The red femi

Posts Tagged ‘kakak

pertanyaan itu muncul lagi

with one comment

dan pertanyaan itu muncul lagi dari kakak nomor tiga. “sudah punya pacar belum?”

halah.

lima kakak saya selalu mengkawatirkan kesendirian saya. barangkali saya anak paling kecil. mm … tapi tidak juga. empat kakak dan satu adik juga selalu mengkhawatirkan esti. artinya, memang semua saudara mengkhawatirkan mereka-mereka yang belum memiliki pasangan. terima kasih.

dan jawaban yang saya lontarkan selalu sama, “belum.” atau, “baru putus.” aih, betapa jawaban apapun selalu meninggalkan garis bibir yang tertarik ke atas. tak perlu cemas. tak perlu khawatir. hidup ini tetap saja menarik saat dilalui dengan siapapun. baik itu seseorang yang selalu bisa saya andalkan. atau begitu banyak orang yang merubung saya.

humh.

tak banyak yang tahu soal jejalin yang saya jahit dengan lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah di negeri matahari terbit. hanya abang yang paling mengerti bahwa jejalin ini melonggar dan tak lagi bisa rapat. tergunting oleh jarak yang makin jauh dan kesibukan di tanah yang berbeda. tambal sulam nyatanya tak bisa menyelamatkan tautan ini.

tak apa. dan saat besok bertemu lagi dan bertanya pertanyaan yang sama lagi, juga tak apa. pertanyaan itu semakin membuat saya ingin menunggunya. dan menunggunya.  

Written by femi adi soempeno

May 15, 2008 at 8:58 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , , ,

between two sisters

leave a comment »

one is here, one is there. one is a little taller than the other. two different styles of hair, two different outlooks on life, two very different views from their windows. both have different tomorrow ahead.

itu adalah cerita tentang the story of two very different sisters, buku kecil yang dihadiahkan oleh esti untuk saya. iya. esti, kakak semata wayang saya. dia menyertakan itu bersama hadiah yang dibawanya dari US untuk ulang tahun saya. aih. dia selalu begitu. selalu membanjiri orang-orang di sekitarnya dengan hadiah. lebih dari sekadar barang, ia hadir.

dan, kami berbeda. iya, kami bersaudara, berbeda, namun tetap berbagi.

each is unique in so many ways. each has her own story, with all the busy things going on in the present. each has different work to do and different demands on the day. each has a separate destination and a distincly different path to get there. but …

tapi kami mensyukuri perbedaan kami sebagai sebuah kelengkapan yang alami yang Dia hadiahkan untuk kami. kesibukan DC menenggelamkannya, sementara Jakarta sudah membikin saya menua. cita-citanya menjadi wartawan kandas dan saya menggantikannya.

for all the things that might be different and unique about them … these two sisters will always share so much. they will always be the best of family and friendsm entwined together, through all the days of their lives. their love will always be very special: gentle and joyful when it can be, strong and giving when it needs to be, reminding them, no matter how different their stories turn out.

dan kami terus berbagi. saling bersandar. hingga ia mampu mengandalkan si bungsu untuk merawat ibu dan ayah di ujung usia mereka. kami juga berbagi mimpi: tetap menjaga nama baik keluarga. dalam keseharian yang terpisah bermil-mil jauhnya, kami masih bisa membuncahkan tawa. sedikit hentakan dan tanda seru, namun terbayar dengan pelukan hangat dan perbincangan berjam-jam.

they share the incredibly precious gift of being ‘sisters’. and when you think some of the best things this world has to offer, a blessing like that is really … what it’s all about.

iya. kami sangat mensyukuri betapa kami saudara sekandung. meninggalkan masa kecil nan manis, penuh kegembiraan bersama ayah dan ibu. mengancik usia remaja dan memulai tanggung jawab sebagai anak. tidak ada tertua atau termuda. tidak ada sulung atau bungsu. sama-sama anak. sama-sama berbagi. membahagiakan orang tua. menghadiahkan yang terbaik untuk mereka.

saya bahagia punya esti. semoga esti juga bahagia punya saya.

Written by femi adi soempeno

April 16, 2008 at 10:13 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

selalu saja mules

leave a comment »

perut saya sangat sensitif.

seperti semalam, saat saya menunggu esti,  kakak saya, muncul dari pintu kedatangan. perut saya mules. mual. ini adalah penanda kecil stress. uwh. mbakyu datang kok ya stress.

saya tak bisa membayangkan bagaimana bentuknya. bagaimana ukurannya. bagaimana bawelnya. sudah hampir dua tahun kami tak berjumpa. kangen. rimdu. telepon dan ruang maya menjadi ruang celotehan kami. selebihnya, kami menyimpan kerinduan untuk bertemu pada tahun 2009. lha, datang 2008, rimdu dua tahun ini juga sudah menggunung.

jadi saya berlarian ke toilet.

berjumpa dengan esti tahun ini adalah kecelakaan kecil. harusnya masih tahun depan. tahu, apa yang dia bilang? “sama-sama habis banyak, daripada aku liburan ke yerusalem, lebih baik aku ketemu kamu dan menengok bapak ibu …” uwh. ini juga yang saban mengingatnya saya menjadi mual.

Written by femi adi soempeno

April 12, 2008 at 3:52 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,