The red femi

Posts Tagged ‘kantor

hanya perkara Rp 500 ribu

with one comment

ada pepatah yang pernah mengatakan, “jangan pinjamkan uang pada temanmu, atau kamu akan kehilangan keduanya.”

dan benar. saya kehilangan riangnya dan obrolan yang selalu ramai dengannya. membincangkan si anu yang begini begitu, jogja yang seru dan jakarta yang panas, hingga gaya pacarannya yang serampangan.  sebaliknya, dia jauh lebih kalem, tenang dan segan untuk menggoda saya. ah. padahal, ‘hanya’ Rp 500 ribu saja.

saban akan menyapanya, selalu ia buru-buru mengangkat gagang telepon. atau, dia selalu melemparkan pertanyaan yang sangat formal dan tak masuk akal. misalnya, tahu saya suka pulang ke jogja naik kereta bengawan dari tanah abang, “pulang naik apa mbak? kayak biasanya ya? bisnis? dari senen?”

ah.

sial. mestinya saya tak meminjaminya Rp 500 ribu. karena duit segitu, saya kehilangan ketidaksopanannya, keriangannya, keceriaannya dan obrolan yang hangat dengannya.

Written by femi adi soempeno

August 11, 2008 at 12:26 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,

selalu saja basah

with 3 comments

kamar mandi paling jorok yang jamak saya jumpai adalah di stasiun kereta api tanah abang.

bukan hanya sampah yang berserakan di ujung kubikel kecil toilet, tetapi juga air yang tak lagi bening. sesudahnya, masih harus dipungut Rp 1000 untuk sekali masuk toilet. padahal jelas-jelas ada papan bertuliskan: toilet gratis.

saya beruntung mendapatkan toilet yang sangat nyaman di kantor. bersih. setiap beberapa jam sekali, ada mas-mas yang membersihkannya. membuatnya tidak becek. membuatnya wangi. *terima kasih*

hanya saja, satu dua pengguna toilet kantor agaknya belum terbiasa dengan kenyamanan ini.

bukan hanya satu dua sobekan kecil tisue putih yang berserakan, tetapi juga air yang ngecembeng becek di sudut toilet. padahal, ini toilet kering. juga, bekas tanda sepatu yang masih melekat pada dudukan toilet. juga, cipratan air yang belum dilap oleh pengguna terakhir. owh. shoot.

entah, bagaimana ini semua bisa terjadi. pengalaman dan kebiasaan, barangkali yang membentuknya.

Written by femi adi soempeno

July 4, 2008 at 5:29 am

Posted in Uncategorized

Tagged with ,

sebotol bir dan obrolan tentang astrologi

with one comment

laki-laki di kubikel pojok menggeret pembicaraan tentang astrologi.

bintang. gemintang. perbintangan. menjadi penanda untuk karakter seseorang. karakter saya. karakternya. karakter setiap pemilik tanggal lahir. ia pun menggumamkan deretan bintang secara berurutan. mulai dari aries hingga pisces. aih.

“aries itu cocok sama libra …” selorohnya. basi ah. libra atau tidak libra, itu tak jadi soal.

saya membongkar segepok catatan dari mesin pencari. hasilnya, salah satunya dari tulisan sederhana yang dibikin untuk menjelaskan mengenai astrologi. menurut catatan ini, astrologi berasal dan mesopotamia, daratan di antara sungai Tigris dan Efrad, daerah asal orang Babel kuno (kini Irak Tenggara). astrologi berkembang sejak zaman pemerintahan Babel kuno, kira-kira tahun 2000 sebelum Masehi. waktu itu para astrolog hanya mengenal lima planet, yaitu Yupiter Mars, Merkurius, dan Venus.

ilmu ini semakin berkembang. asalnya Zodiak dikembangkan di Mesir kemudian kira-kira tahun 1000 sebelum masehi diambil alih oleh orang Babel. Para astrolog mengembangkan suatu sistim yang menghubungkan perubahan musim dengan kelompok-kelompok bintang tertentu yang disebut rasi atau konstelasi. awalnya astrolog mempelajari benda-benda langit hanya untuk ra­malan umum mengenai masa depan. nyatanya antara tahun 600 SM dan 200 SM, mereka mengembangkan suatu sistim untuk menggambar horoskop perorangan. orang Yunani dan Romawi mempunyai andil besar dalam perkembangan astrologi. sampai sekarang nama-nama Romawi bagi planet-planet itu masih digunakan.

semakin penasaran, saya menelisik karakter berdasarkan zodiak. konyol?

dan saya menemukan sebuah tulisan yang bisa saya intip. tentang karakter saya. karakter laki-laki di kubikel pojok. karakter orang-orang di sekitar saya. semuanya berdasarkan zodiak. menarik juga. saya juga menemukan tulisan soal karakter perempuan aries. iya, saya.

dan saya tak bisa tidur malam ini. tahu sebabnya? karena tak bisa menemukan pasangan bintang yang cocok untuk aries. uh.

