The red femi

Posts Tagged ‘kangen

matahari

leave a comment »

hangat.

ya, saya tahu dia sangat hangat. tutur katanya. sapanya, “halo hun …” dan selalu saja saya terngiang gelaknya. hangat. tawanya yang renyah mampu menghangatkan sepasang kaki saya yang dingin di rerumputan pelataran eloprogo.

tak ada yang bisa menggantikannya.

hangatnya tetap tinggal. sesekali menelusup, menggoda jemari untuk menari di papan kunci. menuliskan tetang kerinduan padanya. pada selarik jingga yang kami habiskan bersama. sesekali mengetuk, hangatnya mengingatkan dia pernah ada. ya, pernah.

dia mencuil hari saya. sejak bola raksasa muncul dari garis bumi. hingga muncul kembali keesokan harinya.

tokiko onose. seperti matahari.

 

Written by femi adi soempeno

June 26, 2008 at 4:29 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

pondok indah dan nyessss …

with 3 comments

saya selalu sebal dengan perasaan yang datang tiba-tiba begini.

perasaan ini sungguh tidak saya undang. rasa yang nyeessss … saat memasuki mal pondok indah 2. tokiko onose. laki-laki itu seperti datang kembali. menggurat senyum dan seperti melambai dari empat kursi di satu meja bundar di starbucks.

seperti masih kemarin sore. dan nyeessss …

dan dada ini tiba-tiba sesak. lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah itu meninggalkan ingatan tentang sebuah masa. dan enggan pergi.

starbucks. kunokuniya. pondok indah mal.

tokiko onose.

andai hati ini bisa ditipu. seperti rambut hitam yang memutih, memudarkan usia. dan basuhan hitam membohonginya. menjadi lebih muda.

tetapi hati ini tidak. ada tokiko onose disini.

 

Written by femi adi soempeno

May 26, 2008 at 12:09 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

renanda, dan rasa kangen itu

leave a comment »

tokiko onose.

saya kangen. iya, saya kangen padanya. pada laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah. pada derai tawanya yang menderet. pada aksen padang-indonesia yang kental, serta tata bahasa yang kacau. pada pertanyaan pendek di awal perbincangan kami, “apa kabar hun?”

humh.

nyatanya saya tak baik-baik saja saat ini. dan kalaupun ia meninggalkan pesan pada bb saya sore ini, saya tetap akan mengatakan demikian. saya sedang tidak baik. bukan karena tulisan tiga halaman soal derivatif valas yang tak kunjung usai. tapi karena saya kangen padanya.

dan lagu owner of my heart-nya sasha membikin hati saja makin meranggas.

If you look straight in my eyes
You will know I’m not pretending
I don’t hide, there’s no disguise
Why you doubt me, that’s a strange thing
I’ve been true right from the start
You’re the owner of my heart

shoot.

ya. dan dia sudah mengambil semuanya. membawa semuanya.

dan take off to padang-nya karimata bergendang di telinga saya kemudian. aih. sungguh, ini sebuah ketidaksengajaan yang sempurna.

Written by femi adi soempeno

May 21, 2008 at 11:21 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

telepon cinta

with 2 comments

sepertinya kami ada di dalam kelas dan mengacungkan tangan saat pak guru mengabsen. “hadir!”

jogja masih basah saat kami membikin temu janji pukul 6 sore. berbincang. meregang rindu. membikin jalan setapak cinta ini menjadi lebih panjang. berjejalin lebih erat. hangat.

suaranya lirih. tapi dari kejauhan, saya bisa membayangkan senyumnya yang nakal dengan aksen indonesianya yang sudah berantakan. saya jadi membayangkan hangatnya pelukannya. dulu.

padanya saya bilang, “aku kangen.”

“kenapa kangen?” tanyanya. ini adalah pertanyaan menyebalkan yang pernah saya dengar.

“apakah harus ada alasan untuk kangen?” saya balik bertanya.

