The red femi

Posts Tagged ‘csl

sepeda lagi, sepeda lagi

with 3 comments

saya menimang-nimang perkakas anyar saya.

front lamp. bottle cage. pompa. tali bagasi. keempatnya untuk sepeda saya. ah. sumpah, saya cinta mati sama sepeda yang sering disebut-sebut sebagai ‘dedahonan’. uwh. nyatanya, ini sepeda cerdas ‘bo. secerdas penggowesnya.

beto profex pump. pompa ini untuk mengisi udara pada ban big apple 16″ dahon csl. sepeda mungil ini bakal menggelinding membelah jakarta. menghabiskan terang dengan senja sembari menyapukan dingin ke wajah. kelak tak ada lagi acara “pinjam pompa ya!” atau, “besok bawain pompa dong.”  hei, saya punya pompa sendiri sekarang. 🙂

saya juga membungkus satu unit topeak bottle cage. wadah botol minuman ini bisa disetel maju mundur. dus, jika bawa botol air mineral yang lebih singset, cage bisa dimungilkan dan untuk bawa botol laken, cage bisa dibesarkan.

selebihnya, tali bagasi dan lampu penerang untuk ditempelkan di handlebar. gang kecil di kawasan palmerah sama sekali tak diterangi lampu. gelap. sementara jalanan berlubang. saya tak ingin terjerembab. tetap gagah menggowes, rasanya lebih percaya diri. 🙂

ada yang mau sepedaan dengan saya?

Written by femi adi soempeno

July 1, 2008 at 3:53 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

nightride dan fender yang hilang

leave a comment »

sempurna.

acara bersepeda-malam hari ini begitu sempurna. saya dan abang mengayuh sepeda lipat kami menyusuri kuningan ke kalibata, lantas ke kemang dan kembali ke rumah masing-masing; saya di slipi sementara abang ke cililitan. sebelumnya, saya sudah curi start untuk mengayuh pedal dari kebayoran lama ke kuningan.

matahari belum habis ketika kami meninggalkan kuningan. debu menebal di jalanan. asap knalpot tampak lebih garang membedaki kami. sialan.

dan kami terus mengayuh. ah, jauh juga. sparkling mineral water sudah menjejali tenggorokan di perhentian kalibata. selebihnya, dua gelinding bakso tennis ala gunungkidul. sedap. chris sudah berganti kaos. sementara saya membiarkan begitu saja. basah sudah merayapi tubuh.

dan kami bertolak ke kemang. coffe bean. segelas chocolate blended sudah ada di benak. naik-turun di turunan-tanjakan di bilangan buncit ke kemang tak meredakan kayuhan saya. demi chocolate blended. duh, repotnya kalau sudah chocolate-minded begini. kempol mengeras, demi segelas es cokelat!

dan saya hampir putus asa. tanjakan tak putusnya menuju kemang. asem.

dan lelah ini terbayar dengan kaos kering yang membalut tubuh, menggantikan kaos basah akibat kempitan rompi tebal. juga, segelas chocolate blended.

dan kami berbincang, lama sekali. tentang rumah baru yang bakal disinggahi abang. juga tentang cerita ‘tentang perempuan kemarin sore’ yang tak ada habisnya. juga, tentang mimpi besok pagi.

juga, tentang rute pulang ke rumah. 🙂 dilipat, dan naik taksi, atau tetap digenjot?

dan pilihannya ternyata sama: digenjot sampai rumah. duuuuh ….

 

(ps: kaget juga, ternyata fender-nya ilang di jalan. mungkin saat turunan dan tanjakan curam. mau ditelusur lagi, capek ah. “mosok menelusur dengan naik sepeda genjotannya pelan-pelan di tanjakan dan turunan?” begitu kata abang. )

 

 

 

Written by femi adi soempeno

June 20, 2008 at 11:44 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

siap bersepeda lagi

with 3 comments

tangan saya sudah kuat menggenggam handle bar sepeda lipat. saya siap bersepeda kembali.

lihat, mengusung sepeda dari parkiran sepeda, tangan kanan ini sudah cukup kokoh. ah, 10 kilogram ini. Tapi, boro-boro mengusung 10 kilogram. mengusung kardus isi sepertiganya pun tangan kanan ini terasa cacat. mati.

