The red femi

disorientasi so[ buntut

with one comment

Dari kejauhan, kakak saya mentertawakan saya. Sialan.

Awalnya adalah godaan buntut sapi di superindo. Sepertinya menakjubkan membikin sop buntut di rumah. Bumbunya? Beli saja yang instan. Bamboe menyediakan bumbu oxtail soup. Dan saya mengangkut beberapa irisan buntut sapi. Sedap!

Tapi, olala, ternyata sedang tidak tersedia bumbu instan Bamboe untuk sop buntut. Kalau begitu, barangkali bisa diganti rawon saja. isinya, ya buntut sapi ini. selain buntut, saya mengangkut daging sapi untuk dibikin kaldu.

Sampai di rumah, karena tidak makan nasi, ya saya mengiris dua gelundung kentang. Ada empat irisan daging berukuran sedang, dan juga buntut sapi. Bumbu saya masukkan dalam panci dengan kuah kaldu. Plus irisan kentang. Plus daging dan buntut. Plus telur kampung rebus.

Hasilnya? Duh, entah, sop buntut bukan, rawon juga bukan. Merem sebentar, rasa kuahnya adalan rawon dengan komposisi bumbu dan air yang tidak seimbang. Terang saja, asin mendominasi kuah rawon. Sementara, daging dan buntut serta telur rebus nya baik-baik saja.

Tidak lagi ah. Sop buntut harus untuk sop buntut, bukan untuk rawon begini. Sungguh disorientasi sop buntut!

Written by femi adi soempeno

September 24, 2008 at 9:42 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , , ,

saya hanya bisa memangkasnya saja

with 2 comments

Saya sudah membiarkannya lebih dari seminggu sejak kedatangan saya ke Jogja.

Tanaman tetean itu menggondrong. Pucuk daun yang muda menghijau kian matang dan menunjukkan kekokohannya sebagai tanaman pagar. Makin liar. Makin menggeliat dengan kasar. Dan saya belum juga memotongnya meski saya sudah punya pemotong tetean yang baru yang saya angkut dari Jakarta.

Gunting pemotong ini bermerek dagang Green Land. Mestinya, ini adalah pemotong rumput. Dari bungkusnya sudah tertera jelas: Grass Shears dengan putaran hingga 90 derajat. Warnanya merah muda dengan kombinasi merah tua. Desain pemotong ini sangat nyaman untuk dipegang.

Sebelumnya, saya sudah menggunakan Green Land yang lebih kecil, pruning shears. Yaitu, yang bisa memangkas dahan diameter yang lebih tebal. Misalnya, dahan tetean yang sudah mengeras dan menebal. Pemotong yang lebih kecil dengan mata pisau yang lebih pendek memudahkan segalanya.

Ingin rasanya berkebun lagi. Sungguh-sungguh berkebun. Memastikan bahwa ada begitu banyak hijau-hijauan di sepetak tanah di rumah. Seperti yang dilakukan ayah dulu, menyingkirkan fajar dan menyambut senja dengan mengoprek pupuk, dahan kering, pucuk yang menghijau dan cipratan air segar untuk membasuhi tanaman.  

Mungkin tidak saat ini. Tapi nanti, pasti cuilan tanah di rumah akan kembali menghijau. Pasti. Saat ini hanya bisa pangkas memangkas saja.

Written by femi adi soempeno

September 24, 2008 at 4:58 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,

pocari sweat dan bear brand

leave a comment »

Belakangan kulkas saya selalu penuh dengan pocari sweat dan bear brand.

Saat mulai terkapar di Jakarta dua minggu lalu, tidak sedikit kerabat yang menganjurkan untuk mengasup pocari sweat. Wah. Sebenarnya saya tak begitu suka minuman ini. rasanya asing di lidah saya, tidak sebersahabat teh hangat atau cokelat panas kesukaan saya. Rasanya malah seperti kolaborasi air, gula dan garam dengan sedikit perasan jeruk nipis. Hiyh.

Toh, saking banyaknya yang meminta saya untuk mengisi tubuh dengan pocari, saya pun menurutinya. Awalnya, saya hanya bisa menghabiskan satu botol saja. selebihnya, saya memilih jus jambu merah dan teh prendjak dengan gula tropicana. Setiba di jogja, saya makin menggila menukarkan lembaran rupiah saya dengan pocari sweat. Dalam sehari, saya bisa menghabiskan sedikitnya lima botol pocari.

