The red femi

Posts Tagged ‘kadal basi

mendefinisikan ‘teman’

leave a comment »

saya tahu persis kemana saya harus bertanya: pada kadal basi.

jes jes jes jes … kereta yang mengusung saya ke jakarta, menyisakan sinyal kecil di bebekberry saya. padanya saya bertanya: kalau ada bekas pacar, ada nggak sih bekas teman?

saya memang galau. saya sedang gelisah. satu tahun belakangan ini orang-orang datang dan pergi. bisa jadi juga, saya menjadi bagian orang yang datang dan pergi dalam kehidupan seseorang. tapi sungguh. saya galau dengan kemunculan mereka yang tiba-tiba. meriung bersama. berteman. mengaku best friend. mengambil keuntungan. menelikung. menusuk dari belakang. sesudahnya, pergi.

teman.

saya tak bisa menjelaskan pada diri saya sendiri tentang jejaring ini. kadal basi membantu saya untuk mengolor benang ruwet yang belakangan membelit saya.

tentang bekas teman? ada banyak bekas teman. bahkan tak bisa dibilang teman lagi.  ada kenangan baik. tapi juga memori buruk yang tak termaafkan dan bikin trauma. tentang teman dan berteman dan pertemanan. ah, seharusnya kita tak naif dan menafikan bahwa relasi dijalin dari adanya kepentingan dan motif. tanpa motif, justru tak ada alasan menjalin sebuah relasi = ga beda jauh dengan tanaman. hanya, motifnya baik atau tidak. itu yang penting. motif pun bisa berubah di tengah jalan. dulu baik, besok kayak kucing garong.

aha. saya tahu. seperti sepeda. pada awalnya, ada sebuah kerjasama yang baik antara pantat yang dibebankan pada sadel. kayuhan yang stabil. jalanan aspal yang mulus rata. kring kring … sesekali, bel dijentikkan. tapi, kerjasama yang baik antara betis yang terus menggenjot, sepeda yang bagus dan jalanan yang mulus, harus terhadang oleh kerikil, bahkan cipratan air usai hujan yang menderas.

pun pertemanan.

dan seperti kadal basi bilang, motif pertemanan pun bisa berubah di tengah jalan. dulu baik, besok kayak kucing garong.

pertemanan, bebas kepentingan? hmm… punya teman banyak gunanya. untuk curhat. untuk tambah ilmu. untuk menikmati malam bersama. untuk berbagi hidup. untuk kerjasama bisnis. banyak motifnya. ga ada sesuatu yang murni seperti itu. justru aneh bila tak ada pikiran apa pun. tapi aku salut, jeng femi mudah bergaul dan membuka diri cukup ramah. menurutku, terlalu terbuka sehingga mudah untuk dimanfaatkan.

si kadal basi agaknya pengen bilang sama saya, jangan terlalu terbuka agar tidak mudah untuk dimanfaatkan. uhm. catatan kecil yang baik untuk mengawali usia 28 tahun. hati-hati. hati-hati. hati-hati. atau, apa perlu saya menderetkan nama teman-teman saya untuk memilah mana yang memanfaatkan dan mana yang tidak memanfaatkan? mmm. rasanya terlalu berlebihan.

tapi, ada penggalan si kadal basi yang membikin saya kian berlega hati.

tentang motif…. motif selalu ada. selalu ada yang baik dan tidak baik. bekas teman? ah… selalu datang dan pergi… biarkan saja mewarnai hari2 yang datang. koyo ngono wae kok repot. immortality itu kan ga ada. selamanya teman? ah… mendingan dinikmati selagi bisa.

ya. pagi-pagi dalam perjalanan ke jakarta, si kadal ini mengajari saya tentang pertemanan itu sendiri. benar katanya: biarkan saja mewarnai hari-hari yang datang.

sungguh, saya lega. terima kasih kadal basi!

 

(ps: dal, kadal … saya rasa saya kini cukup lega untuk membubuhkan label ‘teman’ ataupun ‘bekas teman’. terima kasih ya membikin saya lebih berani menentukan mana yang senyatanya teman dan bukan teman)

Written by femi adi soempeno

April 7, 2008 at 2:41 am

batik dan penanda jogja

with 7 comments

arif, teman kantor saya, melenggang dengan batik merah. sontak, seisi ruang redaksi berteriak menggodanya.

batik. batik. batik.

saya salah satu penyuka batik. senang rasanya plesiran ke mirota batik, dan mengagumi ratusan jenis batik yang ada di gerai itu. ujung-ujungnya, membungkus satu helai untuk dibawa pulang. rok. kemeja. celana. piyama. sprei. taplak. dan, masih banyak lagi. senang rasanya menghias rumah dengan beragam pernik yang ada batiknya.

laki-laki, siapapun itu, jika tertangkap basah oleh mata saya tengah mengenakan batik, selalu tampak bersahaja. orang jawa bilang merbawani.

saya jadi ingat, saya sempat mendandani ayah saya dengan batik yang ia pilih sendiri di mirota batik. dua kemeja lengan panjang dan lengan pendek. batik kehijauan berlengan panjang, dikenakannya saat hari terakhir menginjakkan kaki di rumah, saat peti terusung ke makam hingga tanah menimbunnya. 

ayah tampak berwibawa dengan batik. setumpuk kemeja batik masih ada di lemarinya. tidak. tidak. saya tidak ingin membagikannya pada orang lain. saya ingin menyimpannya. batik itu adalah ayah. ukuran M. lengan panjang, lengan pendek. di tahun terakhir beliau berulang tahun pada bulan februari, yani dan joko menghadiahinya kemeja batik lengan panjang. saat itu ayah bilang, “esti pulang tahun depan. tapi sepertinya sebentar lagi dia pulang juga …” dan sungguh. esti pulang ‘sebentar lagi’ pada bulan mei, saat ayah tutup usia.

ah, ayah. berharap, kelak ada laki-laki mengenakan batik bersanding di sebelah saya.

saya menghadiahi kemeja batik untuk frank, teman dari australia. senang melihatnya mengenakan batik saat kami berbincang di dunia maya. “saya kangen kamu, saya pakai ya!” katanya. teman yang baik. teman yang selalu menerbangkan saya pada kenangan di kuta.

saya membawa sekarung hadiah untuk teman-teman di jerman. tatakan gelas bermotif batik. rok batik. wayang kayu bercorak batik. dompet batik … banyak. banyak. serba batik. berharap, mereka menyukainya. batik, sangat indonesia! semoga, kado kecil itu masih tersimpan di nigeria, ghana, india, filipina, pakistan, uganda dan jerman.

beberapa waktu lalu saat mendengar nama sukardjo wilardjito, saya terkesiap. aih. tokoh supersemar itu masih hidup. saya menjumpainya pada tahun 2000, saat saya dan beberapa teman dari australia menyambanginya untuk membikin film dokumenter. kemarin, buru-buru, saya membungkuskan kemeja batik untuknya. “pak, saya femi. dulu kita pernah bertemu tahun 2000. delapan tahun lalu. ini ada kado kecil buat bapak. semoga berkenan.” bisik saya, persis di sebelah telinganya, pada saat hajatan supersemar di benteng vredeburg beberapa waktu lalu.

batik selalu menjadi buah tangan. seperti penanda. iya, penanda dari jogja. penanda dari indonesia.

konon, batik jogja sudah mulai dikenal sejak kerajaan Mataram ke-I. saat itu, Panembahan Senopati lah yang berkuasa.  awalnya, hanya keluarga kraton saja yang pakai batik. batik itu dibikin di lingkungan keluarga kraton dan dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu.

seperti merembes, batik kemudian tak hanya digunakan oleh keluarga kraton saja, tetapi menular pada istri dari abdi dalem kraton. karena kraton mendapat kunjungan dari rakyat dan rakyat tertarik pada pakaian-pakaian yang dipakai oleh keluarga kraton, maka rakyat mulai meniru batik kraton dan daerah pertama yang membikin batik adalah daerah plered. batik menjadi barang massal.

salah satunya, ya yang saya punya di rumah. dan bisa jadi, salah satunya yang dikenakan oleh arif.

