kalian tak perlu mengendarai dokar, becak, mikrolet, metromini, sepeda motor, bus, bahkan pesawat untuksampai ke rumah saya. kelincahan jemari di papan kunci dan tetikus akan mengantarkan kalian ke rumah saya yang baru.

http://www.femiadi.com

saya sudah menyiapkan teh hangat maupun cokelat hangat untuk kalian. kalau mau wine atau beer, ambil saja di cellar di ruang tengah.

terimakasih sudah sering menyambangi rumah dengan halaman putih ini. membagi tawa, juga isak tangis. terima kasih.

Written by femi adi soempeno

October 12, 2008 at 6:28 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

mashed potatoes, calon perkedel kentang

with 4 comments

Terbayang di pelupuk mata saya, seporsi mashed potatoes lembut dengan daging babi yang saya cecap di koln, jerman. Aih.

Saya selalu menebak-nebak ramuan yang membikin mashed potatoes ini terasa yummy. Ada rasa bawang yang samar-samar. Juga ada rasa asin dari garam dan merica yang menyeruak pelan. Capek menebak, saya pun googling. Nyatanya saya menemukan seribu satu racikan yang membikin mashed potatoes terasa menendang dengan lembut di lidah dan kerongkongan.

Dan hari ini saya membuat mashed potatoes dengan bumbu a la femi. Yaps, seadanya saja, asal tetap lembut dan nikmat. Usai merebus kentang dengan kaldu sapi, saya menyisihkannya untuk saya gerus dengan mesin penggerus kentang secara manual. Bukan, bukan ditumbuk, tetapi diperas. Humh. Bagaimana menjelaskan alatnya ya. yang jelas, saya mengangkut alat penggerus kentang itu dari ace hardware.

Agar kentangnya berasa nendang, saya memanaskan margarin di wajan antilengket. Usai lumer, saya membubuhinya dengan bawang putih yang saya rajang dengan halus, blackpepper, whitepepper, garam dan susu beruang. Sesudah berkolaborasi semuanya, saya mengangkatnya dan memasukkannya dalam kentang yang sudah tergerus dengan sempurna. Saya mengaduknya, dan yummy!

Pagi tadi saya memasangkan mashed potatoes dengan tumis ampela-sosis-pakcoy-gambas-wortel. Sementara siang ini saya menjodohkannya dengan daging sapi kecap.

Ada yang mau mashed potatoes bikinan saya?

Saya amat-amati, mashed potatoes ini kalau dicelupkan dalam telur kocok kemudian digoreng, kok mirip perkedel kentang. Tapi enggak ah. Saya suka mashed potatoes ini. begini saja. barangkali bisa disebut sebagai calon perkedel kentang. Bagaimana?

Written by femi adi soempeno

September 27, 2008 at 9:38 am

kursi malas dan bantal batik, perpaduan yang sempurna

with one comment

Saya pikir, saya lekas sembuh bukan karena imunos maupun dexaflox dan theragran-m yang diberikan dokter sidharto, tapi karena kenyamanan kursi malas di rumah.

Sungguh, kursi malas itu enggan membuat saya beranjak. Kursi itu terbikin dari pentil berwarna biru. bagian kakinya bisa ditarik memanjang sehingga kaki bisa selonjor dengan nyamannya. Sementara itu bagian punggung kursi bisa disetel hingga landai. Ditambah, ada dua bantal batik yang menyangga punggung agar lebih nyaman, Jadinya, bisa bermalas-malasan dengan sempurna.

Enaknya.

Kursi itu dipesan ayah secara khusus untuk ibu, delapan tahun silam. Ketidakberdayaan ibu untuk merebah di kasur, membikin ayah memesan kursi model jadoel itu. toh, ibu tetap tidak bisa menggunakannya dengan baik. Pentil yang menjadi penopang kursi justru membikin ibu kesulitan untuk mengangkat tubuhnya. Hasilnya, ya si bungsu ini yang pancikan demi menggeret tubuh ibu ke atas.

Dan kini giliran saya yang menggunakannya. Membikin badan ini menyembuh lebih cepat. Bukan karena obat, tapi karena kursi malas ini.

Terima kasih.

Written by femi adi soempeno

September 26, 2008 at 9:40 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , , , ,