The red femi

Posts Tagged ‘jakarta

angkringan, nggak ngangkring banget

with 5 comments

saya menikmati malam dengan lampu meredup di angkringan.

dan saya sungguh menikmati bakaran hangat agak garing dari sate usus, sate telur puyuh, dan sate ati yang diangkat oleh si empunya angkringan. saya menyantapnya begitu saja. sesekali, dengan sego kucingnya. obrolan yang hangat membikin wedang jahe yang saya pesan menjadi lebih hangat.

tapi kok beda ya, di angkringan ini.

barangkali karena tidak ada tumpangan tiga teko besar untuk merebus air di angkringan. yang ada hanya piring-piring berisi tahu dan tempe bacem, sego kucing, sate usus, tempe goreng, dan jajanan khas angkringan. juga, barangkali yang berseliweran adalah kijang biru langit dengan nomor 09, 09A dan 11.

shoot. saya tahu, ini angkringan di jakarta, bukan di jogja.

tapi ya, saya nikmati saja. toh, ini bukan angkringan pertama yang saya tuju sejak 2003 silam. angkringan di kalimalang, fatmawati, blok m dan kemudian angkringan di palmerah ini.

hangat obrolannya berbeda. wajah-wajahnya berbeda. gayanya berbeda.

ah. iya, iya. ini bukan jogja.  jadi ya wajar kalau tidak ngangkring banget.

Written by femi adi soempeno

August 29, 2008 at 1:19 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

dilarang mengobok-obok kolam sendiri

leave a comment »

saya mengamini betul.

iya. dilarang mengobok-obok kolam sendiri. tak peduli isi di kolam itu menarik dan layak untuk dicaplok, tetapi sebaiknya ada di pinggir kolam saja. mengamatinya. mencermatinya.

lihat, ada senja yang mengedip nakal dari beningnya air di kolam. kedipannya seperti mengajak berbincang. tentang apa saja. tentang daun yang menguning, tentang birunya langit, dan tentang pelangi yang menggores di sore hari selepas bumi membasah.

sesekali, dari kolam itu muncul senyuman yang indah. seperti menggoda. ah, tidak, tidak. hanya ramah saja. iya, senyum yang ramah. dan hanya saya balas dengan anggukan saja. sembari tersenyum, juga dengan ramah. padanya saya belajar tentang senyum ini. senyum yang tulus.

ada pula geliatan daun yang menghijau. adem. kontras dengan beningnya air di kolam. dan sejuk.

saya tahu, saya tak ingin kehilangan indahnya. biar begini saja.

Written by femi adi soempeno

August 27, 2008 at 3:49 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

menggesek itu tidak nikmat

with one comment

ada yang berubah dengan kebiasaan saya, dan juga teman-teman di pabrik kata-kata ini.

yaitu, menggesek kartu pengenal sebagai tanda absen. owh. sungguh, ini sangat menyiksa. jam datang yang tak menentu, atau acara menginap di kubikel yang hangat, tetap saja harus menggesek di mesin absen.

dulunya, kami semua njeglok dengan kartu secara manual. kalau lupa, ya tinggal tanda tangan saja. saya cukup nyaman dengan cara absen yang seperti ini.

mengikuti aturan main yang ada, maka cara absen pun berubah, harus menggesekkan kartu dengan kecepatan yang agak tinggi. sreeetttttttt … maka akan muncul nomer induk karyawan. punya saya: 04A09. jika digesekkan ulang, maka akan tertera tulisan: already passed.

perubahan kadang tak menyenangkan. perkaranya sepele saja: tidak biasa.

Written by femi adi soempeno

August 20, 2008 at 1:48 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

sopir yang tak pernah bersyukur

with 2 comments

siang tadi saya menumpang mikrolet 09 dengan sopir yang sama persis dengan yang saya tumpangi minggu lalu.

sopirnya gendut, bulat, dan sering mengumpat. mengeluh. capek dengernya.

awalnya saya mengira ia marah dengan penumpang, atau orang yang ada di dekatnya. nyatanya tidak. dia terus mengumpat sepanjang waktu. sepanjang jalan dari slipi hingga saya turun di depan kantor. tadi juga. dia mengumpat sejak saya naik dari kantor. tak betah dengan ocehannya, saya turun di palmerah dalam perjalanan menuju slipi. 

“nggak tau apa susahnya nyari penumpang? kayaknya sih dua-tiga rit, tapi penumpangnya kagak ada! emang enak. susah bener nyari penumpang gini hari. saya sudah dua jam nih disini, baru dapat satu …”

bla bla bla.

ah, rupanya sopir muda ini tidak pernah bersyukur. lihat, kami ada banyak penumpang disini. tak juga mensyukurinya.

semoga Dia memberi rejeki untuknya.

Written by femi adi soempeno

August 19, 2008 at 4:58 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

kok kasar sekali ya

with one comment

ini bukan yang pertama kalinya.

dia menyampar sandal saya sembari menatap sinis, “kok lo beli lagi yang ini sih!” dan saya pun menjelaskan, bahwa perjalanan ke jogja mengharuskan saya menggunakan sepatu. jadinya, kembali ke jakarta, ya saya harus mengenakan sandal jepit rumah yang ada di jogja. sandal jepit membikin saya nyaman. di tengah penjelasan ini, dia buru-buru memotong, “jadi lo malu pakai sandal jepit hitam lo itu?”

shoot.

tempo hari, sama saja.

saat ia menelpon, entah siapa, tiba-tiba ia menjumput bantal yang ada di goody bag saya. ia mengangkatnya keatas, dan menghempaskannya. saya hanya diam. tak berkomentar. sama sekali. melihatnya pun tidak. tahu reaksi saya, dia diam saja.

gusti, paringana sabar.

saya tahu persis, dia ini teman saya. kami kadang kelewatan bercanda satu dengan lainnya. nyatanya, saling pengertian dan saling memahami, kadang tak bekerja dengan baik. malah, kemudian muncul anggapan yang sangat rasis dan sukuis: ooh, pantes lo begitu, lo kan dari suku blablabla.

entah, kenapa, belakangan saya sebal dengan tingkahnya.

Written by femi adi soempeno

August 19, 2008 at 7:58 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,