Written by femi adi soempeno

April 2, 2008 at 12:07 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

perjumpaan kecil dengan si kadal basi

leave a comment »

perjumpaan ini tidak pernah saya duga sebelumnya.

kadal basi, begitu saya biasa menyebutnya belakangan ini. teman di negeri merlion yang saya tak pernah lihat sebelumnya. kami hanya saling berceloteh lewat dunia maya. jejaring yahoo messanger. surat elektronik yang diantar oleh pak pos google. dan juga, pesan pendek lewat menara BTS yang disampaikan lewat bebekberry saya. pendeknya, entuk rasa ra oleh rupa. pertemanan ini indah, meski tak pernah berjumpa.

tapi, saya barusan berjumpa. dengan laki-laki ini. tuturnya halus, pelan. aksen jawanya kental. seperti menghadapi laki-laki jawa yang sangat jawa. owh!

saya berjumpa dengannya mengenakan rok batik, kaos hitam, dan sepatu sandal prada. saya menjinjing tas seadanya, seperti jaring ikan. tapi, agaknya rok batik yang saya kenakan mengganggu pemandangannya. “sepertinya, yang namanya femi tidak pake rok … ” waduh.

dan kami menuju warung ayam goreng mbok sabar. baceman ayam kampung yang digoreng. mengkilat, berminyak. rasanya uenak tenan. seminggu terakhir ini kami membincangkan ayam goreng mbok sabar ini. iya, bahkan hingga ke slilit-slilitnya yang membikin saya terpingkal-pingkal.

“kowe isih omong boso jowo to fem?” tanyanya. saya mengangguk, mengiyakan. “tapi sepertinya salah satu dari kita sudah kehilangan kejawaan kita. kamu makan cepet-cepet. makan, orang jogja kan biasanya menikmatinya. pelan-pelan. alon-alon, ora kesusu, ora cepet-cepet …”

saya mengamati piring saya. dalam sekejap, piring saya kosong. cepat. ludes. habis. zero. cilaka.

dan, kami terus bertukar cerita. tentang ketidakinginan sekolah. tentang sebuah pernikahan. tentang keluarga kecil. tentang ayah-ibu dan saudara-saudara. dan pasti, tentang jogja.

terima kasih, boleh mencuri waktu dari keluargamu. senang berjumpa denganmu, kadal basi. semoga liburan paskahmu menyenangkan.

Written by femi adi soempeno

March 16, 2008 at 4:24 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

menguji cinta

leave a comment »

ada tidak ya formula untuk menguji cinta?

sebuah jawaban saya dapatkan dari teman di seberang negeri. begini katanya. “untuk apa menguji cinta? jika teruji, apakah lalu bahagia. jika gagal uji, bukankah hanya duka semata. cinta jangan diuji, jeng femi… tapi terus terang, saya juga ngga bisa bilang cinta gampang dibaca, soalnya ada di dalam hati.”

sebenarnya saya hanya terusik dengan ujaran laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah yang berujar pendek, barusaja. “cuma ngetes kok hun,” katanya.

ehm.

barusan kami berbincang lama. iya. saya berbincang dengan laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah. terpekur saya terduduk di depan teras gedung kantor. saya menangis. aih. kenapa saya begitu mencintainya. iya, kenapa saya sangat begitu menyayanginya. sementara tetangga kubikel barusaja bilang, “dimana-mana fem, orang pacaran itu seneng-senengnya 20%, sisanya nangis-nangis!” uh, apa iya begitu? kayaknya enggak.

tapi sungguh, laki-laki dengan tawa nan renyah itu membikin saya menangis. di ujung percakapan, ia berusaha menenangkan dan melegakan saya dengan bilang, “cuma ngetes kok hun.” tapi saya tahu persis, perasaan saya tidak enak. hingga tudingan pertanyaan balik saya lemparkan padanya. “kamu mau apa dari aku?” dia berpikir sejenak, dan menjawab, “seluruhnya!” dan saya kembali bilang padanya, “oke, aku beri hidupku buatmu kalau begitu,” jawab saya.