ini adalah pecutan dari mikrolet 09 yang sedang mogok beredar dua hari terakhir ini. mengandalkan beberapa teman baik untuk menjemput di kos dan mengantar ke kantor, agaknya terlalu berlebihan. dus, tak ada pilihan lain selain bersepeda.

dan, teman di pojok kubikel mengusung pompa mungilnya untuk csl saya. lebih dari sekadar membawakan pompa, malah juga mempompakan sekalian. ah, baik hati nian si empunya centrum ini. superthanks!

jadilah sepeda ini siap dikayuh dari kebayoran lama hingga palmerah utara II.

saya mulai menghitung, berapa lama saya menggudangkan sepeda ini. hmpf. sudah lama. lama sekali. sebulan lebih. mungkin sejak maret. ah, lamanya!

awalnya hanya menggudang di sisi koridor pabrik kata-kata ini. kemudian berpindah di kolong meja di kubikel. dan, menjajal mengisi angin pada akhir bulan lalu. dan sepeda harus terkadang di pelataran lobby. shoot.

sekarang, sepeda ini bisa mulai dijejak lagi. ada yang mau bonceng?

 

Written by femi adi soempeno

May 27, 2008 at 3:21 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

Csl @ Padang (2)

with 3 comments

Saya bersepeda dengan curve SL (csl) dari hotel di hari Jumat usai terguncang gempa Bengkulu yang berkekuatan 6,3 scala richter sekitar pukul 14.29. Staf hotel bilang kalau hotel Ambacang tergolong cukup kokoh dengan banyak pilar. Gempa-gempa sebelumnya, hotel tempat saya menginap ini ‘hanya’ pecah kacanya saja, sementara bangunan hotel lain retak bahkan menjadi miring.

Gowsh. Gempa tetap saja gempa. Apapun bisa terjadi, sekokoh apapun sebuah bangunan! Rasanya seperti saat gempa Jogja 2006 lalu. Saat tidur siang, seperti sedang dibangunkan. Sadar bahwa itu gempa, saya menyabet laptop, tiket, blackberry dan dompet. Tubuh saya gemetaran hingga selama hampir 45 menit sesudahnya. Makanya, saya memutuskan untuk berkeliling kota Padang dan nightride di Ranah Minang ini.

Perjalanan pertama saya awali menuju ke kawasan pecinan di kota Padang. Saya mampir di warung kopi Nan Yo yang sudah kesohor. Letaknya ada di jalan Niaga, sebelah menyebelah dengan warung kopi Revita. Mandek di depannya, saya melipat sepeda dan membawanya masuk. Viktor, cucu pendiri warung kopi ini bengong aja melihat saya melipat sepeda dan menjinjingnya masuk ke warung kopinya, kemudian memarkirkan persis di samping meja.

“Kopi hitam tanpa gula, panukuk dan lamang baluo!” pesan saya pada Viktor. Tapi saya terlambat datang. Panukuk alias pannekoek atau serabi dan lamang baluo yang semacam lemper berisi unti itu sudah habis. “Adanya pagi hari,” kata Viktor. Aih! Bahkan, saya gagal mencicipi cakwe yang dimasukkan kopi tubruk, cara khas Padang! Aaaaah! Hasilnya, saya hanya bisa menikmati kopi tubruk tanpa gula, kesukaan saya, plus bakwan.

Di belakang tempat saya duduk, bergerombollah bapak-bapak yang usianya sekitar 50 tahun keatas. Mereka bercakap-cakap dalam bahasa padang. Saya memilih untuk menikmati suasana lawas di kedai kopi ini, mencermati desain kursi yang sudah ada sejak tahun 1932 yang diusung oleh kakeknya Viktor dari Eropa Timur, dan memperhatikan Viktor yang sering mencuri lihat csl saya.

Hingga Anton, laki-laki Jawa yang merantau ke Sumatera Barat menghampiri saya untuk bertanya, “Ini sepeda didatangkan dari mana?” Duh, nggak ada pertanyaan yang lebih sederhana ya? Hehe … bagi saya pertanyaan ini agak membingungkan. Maka saya jawab sekenanya, “Saya beli di Jakarta, lisensi Amerika, bikinan Taiwan, saya pakai untuk keliling di kota-kota yang saya kunjungi.”

