The red femi

Posts Tagged ‘bumijo

kursi malas dan bantal batik, perpaduan yang sempurna

with one comment

Saya pikir, saya lekas sembuh bukan karena imunos maupun dexaflox dan theragran-m yang diberikan dokter sidharto, tapi karena kenyamanan kursi malas di rumah.

Sungguh, kursi malas itu enggan membuat saya beranjak. Kursi itu terbikin dari pentil berwarna biru. bagian kakinya bisa ditarik memanjang sehingga kaki bisa selonjor dengan nyamannya. Sementara itu bagian punggung kursi bisa disetel hingga landai. Ditambah, ada dua bantal batik yang menyangga punggung agar lebih nyaman, Jadinya, bisa bermalas-malasan dengan sempurna.

Enaknya.

Kursi itu dipesan ayah secara khusus untuk ibu, delapan tahun silam. Ketidakberdayaan ibu untuk merebah di kasur, membikin ayah memesan kursi model jadoel itu. toh, ibu tetap tidak bisa menggunakannya dengan baik. Pentil yang menjadi penopang kursi justru membikin ibu kesulitan untuk mengangkat tubuhnya. Hasilnya, ya si bungsu ini yang pancikan demi menggeret tubuh ibu ke atas.

Dan kini giliran saya yang menggunakannya. Membikin badan ini menyembuh lebih cepat. Bukan karena obat, tapi karena kursi malas ini.

Terima kasih.

Written by femi adi soempeno

September 26, 2008 at 9:40 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , , , ,

disorientasi so[ buntut

with one comment

Dari kejauhan, kakak saya mentertawakan saya. Sialan.

Awalnya adalah godaan buntut sapi di superindo. Sepertinya menakjubkan membikin sop buntut di rumah. Bumbunya? Beli saja yang instan. Bamboe menyediakan bumbu oxtail soup. Dan saya mengangkut beberapa irisan buntut sapi. Sedap!

Tapi, olala, ternyata sedang tidak tersedia bumbu instan Bamboe untuk sop buntut. Kalau begitu, barangkali bisa diganti rawon saja. isinya, ya buntut sapi ini. selain buntut, saya mengangkut daging sapi untuk dibikin kaldu.

Sampai di rumah, karena tidak makan nasi, ya saya mengiris dua gelundung kentang. Ada empat irisan daging berukuran sedang, dan juga buntut sapi. Bumbu saya masukkan dalam panci dengan kuah kaldu. Plus irisan kentang. Plus daging dan buntut. Plus telur kampung rebus.

Hasilnya? Duh, entah, sop buntut bukan, rawon juga bukan. Merem sebentar, rasa kuahnya adalan rawon dengan komposisi bumbu dan air yang tidak seimbang. Terang saja, asin mendominasi kuah rawon. Sementara, daging dan buntut serta telur rebus nya baik-baik saja.

Tidak lagi ah. Sop buntut harus untuk sop buntut, bukan untuk rawon begini. Sungguh disorientasi sop buntut!

Written by femi adi soempeno

September 24, 2008 at 9:42 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , , ,

saya hanya bisa memangkasnya saja

with 2 comments

Saya sudah membiarkannya lebih dari seminggu sejak kedatangan saya ke Jogja.

Tanaman tetean itu menggondrong. Pucuk daun yang muda menghijau kian matang dan menunjukkan kekokohannya sebagai tanaman pagar. Makin liar. Makin menggeliat dengan kasar. Dan saya belum juga memotongnya meski saya sudah punya pemotong tetean yang baru yang saya angkut dari Jakarta.

Gunting pemotong ini bermerek dagang Green Land. Mestinya, ini adalah pemotong rumput. Dari bungkusnya sudah tertera jelas: Grass Shears dengan putaran hingga 90 derajat. Warnanya merah muda dengan kombinasi merah tua. Desain pemotong ini sangat nyaman untuk dipegang.

Sebelumnya, saya sudah menggunakan Green Land yang lebih kecil, pruning shears. Yaitu, yang bisa memangkas dahan diameter yang lebih tebal. Misalnya, dahan tetean yang sudah mengeras dan menebal. Pemotong yang lebih kecil dengan mata pisau yang lebih pendek memudahkan segalanya.

Ingin rasanya berkebun lagi. Sungguh-sungguh berkebun. Memastikan bahwa ada begitu banyak hijau-hijauan di sepetak tanah di rumah. Seperti yang dilakukan ayah dulu, menyingkirkan fajar dan menyambut senja dengan mengoprek pupuk, dahan kering, pucuk yang menghijau dan cipratan air segar untuk membasuhi tanaman.  

Mungkin tidak saat ini. Tapi nanti, pasti cuilan tanah di rumah akan kembali menghijau. Pasti. Saat ini hanya bisa pangkas memangkas saja.