Susu beruang? Ah, yang ini jangan ditanya. Ini susu steril kesukaan saya. Plain, dan enak diminum selagi dingin. Entah sugesti, entah karena khasiatnya, saya selalu merasa lebih baik setelah minum susu beruang ini.

Dan sampai hari ini, kulkas saya masih penuh dengan pocari dan susu beruang. Tapi maaf ya, kali ini saya sedang tidak ingin berbagi.

Written by femi adi soempeno

September 23, 2008 at 5:01 am

berebut perhatian laki-laki dengan laki-laki

leave a comment »

Awalnya adalah sebuah reriungan kecil di dixie, sebuah warung makan yang cukup cozy di Jogja.

Perbincangan saya dengan seorang teman lama begitu hangatnya. Dia banyak bercerita tentang kehidupannya. Saya tahu, dia mulai terbuka dan berbicara terus terang tentang orientasi seksualnya sebagai laki-laki yang menikmati kehangatan dari laki-laki. Tentang rasa cemburu dengan laki-laki lain yang sudah tidur dengan pasangannya. Tentang permainan dahsyat di atas ranjang di sebuah siang dengan seorang laki-laki yang sudah beranak-istri.

Hingga saya mengganti posisi duduk saya agar lebih intim. Dan ternyata ada pemandangan bagus dari balik kaca sebelah tempat kami duduk. Seorang laki-laki dengan kaos merah marun, berkacamata, dan terlihat bersih. Sejurus, laki-laki ini memindahkan posisi duduknya sehingga bisa mengamati meja saya dengan lebih cermat.

Saya merasa, kami sering beradu pandangan. Sampai akhirnya saya membisiki si teman lama, “Eh, wong lanang klambi abang kae nggatekke aku terus!” Tanpa saya duga, si teman lama ini berujar, “Ora fem, dheweke ki ndeloki aku terus!” oh, shoot! Saya hanya terdiam, mencoba menyadarkan diri bahwa saya sedang berebut perhatian seorang laki-laki dengan laki-laki. Owh!

Dan kami mulai berseteru dengan perasaan kami masing-masing tentang perhatian laki-laki dengan kaos merah marun itu. “Dia merhatiin aku!” dan berbalas, “Enggak, aku!” dan begitu seterusnya.

Hah. Entahlah.

Written by femi adi soempeno

September 22, 2008 at 5:03 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

belimbing dan kenangan dengan ayah

leave a comment »

jantung saya terasa mau berhenti saat mendapatkan sekeranjang buah dari teman. Belimbing. Ya, belimbing. Bukan belimbing wuluh, tetapi belimbing bintang.

Belimbing selalu mendekatkan saya pada ingatan akan ayah.

Sejak kepindahan kami sekeluarga 20 tahun silam ke Bumijo, ada pohon yang selalu dirawat dengan baik oleh ayah, yaitu belimbing bintang. Pohon ini ada di ‘rumah kecil’, begitu kami biasa menyebut. Pohon ini dulunya kecil, bahkan saya tak pernah mengira akan berbuah manis hingga ayah tutup usia, dua tahun silam.

Ayah rajin merawatnya, memberinya ruang untuk mengokohkan akar. Hingga batangnya mengeras, dedaunan merindang dan membikin pelataran kecil di rumah kecil menjadi teduh. Sesekali, batang pohon belimbing menjadi latar belakang untuk acara potret keluarga.

Belimbing berbuah. Ayah tak pernah sanggup untuk memetiknya sendiri. Dan ayah membikin ‘sengget’ alias bilah bambu panjang dengan pisau di bagian ujung untuk memotong buah belimbing yang matang agar terjatuh dan bisa ditangkap dengan tangan. Selebihnya, ayah juga yang paling rajin memungut belimbing yang berjatuhan, membersihkannya, dan mengiriskannya untuk kami.

Bunga pohon belimbing kecil, dan sangat mengotori pelataran. Dedaunan yang kuning dan mengering usai musim panen belimbing, tak kurangnya membuat ayah bekerja lebih giat agar pelataran tetap terlihat bersih. Dan ayah tak pernah mengeluh.

Belimbing yang ada di tangan saya ini selalu mengingatkan saya pada ayah. Yang setia pada semua tanamannya. Yang mencintai tanamannya. Yang merawat kehidupan untuk semua tetumbuhannya. Termasuk belimbing. Ulat dalam belimbing yang membusuk disingkirkannya agar kami bisa tetap makan buah belimbing dari kebun sendiri. ayah selalu mengiriskan untuk kami.

Ayah pergi, belimbing pun mati. Bulik tidak seperti ayah. Dia benci tanaman. Semua tanaman ayah dimusnahkan, termasuk belimbing.