Dan Anton pun duduk semeja dengan saya, kami berbicara soal kuliner di Padang dan perbandingannya dengan di tanah Jawa. Tak lupa, juga soal sepeda lipat dan komunitas id-foldingbike. Seru banget obrolan kami!

Sebelum bola raksasa menggelap, saya memutuskan untuk meninggalkan Nan Yo, dan menyusuri kawasan Muaro Padang, untuk menuju Jembatan Siti Nurbaya. Jembatan ini selain untuk menuju sisi muara yang lain juga merupakan akses menuju Gunung Padang dan Pantai Air Manis di mana hidup legenda Batu si Malin Kundang. Jembatan ini menuju makam Siti Nurbaya yang dibikin mencolok di ketinggian.

Menaiki jembatan ini, tak perlu pakai tenaga ekstra kok. Asal siap mental saja, rasanya enteng saja menapaki Jembatan Siti Nurbaya dengan csl. Apalagi, bakal terbayar dengan satu porsi jagung bakar dan pisang bakar yang sudah mulai berderet sejak sore hari di sepanjang jembatan. Semalam sebelumnya, saya bersama abang meniti jembatan ini. Indah nian di kala malam dengan hiasan lampu!

Pret … pret … pret! Csl mulai bergaya. Sip! Tak lupa, saya ikut berpose dengan gaya apa adanya bersama dengan csl. Saya minta tolong seorang uni berkerudung putih yang berbaik hati memotretkan beberapa frame untuk saya.

Matahari belum habis. Saya memutuskan untuk menikmati bola raksasa yang hendak bersembunyi dari pinggir Pantai Padang. Segendang seperjogetan dengan Jembatan Siti Nurbaya, di sepanjang pantai ini juga sarat dengan penjual jagung bakar, roti bakar, pisang bakar, plus kacang rebus. Sekitar dua genggam kacang rebus yang dibungkus plastik, saya dikutip Rp 5.000.

Saya memilih pisang bakar plus keju, dan duduk melamun di pinggir pantai. Ongkosnya sama, Rp 5.000 seporsi. Saya menyandarkan csl di pohon kelapa. Aih! Kalau saja ada moroners di pinggir pantai ini, pasti seru sekali! Melipat sepeda di pinggir pantai dan menantang ombak yang menggemuruh. Aiiihh! Setelah bernarsis-narsis sebentar, saya menarik diri dari pucuk pantai, dan mulai menggenjot ke pucuk pantai yang lain. Sedap nian menikmati angin Pantai Padang di sore hari.

Pukul 18.00 tepat, saya sudah berada di Gereja Katedral Padang. Jumat pertama di bulan pertama 2008, saya kok tidak ingin melewatkan ibadat. Konon, menyambangi gereja yang baru pertama kali dikunjungi, tiga permintaan bakal dikabulkan oleh Si Pemilik Hidup. Benar? Entah. Minta saja. Dan saya juga mengujubkan tiga permintaan pribadi padaNya. Amin. Amin. Amin.

Nightride dimulai. Saya mengelilingi kota Padang. Asal genjot, menikmati kota yang asing bagi indera saya. Udara malam yang menyesak. Sapuan angin di kulit. Angkot yang musiknya berdentuman seperti di nightclub dengan kerlap-kerlip lampu nan meriah. Menjelajahi jalanan yang saya tak tahu utara-selatan-barat-timur. Asal kayuh. Asal jalanan beraspal.
Dan Padang habis dalam semalam. “Ke mana arah Jalan Bundo Kanduang?” tanya saya pada seorang penjual rokok. Mendengar penjelasannya, wuih, jauh juga! Tapi ga masalah, pakai csl ini, dan tidak hujan! Horeeee!

Saya mandek di kedai Pagi Sore di Jalan Pondok. Melipat sepeda, dan memarkirkannya di sebelah meja saya. Ini adalah kedai milik orang keturunan Tionghoa. Menu masakannya sama dengan kedai lain yang saya jumpai di Padang, yaitu ya masakan Padang. Bedanya dengan yang lainnya, ada sentuhan Tionghoa dalam pengolahannya. Upamanya, rendang kacang yang gurih dibikin dari kacang putih. Contoh lainnya, tahu yang dimasak tauco dengan santan encer dan cabe hijau.

Di kedai yang sudah berusia sekitar 60 tahun ini saya mencicipi rendang yang berwarna hitam. Konon, masak rendang ini selama 12 jam diatas api kecil dari kayu bakar. Dagingnya cukup empuk meski cubitan pertama terasa keras. Rempahnya itu yang berasa bangeeettt di lidah!

Barangkali sudah kemalaman, saya tak kebagian ayam goreng yang dimasak dari ayam kampung berbumbu minimalis. Konon, ayam goreng di kedai ini digoreng dengan minyak kelapa. Hasilnya, nyaris tak kelihatan ada minyak yang menempel pada permukaan ayam.

Perjalanan berlanjut, masih ngubek-ubek kawasan kota. Mau mampir ke Martabak Kubang untuk mencicipi martabak mesir, hanya saja perut sudah tak muat! Martabak ini seperti martabak telur, tapi dimakan dengan kecap encer yang dicampur cuka, bawang bombay, irisan tomat, dan cabe rawit. Bayangkan sedapnya!

Pilihan martabak mesir ini atas rekomendasi seorang bapak-bapak yang saya jumpai di warung kopi Nan Yo. Menurutnya, martabak mesir yang kesohor ada di jalan Muhammad Yamin, dengan merek Martabak Kubang itu. Konon, disebut Martabak Kubang karena pemilik dan pekerjanya berasal dari Kampung Kubang, sebuah nagari yang terletak di Kabupaten 50 Kota, Sumatra Barat.

Lantaran harus siap berkemas untuk bertolak dari PDG ke CGK pada hari Sabtu (5/1/2008) dengan Garuda pada pukul 8.25 keesokan paginya, saya memilih kembali ke hotel. Menggenjot csl ke hotel, membungkusnya dengan tas id-foldingbike, dan menggudangkannya semalaman di samping meja resepsionis.

Setelah Padang, kemana lagi ya csl saya bawa?

Written by femi adi soempeno

January 6, 2008 at 2:21 pm

csl @ bandung

with 5 comments

matahari sudah tepat diatas kepala saat gerobak gagah yang saya tunggangi turun dari lembang. sudah jam 11.30 siang.

jalanan mulus membikin gerobak ini menggelinding sangat cepat. kelokan tajam dilibas. sempurna. artinya, janjian dengan pak asep, si empunya serabi enhaii di bilangan setiabudi, bakal terpenuhi on time. catatan, pulpen, tape recorder. sementara, sejumlah pertanyaan sudah paten di kepala.

oops. serabi enhaii masih sepi. “bablas, bablas, ke FO dulu dah!” seru saya pada teman-teman, yang bakal membuang saya di pinggir jalan. saya turun persis di depan FO lafayette. tas saya cantolkan di punggung. saya menjinjing helm dan kaus tangan di tangan kiri, sementara sepeda lipat csl di tangan kanan. saya menyeberang dan memarkirkan csl di pintu masuk.

jadi ingat waktu lafayette homme and gourmet, dan juga lafayette maison di paris dulu, saat seorang parisian memamerkan bangunan yang konon dibangun tahun 1893 itu. “ini multiple store untuk semua barang-barang branded, dan ini jadi trendsetter dunia lo!” serunya.  halah. tapi lafayette di bandung ini jauh dari les galeries lafayette di paris! uwh, please deh.

putar-putar sebentar, rasanya cukup untuk membuang 15 menit di kedai baju ini. saya kemudian membuka lipatan sepeda. beberapa puluh pasang mata menatap saya. duh, kok saya jadi kepedean begini ya. saya genjot pelan, naik ke atas ke arah lembang.

uwh. speed 4 saya naikkan. speed 3 saya naikkan. speed 2 saya naikkan. masih saja berat. jalanan tak cukup datar untuk ban mungil 16″ milik saya. roda sepertinya enggan beranjak dari putaran terakhir. hmh. sementara, kedai serabi enhaii masih jauh. tolong!

