The red femi

Posts Tagged ‘bersyukur

menjadi 28 tahun

with 2 comments

ada yang tak berubah setahun belakangan ini.

banyak, banyak sekali. potret diri sepertinya sama saja. kubikel tetap saja berantakan. buku kian menggudang di kos-kosan. hunian mungil di palmerah semakin jarang ditinggali. alarm pukul 06.00 pagi tak juga membikin saya bergegas. pukul 22.00 tak mampu memaksa saya untuk pulang dan istirahat.

toh, usia 27 harus saya syukuri sebagai usia yang penuh berkat.

tahun lalu, memasuki usia 27 tahun, saya membubuhkan keinginan dan doa kecil di halaman putih ini. saya ingin menjadi pensil. tapi saya harus menyadari, nyatanya tak mudah menjadi pensil. rasa sakit setiap kali diraut, membuat saya kian runcing, kian terasah menjadi pensil tajam. tapi, saya juga meninggalkan remah-remah dari pensil yang diraut: kekeliruan kecil maupun kesalahan yang menjejak. aih.

dan saya tahu. Dia terus meraut saya untuk menjadi pensil yang lebih baik, lebih runcing, lebih tajam. saya harus belajar banyak. saya harus kian mengasah diri.

Dia memberikan saya banyak hal saat memasuki usia 28 tahun.

pekerjaan yang bagus. talenta menulis yang kian terasah. perjumpaan dengan teman-teman baru yang menyenangkan. berjejalin lagi dengan teman-teman lama yang hilang ditelan kesibukan. menyambangi eropa. menyusun rencana kecil untuk tahun 2008. bersepeda kembali setelah meninggalkan gowesan itu dua belas tahun silam. meriung di kubikel pojok. kesehatan yang lebih terawat. terima kasih.

makan mie di gang mangga bersama chris dan congli, menumbuhkan harapan kecil: semoga senantiasa bahagia dan panjang umur. cheesacake dari congli, tiramisu dari hendra, dan guyuran air serta jabat hangat dari kerabat, juga sebuah doa kecil. terima kasih. kalian begitu baik.

femi. perempuan. lajang. 28 tahun. weekday di jakarta dan weekend di jogja. menulis. saya mencoba mendefinisikan diri saat usia kian menua. tapi sama saja. tak ada yang berubah. tetap menulis. tetap ke jogja di ujung minggu. tetap bekerja di jakarta.  

mas heri, teman dari jogja yang kini bekerja di semarang, pernah membagi cerita tentang katak tuli.

Pada suatu hari ada segerombol katak-katak kecil yang menggelar lomba lari. Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi. Penonton berkumpul bersama  mengelilingi menara untuk menyaksikan  perlombaan dan memberi semangat kepada para peserta. Perlombaan dimulai…
 
Secara jujur: Tak satupun penonton benar2 percaya bahwa katak2 kecil akan bisa mencapai puncak menara. Terdengar suara: “Oh, jalannya terlalu sulitttt!! Mereka  TIDAK AKAN PERNAH sampai ke puncak.” atau: “Tidak ada kesempatan untuk berhasil…Menaranya terlalu tinggi…!!

Katak2 kecil mulai berjatuhan. Satu persatu, kecuali mereka  yang tetap semangat menaiki menara perlahan- lahan semakin tinggi…dan semakin tinggi.. Penonton terus bersorak
“Terlalu sulit!!! Tak seorangpun akan berhasil!”

Lebih banyak lagi katak kecil lelah dan menyerah..Tapi ada  SATU yang melanjutkan hingga semakin tinggi dan tinggi. Dia tak akan menyerah!

Akhirnya yang lain telah menyerah untuk menaiki menara. Kecuali  satu katak kecil yang telah berusaha keras  menjadi  satu-satunya yang berhasil mencapai puncak! SEMUA katak kecil yang lain ingin tahu bagaimana katak ini bisa melakukannya?

Seorang peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil menemukan kekuatan untuk mencapai tujuan? Ternyata, katak yang menjadi pemenang itu TULI!!!!

cerita katak ini ingin mengajarkan agar kita jangan pernah mendengar orang lain yang mempunyai kecenderungan berpikir negatif ataupun pesimis karena mereka mengambil sebagian besar mimpi kita dan menjauhkannya dari kita. karena itu tetaplah selalu berpikir positif.  dan yang terpenting, berlakulah TULI jika orang berkata kepada kita bahwa kita tidak bisa menggapai cita-cita maupun menyelesaikan semua pekerjaan kita.

selalu berpikirlah: I can do this!

iya. saya tahu, menjadi 28 tahun juga bukanlah perkara mudah. membutuhkan lebih banyak kedewasaan. lebih banyak kebijaksanaan. melihat dari atas dan dari jauh, bukan dari samping kanan-kiri saja. harus bisa memilih dan memilah yang terbaik.

hubungan pertemanan yang meruwet dan kisah cinta yang kocar-kacir, saya yakin, saya akan bisa membereskannya di usia ini. setidaknya, menjelaskan pada diri sendiri soal keruwetan dan kekocar-kaciran ini. I can do this.

dan saya harus menyiapkan diri untuk memasuki usia 29 tahun.