Semoga ayah tidak marah ya.

Written by femi adi soempeno

September 21, 2008 at 9:48 am

akhirnya opname juga

leave a comment »

Selembar kertas putih hasil laboratorium sudah memastikan, bahwa saya positif tipes dengan hasil cek imuno 6 alias indikasi kuat infeksi typhoid aktif.

“Mau opname di rumah sakit atau rawat jalan?” tanya internis rumah sakit Panti Rapih, dokter Sidharto. Ada opsi rawat jalan, ya saya memilih untuk rawat jalan.

Usai mengantongi tiga jenis obat, saya belanja asupan sehat. Mulai dari susu beruang, pocari sweat, UC 1000, ayam kampung dan sayuran segar. Saya siap merawat diri saya sendiri di rumah. Konon, penyakit tipes ini hanya butuh istirahat yang sangat istirahat. Pendeknya, ya menjadi pemalas di rumah.

Tapi hitungan saya meleset. Saya bukannya membaik, malah semakin terkapar selama semalaman mencoba rawat jalan. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengerahkan sejumlah teman dekat untuk membantu saya. *thanks untuk yani dan joko*

“Suster, saya minta makan,” kata saya pada suster perawat di ruang transit, usai jarum infus menusuk tangan kiri saya. Dan yani uring-uringan. “Ih, malu-maluin!” lhah, tapi bener. Saya sungguh kelaparan sejak saya memberikan rebusan ayam dan nasi lembek pada bulik, dan penjual gudeg terbalik menyodorkan nasi putih dengan gudeg, pada yani.

Ah, akhirnya saya opname juga, di ruang Carolus 5, kamar 512. Ini pertama kalinya saya opname.

Terima kasih untuk kerabat yang menemani saya selama terkapar di rumah sakit. Paimun, yang dua malam menghabiskan malamnya di ranjang sebelah. Kunto yang membelikan ekstrak cacing dan menjemput saya untuk pulang. Juga kunjungan dari kerabat Galangpress, keluarganya yani, keluarganya mbak ika, keluarganya Lia dan (akhirnya ketahuan juga) kakak-kakak saya.

Terima kasih.

Written by femi adi soempeno

September 19, 2008 at 5:12 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

medika permata hijau, owh, shoot!

leave a comment »

Pertolongan pertama yang paling dekat dari tempat saya tinggal dan berkantor di bilangan Slipi-Kebayoran Lama adalah rumah sakit Medika Permata Hijau (MPH).

Panas tinggi dan keringat dingin tak menentu selama tiga malam, menyurung saya untuk memeriksakan darah di laboratorium MPH. Demam berdarah dan tipes. Juga, sekalian beberapa cek yang lain seperti gula darah sewaktu, kolesterol, SGPT SGOT. Hasilnya, semua normal. Bahkan demam berdarah dan tipes nya negatif.

Tapi, kedinginan dengan panas tinggi pada pukul 14.00 di Jakarta adalah tidak wajar. Saya menyambangi kembali MPH dan bertemu dengan seorang internis. Saya membawa serta hasil laborat yang baru saya ambil dua jam sebelumnya.

Perbincangan dimulai. Nyatanya, keluhan saya diabaikan. Sebaliknya, si internis justru berceloteh tentang lakunya koran yang kami produksi dan ekonomi yang menyesakkan di negeri ini. ujung-ujungnya, si internis ini bilang, sembari melihat hasil laborat saya, “Kamu pasti demam berdarah itu. muka kamu saja sudah merah begitu. Pelan-pelan, nanti trombositnya pasti akan turun dan haemoglobinnya pasti juga akan drop. Rawat inap ya, langsung masuk …”

Owh, shoot.

Kebetulan, keesokan paginya, masih ada urusan penting yang harus saya bereskan. “Kasih saja saya pengantar rawat inap dan obat, tapi saya tidak bisa masuk sekarang,” jawab saya. I need second opinion. Bagaimana mungkin hasil lab yang negatif untuk demam berdarah, tapi si internis sudah memastikan saya demam berdarah. Apalagi, si internis tak memperhatikan keluhan saya.

Dan saya pulang dengan sejuta sumpah serapah dan tanda tanya di benak tentang rumah sakit MPH ini.

Esoknya, saya kembali cek darah di rumah sakit Panti Rapih di Jogja. Hasilnya, saya positif tipes dengan hasil cek imuno 6 alias indikasi kuat infeksi typhoid aktif.

Written by femi adi soempeno

September 13, 2008 at 5:07 am