gombal? mungkin iya. tetapi kali ini tidak. saya serius.

saya bertanya lagi padanya, “kamu bahagia punya aku, hun?” dia tersenyum, menganggukkan kepala dan menjawab, “bahagia!”

tidak, saya tidak sedang mengujinya. sebaliknya, dia yang menguji saya. buat apa ya? teman di negeri merlion itu menutup perbincangan kecil kami dengan bilang, “cinta itu tumbuh, dirawat dan ditumbuhkembangkan… ga kayak ulangan yang pakai ujian segala…”

iya, iya.

Written by femi adi soempeno

February 29, 2008 at 4:39 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

kegelisahan kecil

with 2 comments

kegelisahan kecil itu muncul juga. kali ini, tentang pencarian si belahan jiwa yang tak kunjung tertangkap tangan. kegelisahan itu muncul dari teman di perantauan.

dia: ning fem
dia: aku kok kepikiran
dia: banyak kaum hawa
dia: opo jaman skg ga butuh kehangatan kaum adam po?
dia: kok koyo ra doh butuh?
….

dia: aku aja juga masih mencari
dia: ngga
dia: ada seorang srikandi menarik hati
dia: tapi kok ga ada minat ke arah
dia: bangun keluarga

rasanya saya ingin terbang ke tempatnya dan berbagi cerita dengannya. meriung di pinggir clarke quay, rasanya pasti menyenangkan sekali.

humh.

teman, tenang. masih ada kok perempuan yang membutuhkan kehangatan laki-laki. aih, bukan hanya berbagi hangatnya pelukan dan kecupan kening di tengah malam. tetapi juga berbagi senyum dan mencuil hari bersama. tak harus menjumput roti di piring yang berbeda, sementara bisa menghabiskan sepotong roti buat berdua. menyurungkan tusukan sate untuk ia gigit, lebih seru ketimbang menggigit tusukan sate buat dimakan sendiri. apa yang lebih indah ketimbang menarik sudut bibir ke atas bersama-sama? rasanya tak ada.

mungkin belum saatnya. atau, mungkin waktunya belum tiba.

nanti, nanti juga tiba masanya. saat perempuan itu datang dengan penuh kehangatan. dengan sepiring kopi pahit dan jejeran pisan di sebelahnya. kemudian, uyon-uyon melantun pelan. menua bersama.

Written by femi adi soempeno

February 18, 2008 at 11:45 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

femi secret

with 3 comments

awalnya, kami berbincang soal makanan, kemudian soal gereja, lha kok nyungsep ke victoria secret. duh.

iya, obrolan kami hanya lewat ponsel. memang, kelewat mahal dibanding chatting yang nyolong bandwith dari kantor. huwks. 😀 jakarta-singapura, mestinya lebih mahal ketimbang jakarta-jakarta. eh, tapi ini bukan soal ongkos ngobrol lewat pesan pendek. ini soal victoria secret.

saya suka bermain air. saya suka mencuci pakaian sendiri. tapi cuaca jakarta yang ogah-ogahan memamerkan bola raksasanya membuat saya jadi malas mencuci. jadinya, ya saya minta orang lain untuk mencucikan pakaian saya. kecuali, pakain dalam saya. 😛

ya, masa sih saya meminta orang lain mencuci kancut dan kutang saya. yang bener aja. pakain dalam, serbet makan, handuk kecil. itu mah jatah saya. sedangkan celana panjang, sprei, handuk, kaos, itu mah jatah orang lain. lagipula, malas antri setrika di ruang tengah.

tapi, teman di sebrang lautan sana agaknya sedang senang memamerkan kepiawaiannya mencuci pakaian. wah. maka saya bilang saja, tau gitu sekalian mencucikan kutang dan kancut saya. eh, dari sinilah kemudian obrolan beralih ke victoria secret.

saya mah punya kancut merek beginian. sesungguhnya bukan perkara merek, tetapi … tetapi apa ya. saya juga tak punya alasan kenapa mengangkut kancut itu. soalnya, mahal murah kancut itu tetap saja bikin cemas alias celana masuk silit. whoops. maab. bisa jadi, pantatnya yang keliru. bisa jadi, gesekan pantat kanan dan kiri tidak konsisten. bisa jadi, celana panjang atau rok bikin si victoria rewel.

di lemari, celana yang bukan victoria secret dan yang victoria secret juga saya pisah dalam keranjang yang berbeda. saya tak ingat kenapa memisahkan begini. seingat saya, lemari saya butuh wadah kancut rotan yang bikin lemari menjadi lebih rapi. karena kelebihan wadah rotan, saya memisahkan keduanya.

tiba-tiba teman yang sedang pamer cucian setumpuk itu nyelonong dengan pesan pendek: femi secret. uwh. menarik. menarik. menarik. kenapa ga bikin kancut merek femi secret ya.

iya, akan saya usulkan nanti. femi secret. bagaimana?

Written by femi adi soempeno

November 12, 2007 at 10:05 am

susu beruang

with 3 comments

borongan saya kali ini lebih murah.

Rp 39.750 untuk sepuluh kaleng susu merek bear brand, susu beruang. susu ini saya angkut di hero plasa senayan. biasanya, harganya Rp 1.000 lebih mahal. barangkali ini weekend, ada harga promo. kalau sudah begini, masa enggak mau borong sih? lagian, butuh juga. lebaran lalu, saya beli sekaleng malah Rp 5.100. duh, mahalnya! saya bungkus sepuluh kaleng untuk kakak saya yang sedang dalam masa penyembuhan. buntutnya, malah bukan dia yang minum, tapi kakak saya yang berkendarai nyaris 24 jam dari Jakarta ke Jogja.

“maksimal pembelian enam kaleng, mbak!” kata perempuan di meja kasir. owh. oo … promo begini ternyata ada batasannya. tidak boleh main borong sembarangan. aih, takut untuk dijual kembali, rupanya. “bon nya saya bikin dua aja ya!” sambungnya. oh ya, kenapa tidak. bayarnya sih sekaligus. nah, gitu dong. saya enak, hero nya juga enak lantaran dagangannya laris manis.

bukan, ini bukan susu beruang, ini susu sapi biasa. rasanya adem. plain. saya suka yang begini ketimbang yang manis dengan rasa cokelat yang lekat. entah, apa yang bikin susu beruang ini menjadi lebih mahal dari yang lainnya. barangkali kemasan kalengnya. atau, bisa jadi karena dibikin di thailand. atau, bisa jadi karena itu susu beruang. aih!

bear brand milk. Bear brand is made from 100% cow’s milk sterilized and delicious. switzerland milk is recommended for all purposes for which milk is required. shake tin before opening.

saya biasa meminumnya. tidak saban hari, tapi saban saya ingat saat saya ada di supermarket. saat butiran debu dan asap knalpot memenuhi rongga tenggorokan saya,  juga mengingatkan saya untuk mengusung susu beruang ini dari supermarket. help me bear brand!

teman yang lalai minum bir usai minum obat, langsung disentak oleh pasangannya. “kamu ini bagaimana sih! kalau keracunan bagaimana! cari susu beruang … sekarang! se-ka-rang!!!” teriaknya dari ujung telepon. sementara, teman saya hanya cengar-cengir sambil bilang, “kalau enggak nyari susu beruang, kira-kira apa yang akan terjadi?” di ujung sana, teriakan dan kalimat dalam nada perintah menjadi kian bersemangat. “bla bla bla … se-ka-rang!!!”

harga sekaleng susu sekitar Rp 5.000 adalah harga yang tidak murah bagi kantong saya. tapi, untuk sehat dan untuk bebas kuman di dalam badan, boleh lah! saya juga semakin tidak peduli apakah susu ini bikin gemuk atau tidak. dari fakta gizinya, lemak total sekitar 7 gram. saya habis sekaleng sehari. sehat!

Written by femi adi soempeno

November 12, 2007 at 9:49 am