The red femi

Posts Tagged ‘cokelat

bonchoco, segelas cokelat hangat di sore hari

leave a comment »

keluhan ini itu. pembatalan ini itu. ketidaksanggupan ini itu.

ah, capek dengernya.

dan saya mengobatinya dengan segelas cokelat hangat yang saya beli dari kemchicks. bonchoco. cokelat ini dibikin pada 4 maret tahun 2007 lalu. sementara, sebaiknya diminum sebelum 10 maret tahun 2009. sore hari di ujung juli 2008, dengan kepenatan yang amat sangat, rasanya bisa dibayar lunas dengan segelas cokelat hangat.

saya mendapat asupan energi sebanyak 115 kcal. lumayan untuk menggerakkan ujung bibir keatas sedikit. iya, meski sedikit. dari segelas cokelat hangat ini, saya juga mendapat sumbvangan kolesterol sebanyak 1,72 mg. cukup untuk bertahan dari rasa lesu akibat kepenatan yang menumpuk.

tenang. cokelat hangat memang menenangkan.

seperti sampul bonchoco bagian luar: rich. smooth. creamy taste.

saya menyukainya.

hanya saja, tampilannya kok tidak sama dengan yang ada di situsnya. asap yang mencuat, tidak membentuk tulisan boncafe. 🙂

Written by femi adi soempeno

July 29, 2008 at 9:27 am

Posted in Uncategorized

Tagged with ,

banjir cokelat

with 5 comments

belakangan, saya kebanjiran cokelat. sungguh!

lihat saja, dikubikel saya ada begitu banyak tumpukan cokelat. lebih-lebih, dark chocolate. uhm. terimakasih sudah membawakan saya cokelat sebagai buah tangan. lebih dari sekadar buah tangan, ini adalah sebuah pengertian. iya, karena kalian mengerti bahwa saya suka cokelat.

entah, apa yang membawa orang-orang di sekitar saya menghujani saya dengan cokelat. wow. hujan dark chocolate. legit, manis, dengan sedikit lebih pahit.

kadal basi dari negeri merlion membawakan saya cokelat, bersama dengan bingkisan lain. keluarga suban juga membawakan saya cokelat, dengan buku yang masih dalam perjalanan ke jakarta dari berlin. agung membawa daim buat saya. miss strawberry juga membawakan saya cokelat beberapa bars. waaw …

sungguh, kalian tahu apa yang saya suka! sederhana, bukan?

semoga saja, saya tidak mabuk cokelat. doakan ya. 🙂

Written by femi adi soempeno

July 10, 2008 at 12:27 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with ,

daim dan kenangan itu

with one comment

saya menimang-nimang daim, cokelat karamel dari eropa. saya suka sekali!

cokelat ini dibungkus oleh agung untuk saya. *terima kasih agung*

cokelat daim. adalah holger. adalah perjalanan singkat seminggu menyambangi beberapa kota di jerman. adalah jatuh cinta pada caramel. adalah lelehan cokelat di mulut. adalah keriangan kecil. adalah jatuh cinta yang amat sangat pada cokelat. adalah ketagihan.

ah, daim. cokelat. caramel.

saya masih ingat persis. dengan kepastian, saya menolak tawaran holger untuk menjumput cokelat daim. “aku nggak makan permen …” kata saya. tapi, dia masih tetap memaksa dengan aksen jermannya yang sangat kental. “tapi kamu harus mencoba ini. enak!” dan … enak! daim selalu mengingatkan saya padanya. pada senyum hangat seorang fotografer. pada mimpi untuk bekerja sejenak di luar negeri.

dan saya memaksa eva untuk menyempatkan diri memburu daim saat ia bertandang ke frankfurt lagi. *terima kasih eva*

entah.

saya suka dengan cokelat. bisa jadi itu perkenalan saya pada karamel yang ramah dan tak membikin gigi saya sakit. dan saya menyukai daim. tapi saya suka daim barangkali juga karena memori yang baik tentangnya.

mungkin.

Written by femi adi soempeno

July 2, 2008 at 8:39 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

cokelat baru dari schoko

with 2 comments

kemarin saya menjinjing satu cokelat dari supermarket.

schoko irish cream, chocolate drink.

saya suka cokelat. suka sekali. secangkir cokelat hangat selalu membikin lega. setidaknya, menggembol senyum di pagi hari. apalagi cokelat hangat diminum sembari membincangkan si anu atau si itu dari balik kubikel. uwh. sedap.

saya tak pernah membubuhi minuman cokelat dengan gula. sudah, begitu saja. sementara, ada beberapa teman yang merasa cokelat hangat itu kurang nyamleng lantaran kurang manis. ah. begini saja sudah manis. justru saya mencari pahitnya.

bubuk cokelat yang saya kucuri air, terakhir ya yang saya angkut dari jerman. sarotti. humm … cokelat itu tak ada di sini. feine trink schokolade heisser un kalter Genuss 32% cacao. ya olo, nikmatnya.

cokelat hangat selalu menemani sore di jogja.

sembari merebahkan diri di kursi malas dan menonton film dokumenter. sesekali, butiran cokelat menetes dari bibir gelas ke kaos. dan, buru buru mengelapnya kemudian.

atau, sembari mempelototi layar kecil laptop. menderetkan kata menjadi kalimat. secangkir cokelat selalu menggelitiki kata-kata yang bersembunyi di balik layar.

ada yang mau cokelat hangat? kali ini schoko irish cream, chocolate drink.

pssst, saya menunggu the legendary chocolate of san fransisco: old fashioned ghirardelli chocolate.

Written by femi adi soempeno

May 22, 2008 at 2:10 am

Posted in Uncategorized

Tagged with ,

bahkan, baunya pun masih ada!

with 2 comments

saya terkesiap memasuki sogo food hall plasa indonesia.

ah. seharusnya saya tak ke sini. seharusnya saya tak usah punya niat untuk beli kiwi dan apel washington. harusnya tadi langsung pulang saja. belum masanya bertandang ke pusat perbelanjaan ini. tapi, langkah saya kadung terpaku di lantai dasar. saya seperti tersesat belantara memori yang sangat saya kenali.

saya hanya terdiam. saya tahu persis dimana langkah kaki ini terhenti, dan terpaku tanpa bisa berlari meninggalkannya. cokelat. iya, rak yang menjejerkan cokelat dari beragam rupa, bentuk, asal, kemasan dan harga.

“enaknya beli cokelat apa ya untuk oleh-oleh?” pertanyaan lainnya, “kamu suka cokelat apa hun?” pertanyaan lainnya, “selain ini, apa lagi yang kamu suka? bilang saja …”

lindt swiss thins. jaquot chocolatier depuis 1920.

saya penyuka coklat. dan lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah itu tahu persis saya suka cokelat. tawaran parfum atau baju saya tolak. dia juga tahu persis itu. saya suka cokelat. dan, dua kotak cokelat ia bungkuskan untuk saya, disamping satu kaleng cokelat lain yang ia usung dari jepang.

humh.

saya masih ingat dimana ia berdiri. disitu, iya, disitu. didepan cokelat-cokelaat yang menderet rapi, menunggu pengunjung untuk menjumputnya. saya masih ingat persis kemeja hitam yang dikenakannya. saya masih ingat persis caranya membawa keranjang. menjinjingnya dan mengisinya dengan kotak-kotak cokelat. dan terakhir, menawari saya kembali, “mau apa lagi?”

hun, bahkan baumu pun masih ada di sini.

Written by femi adi soempeno

April 15, 2008 at 6:40 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,