saya terus mengayuh. wajah sudah mulai memerah. saya berhenti di sebuah kios kecil untuk membungkus aqua botol. mm … sebenernya sih tak butuh air. hanya ingin sebentar bernapas. baru berjalan sekitar 300 meter dari lafayette. perjalanan masih sekitar 800 meter lagi dari terakhir saya mengistirahatkan si csl.

lima puluh meter dari kios terakhir, saya berhenti, mengamati mikrolet hijau ke arah ledeng. kok banyak yang sepi penumpang. baguslah. origami sepeda dimulai. saya melipat sepeda lipat. hasilnya, saya mengayunkan tangan pada sebuah mikrolet hijau, saya naikkan csl ke dalam mikrolet. tentu saja, beserta saya di dalamnya. horeeee! napas saya batal habis.

saya melewati serabi enhaii. hmm. sudah ada orang! tu, pak asep juga sudah kelihatan dari kejauhan. “pinggir-pinggir ya a’ …” seru saya pada si supir mikrolet. saya turun persis di depan terminal ledeng. rasanya cukup untuk menggelindingkan si roda mungil.

whuszzz … csl melaju kencang. dari terminal ledeng ke serabi enhaii.

“dari mana teh?” tanya seorang bujang priangan. saya menjawab kalem dengan jawaban yang (tentu saja) tidak salah, “dari lembang …” jelas kok. saya menginap di lembang. lembang-nya pun lembang pucuk.  si bujang pun mengedip takjub. *ah, kena kamu!*

satu jam saja cukup untuk mengulik-ulik serabi enhaii yang menghabiskan 50 kg adonan dalam sehari, atau setara dengan 2500 porsi serabi. kalau sebanyak ini dibikin serabi coklat keju spesial dan dilepas dengan harga Rp 5.000 seporsi, wah … sesungguhnya pak asep saban hari sudah bisa beli dahon JS XP tuh! wakaka …

sepanjang wawancara, sepeda lipat yang saya letakkan di pinggir pintu, ditakjubi oleh begitu banyak pengunjung yang datang. ada yang memperhatikan bentuknya. ada yang lewat sembari tersenyum. ada yang kemudian duduk dan mencermati sepeda itu dari dekat. ada yang pegang-pegang. ada yang ngrasani. waduh. agaknya nggak tahu kalau si empunya sepeda ada di belakangnya persis.

saya jadi ingat semalam sebelumnya, saat saya bertandang ke suis butcher, juga di kawasan setiabudi. pas bergegas menjinjing sepeda lipat masuk ke dalam kedai, beberapa pelayan kedai berbaris di bagian dalam untuk menyambut tamu yang datang. eh, tapi kok saya bukannya diberi senyum selamat datang, malah mereka memperhatikan barang yang saya angkut di tangan kanan. malah, ada yang ketawa-ketawa kecil melihat ban mungilnya. cilaka.

humh.

percobaan di dua kedai di serabi enhaii dan suis butcher tersebut membikin saya makin pede menggenjot csl. asik asik asik! gowesan berlanjut ke rumah mode. *thanks god, jalanan menurun!*

rasanya ingin melambaikan tangan pada antrian kendaraan pelat B yang melintasi setiabudi. mereka mandek di jalanan menjelang rumah mode. yee, makanya pakai sepeda dong. bila perlu, pakai sepeda lipat! untungnya, saya bisa nyempil diantara kendaraan satu dengan yang lain, nyebrang ke rumah mode. tinggal di jinjing saja untuk nyebrang, dan disebrangkan dengan satpam. ah, seru juga rupanya.

“excuse me! excuse me!” seru suara laki-laki, dari arah belakang saya, saat memasuki pelataran rumah mode. saya udah siap mental jika diteriaki satpam. maklum, sudah menjajal di beberapa gedung di jakarta. tapi, apa iya sih saya punya tampang bule sampai ada satpam neriaki dengan bahasa inggris begitu. atau jangan-jangan satpamnya satpam bule? duh.

saya menghentikan gowesan saya. eh, dari kejauhan, seorang laki-laki jepang berlarian dengan membawa bungkusan belanjaannya. “dahon! dahon! dahon!” begitu menyebut-nyebut begitu sepanjang dia berlari. waduh. nama saya bukan dahon om, dahon ini merek sepeda lipat saya. nama saya femi.

“dahon di indonesia?” tanyanya dengan napas setengah terengah-engah. saya mengiyakan. dia kemudian ingin berbicara dengan bahasa indonesia, tapi kelipat-lipat mirip sepeda lipat tuh lidahnya. akhirnya kami berbincang dengan bahasa inggris.

dia tidak bisa menyembunyikan ketakjubannya ada sepeda lipat di bandung, persisnya di indonesia. dia pikir, sepeda lipat hanya ada di jepang saja. dia sangat mengenal baik merek dahon. konon, di negara matahari terbit, dia juga punya sepeda lipat dahon, yaitu speed P8. wah! “anti karat!” katanya. nah, doi ingin mencari speed P8 juga untuk digowes disini. maklum, dia bekerja dan tinggal di bandung.

dia juga semakin takjub saat ada stiker tempelan berbahasa jepang di bagian handlebar post. bahkan, ngeliatnya sampai jongkok-jongkok. juga, sambil mengelus csl saya. duh, untung bukan saya yang dielus ya. lebih lagi, dia makin terkejut-kejut saat saya cerita komunitas sepeda lipat di indonesia. “ada komunitasnya?” tanyanya. waduh pakde, ya ada dong. kemudian, berbusa-busa saya menceritakan komunitas sepeda lipat di indonesia. saya meninggalkan kartu nama saya untuknya. kalau-kalau ada orang jepang yang mau bergabung di komunitas id-foldingbike.

gowesan lanjutan ke vilour di bilangan dipati ukur. saya berkejaran dengan dua bocah yang mengendarai BMX dan MTB kecil. mereka justru mentertawakan ban mungil csl. sialan. kami bertiga beriringan menggelindingkan sepeda di tanjakan pannjang di kawasan siliwangi. huwmh. sampai di vilour, saya membungkus kaos anyar lantaran kaos yang saya kenakan basah.

pagi tadi, sarapan wajib adalah nasi bakar 15 yang cukup kondang itu. persisnya, ada di belakang gedung sate. menunggu bakaran nasi, tak urung saya mengeluarkan sepeda lipat dari gerobak dan nggenjot muter-muter gedung sate. syur banget menjelajahi kawasan superpadat cimandiri di minggu pagi. untung pakai csl. angkot mandek di lapangan gasibu, eh, jinjing saja untuk nyempil di area parkir. selebihnya, gowes lagi dong!

weits. tidak menyesal beli sepeda lipat. tidak menyesal bawa csl ke bandung. tidak menyesal gowes csl di kota kembang ini.

besok, ke mana lagi ya?

Written by femi adi soempeno

December 16, 2007 at 11:01 am

seni origami sepeda

with one comment

saya melipat sepeda (lagi).

seni origami memang tidak bisa dibayangkan saja. harus dipraktekkan. melipat di satu sisi, menjumput bagian sisi yang lain. menekan perlahan di sisi sudut, dan memutar dengan cepat di sebelah pojok. coraknya tertata sempurna. tidak belepotan. ragamnya terpicing di sebelah sudut. sementara, ekornya menyisakan rupa yang luar biasa.

kali ini, saya memilih bikin lengkungan. tekukannya ada di tengah dan di bagian atas. lipatannya sederhana saja. dan, hasil lipatannya juga luar biasa indahnya. dominasi warnanya abu-abu gelap. garis lengkungan sedikit menonjol. jelas, hasil akhirnya juga sebuah lengkungan. lempitan satu di bagian tengah, mematahkan lengkungan. lempitan dua di bagian atas. hap. selesai.

sempurna.

iya, sepeda lipat Dahon Curve SL (CSL) ini sungguh sempurna. sesempurna lempitan sepeda lipat yang lain. memang, saya tengah melipat sepeda (lagi) usai si biru Dahon ROO D7. keduanya sama-sama melengkung. cantik. tepatnya: sempurna.

