The red femi

Posts Tagged ‘bapak ibu

sudah 2 tahun

leave a comment »

sudah dua tahun ini ayah tidak di rumah bumijo.

pulang kepada si Pembikin Hidup. bersimpuh. memohon ampun atas semua kesalahan duniawi. bersyukur atas semua kasihNya yang tak berkesudahan: keluarga yang hangat. kasih, cinta dan perhatian ibu. enam anak yang berbakti. teman-teman yang mengitari. kesempatan untuk bertobat.

terima kasih Tuhan, untuk ayah yang menularkan segunung pengalaman batin selama dua puluh enam tahun bersama saya.

dan kursi-kursi dipinggirkan. tikar pun digelar. satu meja di sebelah ujung dengan salib, potret ayah dan ibu, dan lilin tinggi. satu per satu sandal berjejalan menyesaki pintu depan. duduk, meriung. bersimpuh bersama. mendaraskan doa. mengkhusukkan harap agar ayah senantiasa mendapat kebahagiaan di rumahNya dan pengampunan dariNya.

dan, ayah tetap tinggal. disini, di hati.

 

31 mei 2006-18 april 2008

 

Written by femi adi soempeno

April 19, 2008 at 8:57 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

kejutan buat esti

leave a comment »

maaf, saya mengejutkanmu.

banyak. banyak hal yang pasti membuatmu terkejut. gerobok, lemari buku, kursi panjang, kamar tidur, cermin, ruangan baru … bukankah sudah saatnya mendandani rumah ayah?

jangan, jangan bilang kalau nanti akan kamu ganti. tidak usah. si bungsu kan juga punya penghasilan. membikin rumah ayah sedikit menjadi lebih cantik, juga sebuah ujub yang tak bakal berkesudahan. bukankah ayah sudah mewariskan sebentuk tanggung jawab agar kita memikulnya bersama?

itu rumah ayah dan ibu. itu rumah kita. kita berempat sudah mengisinya dengan setumpuk kehangatan dan cinta yang tak mengenal ujung-pangkal. semuanya menderet dalam ruang memori. mari terus mengisinya dengan kebersamaan. bukan rebutan, tetapi berbagi.

sudah saatnya …

 

Written by femi adi soempeno

April 13, 2008 at 9:14 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , , ,

perempuan ketinggalan kereta

leave a comment »

sebenernya sih bukan ketinggalan kereta, tapi kehabisan tiket.

perjalanan liburan paskah sudah di depan mata. dalam waktu yang bersamaan, kyle sakit. duh. rasanya ingin pulang segera. rasanya ingin memasakkan sop panas dan membuatkan secangkir teh hangat buatnya. kyle tidak boleh sakit. 

saya berlarian membereskan pekerjaan mingguan. sementara, redaktur saya sudah mengejar seharian. berganti baju, saya mencoba mengejar antrian kereta. jalanan macet. ah!

bersemangat, saya menaiki tangga stasiun tanah abang dengan berlari. lima antrian di depan saya, mendapatkan tiket terakhir tempat duduk di kereta ekonomi.

saya kehabisan tiket. maafkan saya kyle, semoga masih bisa menunggu.

Written by femi adi soempeno

March 17, 2008 at 11:21 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , , ,

maaf, kereta ini milik kami

with one comment

imlek. libur panjang.

liburan kembali memanggil. tentu saja, pulang ke jogja. memberesi kebun ayah. memangkas daun yang menguning dan batang yang mengering. menjumpai teman-teman lama. belanja. berjejalin dengan lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah melalui udara. aih kenikmatan tiada tara. dan kereta bengawan mengantarkan saya pada kenikmatan sejak tengah minggu hingga ujung minggu ini.

jes jes jes jes …

tiket habis. saya menggelar koran untuk menyandarkan bahu di koridor kereta. ah, semua ingin liburan. semua ingin menderetkan waktunya sejenak di kampung halaman. di dinding gerbong, tercatat: keluarga DRPD Jatibarang, 15-18ABCDE. artinya, ada dua puluh kursi yang dipesan oleh anggota wakil rakyat yang bakal naik dari jatibarang. tujuannya? entah.

tapi kereta penuh. bagaimana mereka nanti bisa masuk. tidak, tidak bisa. dari jatibarang, tak bakalan ada yang bisa masuk. lihat, kereta penuh.

broook broook brooook … dinding gerbong digebuk dari luar. keluarga anggota DPRD itu marah. “Nomer 15-18 harap dikosongkan …” katanya, galak.

