The red femi

Posts Tagged ‘jepang

surat-surat cinta

with one comment

jantung saya terasa berhenti berdetak sejenak saat saya memegang buku itu.

ya, the wednesday letters, the new york times bestseller. surat-surat cinta yang dituliskan oleh jack untuk istrinya, laurel setiap tahun, selama perkawinannya 39 tahun.

surat-surat cinta.

saya pernah menuliskannya. sebaris kalimat rindu. sebaris ungkapan sebal. sebaris keinginan untuk berjumpa. saya tuliskan untuknya. ya, untuk laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah. dalam secarik kartu pos tak berperangko.

empat tahun. ya, empat tahun lamanya. tak bisa menandingi surat yang ditulis jack. tapi, empat tahun adalah masa yang tak sebentar untuk menggeser siang menjadi malam. 1.460 hari.

saya tahu, saya begitu mencintainya. hingga kini. dan kartu pos selalu mengingatkan saya padanya. pada hangatnya perbincangan saban ujung minggu tiba. pada gelak yang berjejaring lewat kecanggihan ponsel antara indonesia dan jepang.

surat-surat cinta. saya pernah menuliskannya.

Written by femi adi soempeno

September 1, 2008 at 11:25 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

jam 06.00 pagi

with one comment

rasa gundah itu masih saja datang.

ah, rupanya saya masih belum ‘selesai’ dengan diri saya sendiri. perkaranya sepele, yaitu alarm yang saya setel saban jam 06.00 pagi. sesudahnya, suara lee ryn yang membikin hati ini carut-marut.

Youre my past, my future,
My all, my everything,
My six in the morning when the clock rings
and i open up my eyes to a new day
My Laughs, my frowns
My ups, My downs
Its a feeling that you get when you know that somethings true,
When i think of love i think of you

hitungan saya, kehangatan yang datang belakangan bakal memupus perasaan yang gundah yang menyapa saban pagi ini. tapi ternyata tidak.

barangkali karena senyum itu selalu menggaris di wajahnya setiap pagi, saat saya hendak memulai pagi saya, dulu. ikon itu muncul dari layar blackberry saya. memberi energi baru untuk memulai hari. dan kami pun berbincang lewat layar mungil. berbalas kabar. menceritakan pelangi yang muncul kemarin sore selepas bumi yang membasah, sembari mengharapkan senja yang indah datang sore nanti.

dan pagi saya selalu bersemangat. kayuhan sepeda terasa lebih ringan. saya pun membungkus hari dengan energi yang genap.

tapi sekarang justru sebaliknya. rasa gundah yang menyapa pagi, saban musik itu melantun mengiringi pagi saya. menerbangkan ingatan pada pagi-pagi yang menyegarkan. pagi-pagi yang penuh pulasan energi. my six in the morning when the clock rings.

ah, Tuhan. bantu saya.

Written by femi adi soempeno

August 12, 2008 at 12:26 am

ps: i love you

with 2 comments

jauh sebelum cecelia ahern menulis novel ps: i love you, saya sudah membubuhkan kalimat itu dalam setiap kartu pos yang saya kirimkan untuk laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah itu. iya, ps: i love you.

bubuhan ini memang bermakna dalam. sangat dalam. tahu kenapa? karena saya sangat mencintainya.

ah, cinta memang mampu menggerakkan pena dan menarikan jemari diatas papan kunci. cinta adalah energi.

tapi kartu pos itu kini kosong. ruang cinta itu tak lagi menggerojogkan kata ps: i love you. hanya saya tumpuk, tanpa tinta.

Written by femi adi soempeno

August 7, 2008 at 1:49 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

satu nikmat, dua lengkap

with 2 comments

“jangan lupa, kalau kamu single, itu nikmat. kalau sudah punya pasangan, itu baru namanya lengkap!” tukas tetangga kubikel.

ah. apa iya sih.

perbincangan kami sederhana, yaitu soal pasangan hidup. nyatanya, obrolan yang selalu kontroversial ini menyisakan sepenggal kalimat yang cukup membikin saya terbahak. ya itu tadi. satu nikmat, dua lengkap. ah, ada-ada saja.

belum lama, saya juga berbincang dengan si kadal basi. obrolan kami, lagi-lagi, tak jauh dari pasangan hidup. kehangatan. tokiko onose. gadis jepun. ah, banyak. kami berbincang sampai pagi. sampai mata ini hendak mengatup dan enggan terbuka kembali.

berdua dan lengkap, saya tak bisa menganggapnya keliru. pasti. mengusung tandu, tak bisa dilakukan sendiri. harus berdua. menggeret lemari buku, afdol dilakukan berdua. apalagi lemari buku besar seperti yang ada di rumah saya.

ah, kasak-kusuk soal pasangan hidup memang tak akan ada habisnya.