“iya …” jawabnya.

sekenanya, saya membikin alasan. “karena kamu jauh. kalau dekat, bisa jadi aku nggak sekangen saat ini.”

saban sabtu, ungkapan ‘kangen’ ini lebih mudah diumbar. juga, lebih banyak diumbar. dengan suara yang sedikit tertahan dan kekesalan kecil karena jarak kami yang berjauhan. hingga ‘kangen’ menjadi sebuah kata yang dimuntahkan dengan sebuah kesungguhan. ya, dan sabtu adalah ajang mengumbar kangen. tawa renyah. rasa cemburu. membagi ilmu. mengiris kedewasaan.

baru saya tahu, nyatanya ia tak bisa makan soto padang, rendang, sate padang, lamang baluo dan teh talua dalam waktu yang bersamaan. terlalu banyak. saya membayangkan dia berteriak, “emang perut gue sumur??” hahaha … nyatanya dia tak berteriak begitu. “coba femi sedikit lebih dewasa …” katanya.

baginya, ini bukan soal cemburu dan tidak cemburu.

tetapi soal hati yang sedikit terusik saat saya bercerita soal anu, anu, anu, anu, anu, anu, anu … . iya, soal teman-teman laki-laki yang mengerubungi kehidupan saya. eh, teman lo, hanya teman. nyatanya, umbaran cerita ini terlalu berlebihan buatnya. padanya saya bilang, “maafin aku ya …” rasa bersalah itu kemudian muncul.

tapi bukan dia kalau tak bisa membikin saya lekas tertawa kembali. “lho, dia itu duda lo, kaya, ganteng …” godanya, menunjuk pada salah satu tokoh yang saya tulis dalam buku kedua saya. ini dia bagian dari perbincangan yang saya paling nggak doyan. digoda. “saya mendukung kok kalau kamu sama dia …” katanya lagi. halah. dan seperti biasa, saya buru-buru memamerkan rasa sebal saya padanya. mau tahu apa balasannya? sebuah tawa yang renyah. aiiih! “coba kamu ada disini, sudah kucubitin kamu!” kata saya, menyerah.

sabtu malam juga masa untuk mengumbar ciuman. kali ini, kado ciuman untuk saya berlimpah! lebih dari itu, sabtu adalah sebuah penanda. sebuah patok. untuk sebuah rasa kangen yang lunas terbayar.

Written by femi adi soempeno

February 3, 2008 at 10:30 pm

sepatu plastik versus boot

with one comment

tiba-tiba saya teringat sepatu plastik punya ibu.

ukurannya mungil, soalnya kaki ibu juga mungil. kalau tidak mencermati dengan tepat, pasti akan mengira sepatu ibu yang berwarna hitam itu sepatu kulit. padahal, itu sepatu plastik. hitam. mengkilap. bersih. mulus. di bagian telapak kaki, bergaris hitam-putih. ibu sering mengenakannya saat musim hujan.

saya agak sebal dengan sepatu plastik itu. pikir saya waktu itu, kalau ada sepatu biasa, kenapa mesti mengenakan sepatu plastik. atau, kalau hujan datang dan bisa berganti dengan sandal jepit, kenapa masih mengenakan sepatu plastik. atau, apa sih istmewanya sepatu plastik itu. tidak lebih indah ketimbang sepatu lain yang membungkus kaki ibu.

kalau musim hujan hendak selesai, atau musim hujan akan tiba, ibu selalu berjaga-jaga dengan sepatu plastik itu. jepitan di depan kendaraan selalu ada jas hujan dan sepatu plastik. sepatu plastik itu selalu dimasukkan dalam tas kresek hitam atau putih. rasanya, ibu senang sekali dengan sepatu plastik itu.

saat itu saya masih kecil. saya masih senang berbasah-basah bila hujan jatuh ke bumi. tanah basah. senang rasanya membaui tanah basah. saya memilih untuk tetap membasahi sepatu kets hingga terasa berat, dan memberat. atau, saya memilih untuk telanjang kaki. dus, tak ada urgensinya kan mengenakan sepatu plastik? saya tahu, sepatu plastik itu didesain untuk ibu-ibu, seperti ibu saya. sayangnya saya tak sempat menanyakan dimana ibu beli sepatu plastik itu.

sekarang saya punya sepati boot. ini plastik. sepatu boot ini didesain untuk musim hujan, menghalau air agar tak masuk ke dalam sepatu. tingginya hingga setengah betis. psst sesunguhnya sepatu boot ini untuk anak-anak. warnanya merah dengan bintik-bintik hitam. diujungnya ada mata kepik yang menonjol. tu kan, ini memang sepatu boot untuk anak-anak.