“silakan saja masuk kalau bisa. masuk saja. masuk!” seru penumpang dari dalam.

“kami sudah pesan sejak seminggu lalu …” sahut keluarga anggota DPRD itu, masih berbalut kemarahan.

“ya, masuk saja coba. masuk!” jawab penumpang balik.

mana bisa masuk. tersisa sejengkalpun tidak untuk menapak. koridor penuh. semua ingin liburan. semua ingin pulang. kalau memang ingin naik, kenapa tidak naik dari jakarta selagi gerbong kosong.

pak, bu, lain waktu, naiklah dari jakarta ya. atau, beli saja kereta bisnis maupun eksekutif. lebih lega. tak bisa ditantang. bukan keretanya wong cilik.

lihat, saya tak bisa menggerakkan tubuh saya untuk beranjak dari depan bangku nomer 15. maaf ya, kereta ini milik kami.

Written by femi adi soempeno

February 7, 2008 at 5:33 pm

mawar merah dan kecoa

with 2 comments

saya jijik, geli, takut pada kecoa.

meski warnanya cokelat seperti seragam pramuka, tapi enggak deh. saya memilih untuk tidak mendekatinya. lebih baik, mengambil sapu dan mengusirnya jauh-jauh dari saya. ada juga kecoa yang warna cokelatnya lebih muda, dengan corak yang agak bergaris-garis tebal. uwh. hiiiiiiii … h!

siang itu dua buket mawar saya bungkus untuk ayah dan ibu. seperti biasa, saya letakkan di pusara. sembari berdoa di depan rumah ayah, saya menjumput mawar, sesekali menciumnya dan memperhatikan segarnya rona merah mawar. tahu sendiri, saya penyuka mawar, apapun jenis dan warna mawar itu. doa pun saya daraskan untuk ayah dan ibu. semoga bahagia di surga.

mentari yang hangat tak urung membikin bunga mawar yang mengelopak indah itu menjadi kian bersinar. apalagi, di sekeliling saya adalah cenderung gelap, dan hijau tetumbuhan pohon bambu. saya suka pancaran warnanya. terang. dari kejauhan, pasti akan menjadi sentral penglihatan.

tiba-tiba, muncul kecoa dari balik daun bunga mawar. aaaaaaaaaaaah! buru-buru saya lemparkan bunga itu ke arah depan. celakanya, kecoanya keburu melompat dan merangsek dengan cepat ke arah saya. saya pun buru-buru berdiri dan beringsut ke belakang dengan cepat. gosh!

dan paha kanan saya mendadak nyeri.

ayah, kenapa kecoa ini harus muncul dari bunga yang si bungsu bungkus untuk ayah? bisa jadi, ini berasal dari sekitar rumah ayah. huwks. ayah, sakit!

Written by femi adi soempeno

December 2, 2007 at 10:55 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

tidak ada yang menunggu saya di rumah

with 5 comments

entah, belakangan saya menjadi sangat sensitif.

tapi, sebenarnya bukan ‘belakangan’ yang hanya terbvilang satu atau dua minggu saja. bahkan, sudah lebih dari tiga tahun ini saya menjadi sangat perasa, sensitif, peka, mudah tersinggung. itu yang bikin saya mudah menangis meski saya tak sesungguhnya cengeng.

semalam, sahabat baik bercengkerama dengan saya di ruang maya. perbedaan waktu 5 jam membikin kami sering keruwetan memilih jam perjumpaan. disana, mungkin segelas susu hangat menemani obrolan kami. tapi, bisa jadi juga salad. entah. sementara saya disini punya beberapa pilihan menu. cokelat hangat, susu beruang, atau teh hijau panas. pilihan lainnya? ini, seperti sembari sarapan pagi begini.

saya tak ingin menyebutnya pertengkaran. saya hanya ingin menyebutnya sebagai sebuah ego diri saja. iya, ego saya yang terlalu besar. pembicaraan kami adalah soal pekerjaan, kantor, jam kerja dan kebiasaan. tapi ia melihatnya lain: kecanduan akan pekerjaan ini tak akan bisa hilang. uwh, rasanya seperti ada yang melempar linggis ke kubikel saya. sepertinya ada yang menghujani saya dengan ribuan palu yang memberantakkan isi kubikel saya.  