Written by femi adi soempeno

April 4, 2008 at 12:29 am

2007: kubangan-kubangan kegembiraan

with 3 comments

Tuhan, terima kasih. tahun 2007 sungguh meninggalkan kubangan yang bekasnya sangat berarti buat saya.

iya, tahun ini Dia membikinkan banyak kubangan kebahagiaan buat saya. tahun ini dibuka dengan munculnya buku yang saya bikin bersama kunto. ini bukan debut pertama membikin buku. sejumlah buku lainnya, melambai pelan pada buku yang ini: mengucapkan selamat datang pada buku ketujuh. lihat, poster besar terpasang di pinggir-pinggir jalan. potret wiranto dan prabowo ikut melambai ke arah saya.

terima kasih, kalian membikin saya menjadi lebih berarti. mas julius, kunto, fitri, ika, ijub, pras, andong, niken, mbak ida, mas nug, … masih banyak lagi. reriungan di pojokan kawasan tarumartani di jogja membikin tangan-tangan ini bekerja sesuai peruntukannya. menulis. menarikan jemari di keyboard komputer. menjejerkan aksara menjadi sebuah kata. sebuah kalimat pun meluruh perlahan. “ayah, ibu, buku ini buat kalian!” bisik saya pada ayah dan ibu, usai mendaraskan doa untuk mereka.

lll.jpgkubangan kebahagiaan lain juga datang di pertengahan tahun. perjumpaan dengan teman-teman baru dari belahan benua lain tak urung menambah daftar panjang sunggingan senyum di sepanjang 2007. kendati, saya harus membatalkan rencana untuk plesiran mengunjungi esti. tak apalah. kegelian, kemarahan, pelukan hangat, senyum ceria, tawa gembira, rasa sebal, muncul dari iranische strasse di berlin.

terima kasih, rasa penyesalan ini tak akan pernah muncul dari perjumpaan yang singkat itu. kunjungan singkat ke pabrik vw di hannover, mengintip frankfurt bourse, taruhan makan kaki babi di koln, mandi matahari di berlin … bahkan, potret kalian masih saya pajang di meja kubikel, di ipod, di komputer, di … saya berharap, bisa menjumpai kalian lagi kelak. olu, doris, jeevan, khan, judy, samuel, marian, dorah, angela, faraja, ibrahim, hans, holger, carsten, melanie, elke … dan masih banyak lagi.

kubangan kebahagiaan lain datang dari kubikel saya. humh. apa ya namanya. lulus magang. iya, lulus magang menjadi penulis. aih. menjadi penulis mah sudah dari dulu! tapi yang ini, penulis di pabrik kata-kata ini. kubikelnya sih masih sama. masih penuh dengan kertas dan penugasan, juga notes dan pulpen yang berserakan. bedanya, … mm … bedanya apa ya? ah, tak ada bedanya kok! saya tetap menulis. saya tetap menjadi buruh di pabrik kata-kata ini. tapi jelasnya, kartu tarot milik shanty sudah menegaskan status ini. horeee!

kubangan-kubangan lain dibikin Dia untuk saya. orang begitu banyak yang datang dan pergi. ada yang menggali kubangan, ada juga yang menutupnya. tak apa. saya sudah siap dengan orang yang datang dan pergi begitu saja dalam kehidupan saya.

kehilangan ayah dan ibu, pernah saya lalui. tak ada rasa kehilangan yang melebihi kehilangan orang tua, bukan? dus, kehilangan teman terdekat yang menjadi pasangan meriung bertahun-tahun, bukanlah hal yang terlalu sulit. hendra, novi, deon. memang, saya tetap harus melaluinya dengan proses. rasa kesal yang bertumpuk. merasa dibohongi. ditelikung. humh. apa lagi ya?

tapi bukan femi kan kalau menyerah begitu saja? kubangan kesedihan ini Dia sulap menjadi kubangan-kubangan kegembiraan yang berlipat-lipat. orang-orang baru. teman-teman baru. reriungan baru. Dia mengambil satu teman baik saya, tapi Dia juga menggantinya dengan puluhan, bahkan ratusan teman yang baru. thomas, shanty, mario, teman-teman sepeda lipat id-foldingbike … dan masih banyak lagi.