Written by femi adi soempeno

September 24, 2008 at 4:58 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,

ah, sampahnya segunung!

leave a comment »

minggu ini, saya geleng-geleng kepala sendiri.

ada begitu banyak sampah yang harus dilempar ke pembuangan sampah yang besar. botol air mineral. botol bir. dedaunan. wah.

kloter pertama, sampah-sampah rumah dan dapur. kloter kedua, sampah kebon.

saya jadi mengerti, mengapa ayah begitu bersemangat membuang sampah setiap hari dulu. dengan sepeda polygonnya. atau, sekadar berjalan kaki saja. “buat olah raga sekalian,” katanya. iya, iya. sampah di rumah selalu banyak. selalu ada yang dibuang. selalu ada yang harus disingkirkan.

padahal ya kami hanya hidup sendiri saja. dulu, ayah sendiri. dan sampahnya banyak. saya, kini juga sendiri, dan hanya menghabiskan ujung minggu saja. tapi, tetap saja sampahnya banyak.

aih.

Written by femi adi soempeno

August 24, 2008 at 8:18 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

patah di dalam

with one comment

dingin menggiggit.

ah, jogja selalu begini, belakangan ini. musim panas selalu menyisakan dingin yang amat sangat. juga, sembribit alias berangin dingin. dan jaket merah tak juga mampu mengunci rasa atis. tetap saja, dingin. susupan angin ini yang buru-buru membikin saya ingin bersegera masuk ke dalam. menghangatkan tubuh dibawah selimut hangat.

dan… klek. kunci berputar begitu saja.

shoot. anak kunci ini patah di dalam. ah, bagaimana bisa masuk? sementara, rumah inti tetap saja terkunci dari dalam kendati saya masuk dari pintu belakang.

ah, mulai panas. mulai hangat. panik, cemas, gelisah. ketiganya membikin rasa dingin itu tiba-tiba hilang. yang ada, rasa hangat mengaliri tubuh. saya tahu, saya tak bisa masuk ke dalam rumah.

“mas, badhe sambatan. mbok nyuwun tulung mbuka lawang omah kula …” kata saya, pada tetangga yang masih meriung di warung bu koyo.

pak rt. tangannya lebih mungil sehingga bisa nyelip di jendela pintu belakang.

ah, terima kasih. leganya bisa masuk ke rumah. buru-buru, saya mencuci kaki dan meneggelamkan tubuh di bawah selimut.

Written by femi adi soempeno

August 3, 2008 at 10:52 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

I’m home

with 2 comments

hijau.

kanan dan kiri saya hijau, selepas cikampek. selamat datang pada alam nan indah. kian ke timur, kian indah. jogja membikin saya tersenyum pagi ini.

kereta fajar yang saya tumpangi melaju pesat. ah, rasanya seperti terbang. membelah hijaunya ladang padi dan kebon tebu. jalanan begini selalu mengingatkan pada rumah ayah dan ibu yang baru. I miss u soo much dad, mom …

saya pulang.

mata ingin mengatup sementara terik semakin menyengat. kotak yang bergerak-gerak ini seperti menyediakan tempat tidur yang sangat nyaman: kolong kursi, dengan beralaskan koran. dan saya menggeletak.

penjual pecel membikin saya sabar menanti. sementara sekotak getuk sokaraja dan sekarung lanthing harus saya bungkus lantaran mimik muka si penjual yang kerutannya tebal, tanda sudah cukup tua. seperti mengingatkan saya, betapa saya sangat bersyukur, ayah saya tak harus bekerja ekstra keras hingga ujung usianya.

dad, mom, I’m home.

Written by femi adi soempeno

May 31, 2008 at 11:59 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , , ,

berkebun lagi

with 2 comments

saya berpikir untuk menanami kebun ayah dengan tanaman berpot kembali.

sejak bulik tari membabat habis tanaman di kebun ayah dengan alasan capek menyiraminya saban hari, saya enggan berkebun. mentok-mentoknya, ya menggunduli tetehan di depan rumah. itu saja. dan itu bukanlah alasan bulik untuk capek dan jatuh sakit karenanya.

tapi melihat mas eben dan mbak lina membongkar tanaman di kebun ayah. “boleh ya tanah ini saya pakai untuk ditanami tanaman?” tanya mereka. ah, saya jadi rindu ayah. saya rindu melihatnya mengenakan caping. saya rindu melihatnya seharian tak ada di rumah induk dan memilih di kebun. saya rindu melihatnya kelelahan sehabis berkebun.

ya, saya rindu ayah.

dan saya rindu berkebun, untuk ayah.

saya rasa weekend ini saya akan pulang dan membeli sejumlah pot. saya akan belanja tanaman. rasanya ini bukan ide buruk. berkebun lagi. dan pasti keduanya tak akan menggunduli tanaman yang saya tanam. keduanya juga tak akan lalai menyirami kebun di tanah ayah.

saatnya berkebun kembali.

 

Written by femi adi soempeno

May 25, 2008 at 2:55 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,