saya, femi, perempuan, 27 tahun, wartawan, penulis.

saya memang suka menulis sejak usia 12 tahun. barangkali, ini sebabnya saya mencandui aktivitas ini. alasan lainnya, karena Dia memberi kemampuan saya untuk menulis. saya menulis agar bisa ‘menjadi femi’. ambisi pangkat dan status yang cepat meyodok? tidak juga. saya dan teman-teman lain di pabrik kata-kata ini menempul rel yang sama. ambisi menimbun penghasilan yang lebih besar? tidak juga. pendapatan saya fixed, berapapun jumlah tulisan saya. itu sebabnya, saya mebnulis agar bisa ‘menjadi femi’. 

saya sampai kebingungan memilih kata-kata untuk menjelaskan mengapa saya datang ke kantor malam hari, bahkan hingga larut atau bahkan menginap di kantor. 

tahu sendiri, saya disini hidup sendiri. esti, kakak saya ada di US. tidak ada lagi orang tua di rumah. famili juga tak banyak yang dekat. sementara, saya mengandalkan hubungan baik dengan teman-teman yang sudah saya anggap saudara sendiri. kalau sudah begini, saya harus apa? tinggal dirumah sepanjang hari? sesiang di rumah, bersihin kamar, tidur nyuci pakaian. sore saat bola raksasa sudah bersembunyi, apa saya tak boleh ke kantor, cari makan dan browsing untuk bahan tulisan? 

bahkan, tidak ada yang menunggu saya di rumah. tidak ada orang yang harus saya layani kecuali diri saya sendiri. dulu saya punya ayah yang harus saya jumpai setiap minggu. dan begitu banyak orang bertanya, “kamu apa enggak capek ke jogja setiap minggu?” saya bosan dengan pertanyaan itu. orang-orang ga tahu betapa saya menyayangi ayahku. saya berusuaha membagi hari untuk bekerja dan pulang ke rumah. kenapa? karena ada ayah yang juga selalu menunggu saya di rumah!!!!!!  

sekarang saya punya siapa? tidak ada. tidak ada siapapun di rumah!

meski ayah tidak ada di rumah dan saya masih tetap pulang, orang-orang juga tetap saja bertanya tanpa bosannya; “kamu nggak capek ya ke jogja setiap minggu? kamu itu pulang buat siapa sih? kan ga ada orang di rumah.”  hampir satu setengah tahun ini, saya juga semakin bosan dengan pertanyaan itu. orang-orang yang bertanya itu bisa bertanya begitu karena ada keluarga yang menunggu mereka saat pulang kantor, bahkan weekend. juga, ada orang yang harus mereka layani di rumah. saya? nggak ada! hanya ayah dan ibu yang menunggu saya di makam untuk mendaraskan doa buat mereka. 

saya rindu makan bareng dengan keluarga. saya rindu bikinin teh atau kopi susu buat ayah. saya rindu pulang dan bercengkerama dengan keluarga. saya juga rindu punya pacar untuk aku bisa berbagi. tapi saya punya apa? nggak punya! 

tiga tahun terakhir saya memampatkan kerjaan agar bisa pulang di ujung minggu untuk ayah. saya pulang larut, bahkan tidak pulang, hanya demi pekerjaan yang usai sebelum deadline tiba. apa saya mengejar status? tidak. gaji tinggi? tidak. semuanya saya lakukan agar bisa mencuri waktu untuk pulang. pulang. p-u-l-a-n-g. 

dan itu belum berubah hingga saat ini. saya membereskan pekerjaan hari senin-selasa-rabu. saya juga masih memilih untuk tidur di kantor atau bekerja hingga larut. mengapa? karena tidak ada yang menunggu saya di kos-kosan. karena saya ingin segera pulang ke rumah jogja. karena saya ingin membikin buku. 

saya sendiri memang addicted dengan pekerjaan ini. soalnya, saya menyukai pekerjaan ini. tapi saya tidak pernah melupakan kodrat sebagai perempuan yang tetap harus melayani suami dan anak kelak. aku sudha menguji diri sendiri untuk menyambangi ayah dulu, sebagai bentuk tanggung jawab anak pada orang tua. saya rasa, hasilnya tidak menegcewakan. saya bahkan bisa menggaransi diriku sendiri, saya tidak akan melalaikan tanggung jawabku sebagai istri bahkan ibu kelak. 