terima kasih ya, atas jejalin yang tak putus-putusnya yang Kamu berikan untuk saya. saya harus mensyukurinya.

kubangan kegembiraan juga datang di ujung tahun. lelaki berpjamas kotak-kotak datang kembali. membungkus hatinya yang sudah lumer terpanggang rasa rindu yang menahun. kami berharap bisa beringsut pelan, berbarengan (kembali) memulas birunya awan dengan kelopak tawa dan butiran bening bahagia.

tahun depan?

semoga ada begitu banyak kubangan yang Dia tinggalkan untuk saya. apapun itu.

Written by femi adi soempeno

December 31, 2007 at 3:27 am

bersyukur

with 4 comments

tidak ada alasan bagi saya untuk tidak bersyukur.

lihat, saya punya orang-orang baik yang mengelilingi saya. kakak perempuan yang tak pernah absen mengawasi saya. abang yang selalu berceloteh riang. penggenjot sepeda anyaran yang selalu memanggil saya ‘bona’. perempuan bogor yang sepertinya tak pernah punya rasa sedih. tukang minjem sepeda motor yang merawat kendaraan saya. seisi rumah palmerah yang kadut dengan kenangan ini-ibu-budi nya. lelaki gendut hitam di Jogja yang kerap dituduh-tuduh sebagai pasangan saya, padahal sekadar teman makan sate klatak dan B2 di tapianauli. perempuan gedibal-dibul yang berhuni di kota kembang. si kecil paolo yang makin bandel… dan masih banyak lagi! 

di belahan bumi yang lain, saya masih punya kegembiraan kecil dengan pak polisi berlin yang saya jumpai di petronas. masih ada lagi, lelaki hangat yang tengah berkutat di balik meja di auckland. lelaki berpjamas kotak-kotak di negeri sakura juga belakangan datang kembali dan memamerkan tawanya yang renyah. lelaki ramah dengan piaraan kelinci di pojok berlin. keluarga subandono di ring satu di paris. beberapa teman dari benua afrika dan asia juga menemani saya dari kejauhan.

seperti kanvas putih yang tersulap, kami mencorenginya warna-warni. dengan senyum riang, derai tawa, butiran bening yang tertahan di sudut mata, bisikan rindu, jejalin lewat pesan pendek, pelukan hangat, kepala yang tersandar di bahu, lonjakan kegirangan, dahi yang berkerut, permohonan maaf, rayuan gombal, dan membuka catatan harian hari kemarin. kanvasnya menjadi indah bukan?

mereka membuat saya semakin bersyukur bahwa mereka masih ada untuk mengelilingi saya. membuncahkan bahagia yang amat sangat. tentu, ayah dan ibu akan menggenapinya bila masih disini. tapi tidak apa. mereka juga pasti tak hentinya bersyukur, si bungsu yang bandel ini masih berjejalin dengan orang-orang di sekitarnya. lihat, dari atas meja, bingkai plastik bening yang membungkus potret mereka juga tertawa.

melafalkan doa syukur, saya berbincang dengan Si Pemilik Hidup. agar mereka selalu dipenuhi dengan kebahagiaan yang sama besarnya dengan yang Dia berikan untuk saya. agar mereka juga diingatkan untuk mensyukuri nikmat hidup ini.

“you still praying?” tanya jeevan, seorang teman dari India saat kami bertandang ke venezia. saya memintanya menunggu sejenak di sebuah katedral di venezia. saat itu, saya ingin berbicara sebentar dengan Si Empunya Katedral. ini yang membuat dia heran, tukang minum dan suka usil seperti saya juga masih bersimpuh di rumah Dia. “unbelievable!” selorohnya sambil geleng-geleng kepala. saya kemudian balik geleng-geleng kepala untuknya.

“kowe ki isih nang gereja ya? saben minggu?” tanya danto, minggu lalu, saat saya nggedebus panjang soal enaknya pasrah dan mensyukuri setiap tetes kehidupan. “aku ra ngiro kowe isih ndonga …” katanya lagi. lhah ini dia. tidak ada alasan buat saya untuk tidak berterima kasih atas kebaikan Dia karena meng-ada-kan teman-teman untuk saya.

saya tahu persis, ada begitu banyak kebahagiaan yang menunggu saya di depan sana. semua dari Dia melalui kalian yang ada di sekitar saya. dus, saya harus mensyukurinya kan?

Written by femi adi soempeno

October 22, 2007 at 4:05 am