Written by femi adi soempeno

April 8, 2008 at 7:39 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

menyimpan kenangan

with 4 comments

saya termasuk orang yang suka nyampah.

uhm. tidak bermaksud nyampah. saya hanya ingin menyimpan kenangan saja. dari orang-orang terdekat. meski hanya secuil kertas kecil. invoice jamuan makan. tiket perjalanan. bungkus cokelat. pita kecil.

semuanya punya cerita. semuanya meninggalkan jejak.

di atas trolley supermini di kubikel saya, masih ada bungkus cokelat green & black’s organics, raisin & hazelnut. cokelat ini kado kecil dari si kadal basi yang saya jumpai pertengahan bulan maret ini. saya masih ingat betul, saat ia menggeledah tasnya dan menyodorkan cokelat. iya, cokelat kesukaan saya.

di monitor saya, masih tertempel stiker luggage fragile. stiker ini dulu tertempel di tas folding bike saya, dalam perjalanan dari padang ke jakarta, awal tahun ini. harusnya saya tahu, stiker yang tak juga saya buang itu menjadi penanda bahwa perjalanan ini bakal usai.

ada kotak cokelat daim di pojok kubikel saya. cokelat ini saya kenal dari holger, lelaki jerman yang senyumnya seringan kapas. tawarannya pernah saya tampik. “aku nggak makan permen …” kata saya. tapi, dia masih tetap memaksa dengan aksen jermannya yang sangat kental. “tapi kamu harus mencoba ini. enak!” dan … enak! daim selalu mengingatkan saya padanya.

di pinggir kubikel, saya ada sekeranjang mungil tiket kereta api jogja-jakarta. saya intip sebentar, sejak tahun 2004! saya harus menyadari perjalanan jakarta-jogja-jakarta ini sudah hampir empat tahun.

saya juga masih menyimpan tiket bayang-bayang retak, pertunjukan teater dalam rangka ulang tahun gonzaga, 10 februari 2007. saya menonton bersama bli komang. dua tiket ini saya dapat dari chris. gonzaga, mempunyai ruangan tersendiri dalam benak saya. kegilaan anak-anak jakarta. makan malam di pizza hut saat minggu pertama di jakarta dengan nanang. jejalin yang menyenangkan bersama dengan bello. sabtu yang tak pernah sepi karena ada adin.

secarik kertas kecil dari yayasan vihara dharma jaya toasebio di jalan kemenangan, jakarta barat. tiga tahun lalu, saya menjumput senja bersama dengan hendra, teman saya. make a wish ala tionghoa, kertas itu saya pilih. bunyinya: cahaya bulan menyoroti empat penjuru lautan. masa depan akan makmur sentosa. sapu bersih awan-awan yang berambang-ambang. akan terhindar dari segala bahaya. artinya: pekerjaan ada untungnya, berdagang ada hasilnya, keluarga menggirangkan, jodoh cocok, sakit segera sembuh, perkara harus berhati-hati.

dan, masih banyak lagi kenangan yang tetap berserak, bukan hanya di benak. terima kasih buat kalian yang sudah mengisi hari-hari saya.  

Written by femi adi soempeno

March 31, 2008 at 1:20 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

pak, kue pak?

with 9 comments

“Pak, kue pak …?”

hampir setiap hari, penjual kue datang ke lantai redaksi di pabrik kata-kata saya. lantaran gaya menawarnya sama setiap hari, kami memainggilnya dengan sebutan ‘pak-kue-pak. menyambangi setiap kubikel yang sedang dihuni oleh pemiliknya, ia kemudian memberi iming-iming tambahan. “komplit lho …” padahal, senyatanya nggak melulu komplit. dus, komplitnya hari ini dengan lusa mah sama saja, pasti si-pak-kue-pak itu akan mengatakannya sebagai komplit.

ada susu kedelai. onde-onde. keripik padang pedas. lemper. semar mendem. roti. siomay. dan masih banyak lagi katogori jajan pasar yang diangkut oleh pak-kue-pak ini. pagi ini saya ambil sekotak kue isinya 2 roti pisang. “roti apa ini pak?” tanya saya. dia menjawab sederhana, “kartika sari …”

huwks. kartika sari dari hongkong? hahahahaha …

ya, memang mirip molen yang biasa diangkut dari kartika sari, bandung. tapi yang ini agak lain. gulanya cukup banyak. basah. teksturnya agak kasar. potongan pisangnya gede banget. ongkos kenikmatan kartika sari dari hongkong ini cukup Rp 2000 saja. sedap!

tapi sosok pak-kue-pak ini memang ulet banget. empat tahun silam, saat saya mulai bekerja di pabrik kata-kata di sini saya mendapati dia mengayuh sepeda dengan kotak makanan besar di boncengannya. datang dengan berpeluh, dan mengharapkan bisa ngadem sebentar di pabrik ini. dia terus mengayuh. dan kian mengayuh. recehan laba dari hasil menjual jajanan pasar yang ia angkut pasar pagi senen nyatanya mampu untuk membeli satu unit kendaraan suzuki shogun lawas.

ini adalah modalnya untuk bisa lebih cepat datang ke kantor. mencoba menghabiskan puluhan kue yang ada di kotaknya. bahan bakar naik tak membuatnya gentar. ia terus berjualan. laba digemukkan sedikit. seperti siang ini, dia datang ke kantor dan menyambangi lagi sembari bilang, “Pak, kue pak?”

Written by femi adi soempeno

November 8, 2007 at 6:26 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,