saya sangat sedih saat teman saya bilang, “ga jamin tuch, karena udah adicted itu malah ga bisa hilangin.” dia, bahkan kalian, memang berhak bilang begitu. dia, bahkan siapapun juga, boleh bilang begitu. tapi yang tahu tentang gaya pekerjaan saya, adalah saya, bukan? memangnya kalian pernah menguji saya bahwa aku tidak bisa menghilangkan kecanduan terhadap pekerjaan? enggak pernah. kalian nggak pernah tahu bagaimana saya pernah mengalahkan kecanduan ini untuk ayah saya. 

saya juga sedih saat teman saya bilang, “mat kerja dan kumpulin duitnya ya..buat liburan di Bali nanti”. kalau begitu, saya memilih untuk enggak berlibur ke Bali nanti. buat apa liburan ke Bali dengannya kalau saya tetap terlihat ambisius banget ngumpulin duit biar bisa berjumpa dengannya dan liburan disana. anggap saja saya gagal mengumpulkan duit sehingga tak bisa liburan dengannya.

saya menangis.

bisa ya dia bilang begitu. sepertinya dia melihat saya bekerja hingga larut ini mendapat bonus tambahan yang bisa saya timbun untuk liburan ke Bali. padahal, enggak ada tu bonus lemburan segala macam sehingga bisa mendongkrak pendapatan dan bisa saya gunakan untuk berlibur. saya memang ga punya banyak duit untuk liburan lama. tapi saya harus bersyukur bahwa saya masih punya gaji tanpa harus cari tambalan kanan kiri demi berlibur ke Bali nanti. 

sungguh, kali ini ego yang bicara. saya tidak marah. saya hanya sedih aja chat dengannya semalam.

dan saya tahu persis, teman saya ini bukan ayah saya yang tahu banyak hal tentang saya. dia hanya teman yang tengah belajar menuduh saya.  

Written by femi adi soempeno

November 19, 2007 at 12:28 am

seplastik gede buat femi

leave a comment »

“dicek lagi deh …” kata henny, masih dengan ayub-ayuben, mengantuk.

henny masih jetlag. tapi begitu pantatnya terpaku di kursi, ia tak bisa berhenti bercerita soal esti, soal perjumpaan dengan sepupunya, soal acara makan-makan, soal oleh-oleh. “bahkan esti minta ada satu tas kennethcole beserta isinya harus aku pangku khusus!” katanya. owh!

saya memeriksa satu per satu. bread spreader untuk mas cip dan keluarga. “yang gambar model hantu untuk tamu kalau datang. mmm … mungkin bulik ya!” selorohnya sambil tergelak tanpa henti. ih, kok bilang bulik adalah hantu sih? saya akhirnya tak bisa menahan ketawa saat melihat bentuk bread spreader itu. uhm. iya, mirip! tanda terima kasih untuk om agus, kalender dan CD natal. juga, tas tanda perkenalan untuk mbak anik. senangnya.

selebihnya? untuk femi dunks. kaos kaki untuk sneakers untuk saya. saya pernah menjumpai kaos kaki model beginian di jerman beberapa waktu lalu. warnanya pun lucu. sayang, saya lupa membungkusnya pulang. duh. jadilah saya minta esti untuk membelikannya di sana. juga, refill semprotan pewangi ruangan untuk rumah. juga, messanger bag warna cokelat. juga, wireless mouse. “siapa tahu di jakarta blon ada wireless mouse!” celetuknya. sialan. juga, handbody lotion victoria secret. juga, ipod plus perekam. yang ini, lucu juga. bentuknya menjadi seperti microphone di ruang sidang anggota DPR. suaranya bening dan tersimpan di itunes. seru nih!

esti selalu ingat saya.

iya, betapa dia selalu ingat bahwa kami hanya tinggal berdua. itu sebabnya, dia selalu ingin saya senang seperti dirinya yang senang karena kekomplitan teknologi yang menggenapi hidupnya. lebih dari sekadar gadget yang komplit dan suplai logistik yang teratur untuk si bungsu, esti ingin saya juga menikmati setiap butiran keringat yang memadati brankasnya. “kalau bukan buatmu, buat siapa?” katanya.

seplastik gede ini buat saya. iya, beberapa pernik yang saya akumulasikan dengan kata ‘juga’ dalam tulisan ini. semua dari si sulung, untuk si bungsu. terima kasih. 

Written by femi adi soempeno

November 18, 2007 at 6:49 pm