dalam situsnya, CSL ini disebut begini:

ultralight, only 9,9 kgs. the CSL does everything you’d expect it to as the top of the line Dahon commuter bike: fold in seconds, weigh next to nothing, and fold small enough to fit into a shopping bag. but where it really shines is how well it rides. revised frame geometry is reassuring stable. a custom SL version of the sturmey-archer 5 speed hub provides all the gears you’re likely to need on a commute. and schwalbe big apple tires are fast rolling, yet so smooth that you’ll be spoiled for life. slip a curve SL into an el bolso and you’ll be instantly mobile, anytime, anywhere.

boy membongkarkan bagasi kendaraannya. ini, CSL nya hendak dibuang. sayang ah. lipatannya masih bagus. batangannya masih kokoh. sini-sini, saya pungut. 🙂 barteran sepucuk amplop cokelat dengan sepeda lipat ini di warung kopi daily bread, kuningan. seru juga. selorohan datang silih berganti saat sepeda lipat ini digelar di koridor depan. “you ride it or just display it?” jawil teman boy, yang kebeneran lewat. aih.

seorang perempuan muda agaknya ingin diratjoen. “lucu ya sepedanya, bannya kecil. bisa dilipat lagi. bagus buat olahraga ya. anda yang jual? boleh minta kartu nama?” sedap banget.

dua jam sesudahnya, CSL saya gowes. ban kecil. menggelinding pelan. kuningan-kebayoran lama via gatot subroto dan pasar palmerah, lumayan lah. gerah. lihat, wajah saya mulai memerah. sesekali, celana abu-abu yang kedodoran ini nyangkut di wadah minum. *aduh boy, kenapa wadah minumnya ada di tengah sih?*

saya terus menggowes. di kantor, langsung saya usung ke lantai dua dan saya lipat. saya letakkan persis di sebelah jendela bagian luar. seni origami sepeda dimulai kembali. sepeda lipat. folding bike. csl. 16″.

(ps: terima kasih boy untuk boleh melipat csl ini. ngomong-ngomong, udah banyak yang sirik nih! )

Written by femi adi soempeno

December 14, 2007 at 7:37 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

kram otak

with 8 comments

saya mendapatkan istilah ‘kram otak’ dari teman-teman penglipet sepeda lipat. *saya pinjam sebentar ya om*

saya memasang status ini di yahoo messanger saya, juga gtalk saya, baik di BB maupun di layar komputer. ungkapan ini memang sadis. aih, mana ada sih otak yang kram. uhm, mungkin ada. tapi, barangkali ungkapannya tak sesadis ini. kram biasa saya alami pada paha, pantat, bahu, tangan, dan juga betis. otak? owh!

tapi saya sungguh seperti mengalami kram pada otak saya. urat di otak (ada ga yah?) sepertinya kaku semuanya. nyeri kalau berpikir. senut-senut kalau memikirkan narasumber yang bengal ditelepon, halaman putih incopy yang belum juga terisi, dan wajah redaktur yang dilipat tujuh. lihat, dua tulisan sudah selesai. kurang satu. wawancara janjian jam empat, eh, diblenjani, dan jadi jam tujuh, diblenjani lagi … duh!

jadilah, layar komputer dell yang bagus ini terlihat menyebalkan. apalagi, lay out yang sudah menunggu untuk ditaburi dengan rangkaian huruf, kata, paragraf hingga menjadi satu tulisan utuh. meja saya juga terlihat semakin berantakan. melihat sabun dan lotion leivy saja seperti dia sudah tumbuh kumis. melihat toples biru kembang-kembang saja seperti dia sudah terisi dengan kerikil dan kerakal. wah.

saya capek. dari kemarin marathon edisi reguler, piket dan sekarang edisi khusus. awalnya mulus, tapi … capek juga! capeknya ada pada saat menunggu, harus menunggu. itu saja. kenapa tidak bisa fixed. tidak bisa langsung. huwh.

sebentar lagi rambut saya kribo. kepala saya terbelah. otak saya akan meledak.

saya kram otak. tolong!

Written by femi adi soempeno

November 23, 2007 at 8:56 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,