Written by femi adi soempeno

July 24, 2008 at 3:31 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

melabelinya

leave a comment »

label. sebuah penanda.

entah, saya suka sekali membikin label. membikin tanda. dan, tanda itu hanya satu. seperti meninggalkan jejak atas ingatan kecil.

mm … seperti label yang saya tempelkan pada bumbu masak. blackpepper. garam. lada. pala. garam. kunyit bubuk. cengkeh. tujuannya, supaya tidak keliru, maunya membubuhi masakan dengan blackpepper eeeh, kok jadi membubuhi dengan kunyit bubuk. 🙂

tapi kali ini bukan tentang masakan. tetapi, tentangnya.

seperti pada tokiko onose. iya, ‘lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah itu’.  begitu saya melabelinya. atau, ‘lelaki dengan senyum seringan kapas’. ya, ya, ya. saya begitu mencintainya. amat sangat.

sebuah rasa penasaran muncul. pada seseorang yang entah namanya siapa. 🙂 seorang wartawan yang saya jumpai dalam sebuah perjalanan singkat di jogja. pada seorang kawan, saya bercerita tentang ‘laki-laki dengan senyum sehangat senja jakarta sore itu’.  atau, ‘laki-laki yang senyumnya mampu mengerek kereta bima hingga ke jogja’. dan, teman saya mual mendengarnya.

saya juga pernah melabeli seseorang dengan: ‘laki-laki dengan mata menggaris’. hahahahaha …

dan saya kebingungan melabeli satu laki-laki ini. laki-laki yang meninggalkan gurat sejak kami berseragam abu-abu putih. saya kebingungan menjejerkan kata yang tepat untuk melabelinya. bahkan, perjumpaan yang sering belakangan ini, semakin membingungkan saya untuk membubuhinya dengan label spesial.

ada yang punya ide?

Written by femi adi soempeno

July 4, 2008 at 6:29 pm

matahari

leave a comment »

hangat.

ya, saya tahu dia sangat hangat. tutur katanya. sapanya, “halo hun …” dan selalu saja saya terngiang gelaknya. hangat. tawanya yang renyah mampu menghangatkan sepasang kaki saya yang dingin di rerumputan pelataran eloprogo.

tak ada yang bisa menggantikannya.

hangatnya tetap tinggal. sesekali menelusup, menggoda jemari untuk menari di papan kunci. menuliskan tetang kerinduan padanya. pada selarik jingga yang kami habiskan bersama. sesekali mengetuk, hangatnya mengingatkan dia pernah ada. ya, pernah.

dia mencuil hari saya. sejak bola raksasa muncul dari garis bumi. hingga muncul kembali keesokan harinya.

tokiko onose. seperti matahari.

 

Written by femi adi soempeno

June 26, 2008 at 4:29 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

saya (pernah) bahagia bersamanya

with one comment

karena saya sungguh bahagia memilikinya.

tokiko onose.

nyatanya saya (pernah) bahagia bersamanya. dan, guratan bahagia ini masih tampak jelas. ini, lihat, coba mendekat kemari. apa kalian bisa lihat jejaknya?

ada genggaman hangat sepanjang hari. memetik binar mata yang mengerdip pelahan. dan pelukan bola raksasa seolah memandekkan gerakan jarum jam.

obrolan hangat sepanjang malam. kecipak air yang membikin bergidik. suapan sate dan bumbu kental sate padang. kebingungan mencari jalan di padang. hari yang ‘habis’ di jakarta.

dia begitu hangat. dia membikin saya tak bisa berhenti meminggirkan ingatan tentangnya.

 

(ps: agaknya saya salah keliru menjumput musik dari gudang lagu milik bram, ujung minggu lalu. lagu-lagu yang saya angkut secara acak nyatanya membikin saya harus menyerah: memikirkan tokiko onose lagi)

 

Written by femi adi soempeno

June 16, 2008 at 10:51 am