The red femi

Posts Tagged ‘ayah

kursi malas dan bantal batik, perpaduan yang sempurna

with one comment

Saya pikir, saya lekas sembuh bukan karena imunos maupun dexaflox dan theragran-m yang diberikan dokter sidharto, tapi karena kenyamanan kursi malas di rumah.

Sungguh, kursi malas itu enggan membuat saya beranjak. Kursi itu terbikin dari pentil berwarna biru. bagian kakinya bisa ditarik memanjang sehingga kaki bisa selonjor dengan nyamannya. Sementara itu bagian punggung kursi bisa disetel hingga landai. Ditambah, ada dua bantal batik yang menyangga punggung agar lebih nyaman, Jadinya, bisa bermalas-malasan dengan sempurna.

Enaknya.

Kursi itu dipesan ayah secara khusus untuk ibu, delapan tahun silam. Ketidakberdayaan ibu untuk merebah di kasur, membikin ayah memesan kursi model jadoel itu. toh, ibu tetap tidak bisa menggunakannya dengan baik. Pentil yang menjadi penopang kursi justru membikin ibu kesulitan untuk mengangkat tubuhnya. Hasilnya, ya si bungsu ini yang pancikan demi menggeret tubuh ibu ke atas.

Dan kini giliran saya yang menggunakannya. Membikin badan ini menyembuh lebih cepat. Bukan karena obat, tapi karena kursi malas ini.

Terima kasih.

Written by femi adi soempeno

September 26, 2008 at 9:40 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , , , ,

belimbing dan kenangan dengan ayah

leave a comment »

jantung saya terasa mau berhenti saat mendapatkan sekeranjang buah dari teman. Belimbing. Ya, belimbing. Bukan belimbing wuluh, tetapi belimbing bintang.

Belimbing selalu mendekatkan saya pada ingatan akan ayah.

Sejak kepindahan kami sekeluarga 20 tahun silam ke Bumijo, ada pohon yang selalu dirawat dengan baik oleh ayah, yaitu belimbing bintang. Pohon ini ada di ‘rumah kecil’, begitu kami biasa menyebut. Pohon ini dulunya kecil, bahkan saya tak pernah mengira akan berbuah manis hingga ayah tutup usia, dua tahun silam.

Ayah rajin merawatnya, memberinya ruang untuk mengokohkan akar. Hingga batangnya mengeras, dedaunan merindang dan membikin pelataran kecil di rumah kecil menjadi teduh. Sesekali, batang pohon belimbing menjadi latar belakang untuk acara potret keluarga.

Belimbing berbuah. Ayah tak pernah sanggup untuk memetiknya sendiri. Dan ayah membikin ‘sengget’ alias bilah bambu panjang dengan pisau di bagian ujung untuk memotong buah belimbing yang matang agar terjatuh dan bisa ditangkap dengan tangan. Selebihnya, ayah juga yang paling rajin memungut belimbing yang berjatuhan, membersihkannya, dan mengiriskannya untuk kami.

Bunga pohon belimbing kecil, dan sangat mengotori pelataran. Dedaunan yang kuning dan mengering usai musim panen belimbing, tak kurangnya membuat ayah bekerja lebih giat agar pelataran tetap terlihat bersih. Dan ayah tak pernah mengeluh.

Belimbing yang ada di tangan saya ini selalu mengingatkan saya pada ayah. Yang setia pada semua tanamannya. Yang mencintai tanamannya. Yang merawat kehidupan untuk semua tetumbuhannya. Termasuk belimbing. Ulat dalam belimbing yang membusuk disingkirkannya agar kami bisa tetap makan buah belimbing dari kebun sendiri. ayah selalu mengiriskan untuk kami.

Ayah pergi, belimbing pun mati. Bulik tidak seperti ayah. Dia benci tanaman. Semua tanaman ayah dimusnahkan, termasuk belimbing.

Semoga ayah tidak marah ya.

Written by femi adi soempeno

September 21, 2008 at 9:48 am

sebuket mawar

leave a comment »

nama tokonya ‘mawar’.

letaknya di bilangan kotabaru, jogja. sudah lebih dari setahun, gerai ini menjadi kunjungan rutin saya saban pulang jogja. dan pesanannya selalu sama: dua buket mawar merah, atau merah muda. tanpa tali, tanpa pita. hanya diikat dengan perekat saja. tanpa plastik. begitu saja.

bersama dua buket mawar itu, saya bersimpuh untuk mendaraskan doa. penuh syukur, berterima kasih dan mohon pengampunan. untuk ayah dan ibu. saya tahu persis, Dia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.

“dongane bapak, bar nyewu kon lungo…” kata esti.

ah. saya jadi pengen menangis. harusnya babe ada disini melihat ulah si bungsu.