tapi esti membungkuskannya untuk saya, si bungsu. “pakai saja kalau musim hujan …” katanya.

saya sudah mencobanya, awal tahun ini. dan … berhasil. air tak mampu menembus setinggi setengah betis saya. tak ada air yang masuk ke dalam sepatu. kaki dan kaos kaki saya tetap kering. hangat. ujung celana jeans saya juga tetap kering. tapi saya harus membayar mahal untuk ini: banyak mata menatap boot merah kepik yang digunakan perempuan berusia 27 tahun.

boot ini sama fungsinya dengan sepatu plastik ibu. bedanya, sepatu plastik ibu untuk ibu-ibu, sementara sepatu boot femi untuk perempuan muda. mm … beda kan?

(ps: ibu, femi jadi kangen ibu.)

Written by femi adi soempeno

October 16, 2007 at 1:22 am

saya membasuhnya

with 2 comments

saya membasuh kaki ibu. di teras rumahnya. juga, membenahi atap rumah ayah.

perjumpaan saya dengan mereka hanya sebentar. sebentar sekali. saya membawa sebotol air bersih dan lap hijau. keduanya untuk membersihkan rumah ayah dan ibu. saya mengusapnya, pelan. masih ada debu yang merangkak di rumah keduanya.

“Ibu, femi pulang. maaf, si bungsu nggak bawa kembang …”

kembang adalah tanda. tada keterwakilan akan sebuah kehadiran. tapi siang ini saya datang tanpa jejak kembang crysant seperti yang biasanya saya bawa. tapi tanpa kembang, tak mengoyak cinta. saya tetap menyebrangkan rasa rindu dan meninggalkan jejak cinta di teras rumah mereka. “femi kangen kalian …”

rasa bahagia (bukan gembira) selalu menancap setiap weekend tiba. langkah sumringah selalu saya ayunkan memasuki pelataran rumah mereka. spontan. otomatis.  ujung minggu tiga tahun belakangan telah mengajari saya pulang tanpa rasa letih. ujung minggu si bungsu ini milik ayah dan ibu. ayah dan ibu yang tidur sangat panjang. tidak bangun kembali. hanya melemparkan salam dari dalam rumah. ibu yang mengenakan baju hitam bercorak bunga merah jambu. ayah yang mengenakan batik hijau, pilihannya sendiri. nafasnya terhembus lewat padatnya tanah dan terik bola raksasa setiap ujung minggu ini tiba. untuk si bungsu.  

kali ini tidak ada bulir bening yang mencuat dari ujung mata. saya tersenyum untuk ibu dan ayah. saya membasuh kaki ibu. juga, membenahi atap rumah ayah. “kalau si bungsu bisa berguna buat orang lain di Jakarta saat ujung minggu tiba, biarkan si bungsu melesatkan doa dari gereja di Jakarta ya …” 

Written by femi adi soempeno

September 2, 2007 at 11:05 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

tentang kita

with 2 comments

ada postingan dari tetangga yang bikin dahi saya berkerut dan hati carut marut. ini tentang lagu Kla Project di album I nya mereka. huwh .. terima kasih sudah memunculkan kembali memori ini.

Tentang Kita

Hari-hari nan berdebu bersama dirimu yakin kuhadapi
Sambil merajut berdua
Anyaman benang angan yang kau tawarkan
Sekian lama untuk mengerti
Dirimu jadi misteri yang kian terselami
Sekian jauh menilai
Kadar cinta tergali milikmu sejati

Sejuta asa yang sempat kutitipkan dalam sinar matamu
Pribadi nan sederhana
Menjanjikan keteduhan kasih nan murni
Ternyata telah menjadi kebahagiaan hati
Yang tiada terselami
Mari genggam jemari
memadu dua hati saling memiliki

Kembali, kembalilah kini
Segala asa berseri
Benahi, benahilah kini
Kepekaan nurani
Berjanji, berjanjilah kini
Tetap setia sampai selama-lamanya

(ps: lagu ini untuk kamu yang ada di sana. cepat pulang ya!)

Written by femi adi soempeno

August 23, 2007 at 5:01 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,