Written by femi adi soempeno

August 3, 2008 at 11:40 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

sakit kanker dan rahasia umur

with 4 comments

tak ada yang tahu soal usia. hanya Dia saja.

pagi tadi ada ajakan pulang ke jogja bersama. dari abang. istrinya baru saja mengangkat kankernya. “tapi mau mutus rantai keturunan kanker,” katanya. iya. apapun dilakukan agar tak menyebar. agar tak beranak pinak dan menggerogoti tubuh.

abang juga cerita tentang tantenya. empat puluh tahun silam, perempuan ini sudah mengangkat rahimnya. kanker juga. empat dasawarsa tak ada tanda penyebaran kanker. bahkan bibit secuil pun tak ada. “tiba-tiba minggu lalu dadanya sesak, diperiksa, ternyata ada kanker di paru-parunya. dicek lagi, ternyata itu sekunder, yang primer ada di rahim,” bebernya. dan itu sudah stadium empat. owh. “dan secara medis, sudah nggak lama lagi,” imbuhnya.

kanker.

kanker sudah mengantarkan ayah saya pada ibu di rumahnya yang baru. juga beberapa teman yang lain. seperti pencabut nyawa saja. saya masih ingat betul bagaimana suster perawat dengan canggung bilang, “ya mbak nya tahu sendiri lah bagaimana orang yang sudah kena kanker …” ia tak mau meneruskan kalimatnya.

senyatanya, ada pula yang memainkan penyakit ini. sebuah blog yang kini tak lagi mengudara menyisakan polemik panjang tentang leukemia yang dideritanya. dideritanya? ah, tidak juga. serangkaian jawaban masih saya simpan. apalagi kalau bukan soal kebohongannya. saya heran. saat semua orang menginginkan sehat, kenapa justru mengaku-aku sakit demi meraih simpati dan menggemukkan hits pada blognya. heran.

apapun itu, penderita kanker hidup dariNya. dan juga, dari segenap karma baik yang dikantonginya.

Written by femi adi soempeno

July 24, 2008 at 6:27 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

I’m home

with 2 comments

hijau.

kanan dan kiri saya hijau, selepas cikampek. selamat datang pada alam nan indah. kian ke timur, kian indah. jogja membikin saya tersenyum pagi ini.

kereta fajar yang saya tumpangi melaju pesat. ah, rasanya seperti terbang. membelah hijaunya ladang padi dan kebon tebu. jalanan begini selalu mengingatkan pada rumah ayah dan ibu yang baru. I miss u soo much dad, mom …

saya pulang.

mata ingin mengatup sementara terik semakin menyengat. kotak yang bergerak-gerak ini seperti menyediakan tempat tidur yang sangat nyaman: kolong kursi, dengan beralaskan koran. dan saya menggeletak.

penjual pecel membikin saya sabar menanti. sementara sekotak getuk sokaraja dan sekarung lanthing harus saya bungkus lantaran mimik muka si penjual yang kerutannya tebal, tanda sudah cukup tua. seperti mengingatkan saya, betapa saya sangat bersyukur, ayah saya tak harus bekerja ekstra keras hingga ujung usianya.

dad, mom, I’m home.

Written by femi adi soempeno

May 31, 2008 at 11:59 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , , ,

berkebun lagi

with 2 comments

saya berpikir untuk menanami kebun ayah dengan tanaman berpot kembali.

sejak bulik tari membabat habis tanaman di kebun ayah dengan alasan capek menyiraminya saban hari, saya enggan berkebun. mentok-mentoknya, ya menggunduli tetehan di depan rumah. itu saja. dan itu bukanlah alasan bulik untuk capek dan jatuh sakit karenanya.

tapi melihat mas eben dan mbak lina membongkar tanaman di kebun ayah. “boleh ya tanah ini saya pakai untuk ditanami tanaman?” tanya mereka. ah, saya jadi rindu ayah. saya rindu melihatnya mengenakan caping. saya rindu melihatnya seharian tak ada di rumah induk dan memilih di kebun. saya rindu melihatnya kelelahan sehabis berkebun.

ya, saya rindu ayah.

dan saya rindu berkebun, untuk ayah.

saya rasa weekend ini saya akan pulang dan membeli sejumlah pot. saya akan belanja tanaman. rasanya ini bukan ide buruk. berkebun lagi. dan pasti keduanya tak akan menggunduli tanaman yang saya tanam. keduanya juga tak akan lalai menyirami kebun di tanah ayah.

saatnya berkebun kembali.

 

Written by femi adi soempeno

May 25, 2008 at 2:55 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

jogja, menjelang pulang

with 4 comments

dua tas punggung sudah ada di bawah. saya bersiap pulang.

saya bakal mengangkut dua buket bunga mawar untuk ayah dan ibu. untuk saya letakkan di depan rumahnya. sembari membasuh halaman depan dan menyingkirkan ilalang nakal.

saya juga bakal membikin roti panggang dan memasangkannya dengan secangkir cokelat hangat. keduanya disantap dengan leyeh-leyeh di kursi malas. duh, rasanya pas. sepertinya ini bakal menjadi weekend yang seru. sementara, saya juga sudah membawa serta beberapa film kartun, film drama dan film dokumenter untuk dijelajahi di ujung minggu.

sungguh, saya tak sabar pulang.

menghirup wanginya bau stasiun kereta api lempuyangan. bersimpuh dan mendaraskan doa untuk ayah dan ibu di rumahnya. berbincang dengan beberapa teman.

balance life.

ada yang mau ikut?

Written by femi adi soempeno

May 23, 2008 at 10:27 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,