The red femi

Posts Tagged ‘kereta

pecel kok 5000

leave a comment »

biasanya, pecel seporsi harus saya tukar dengan lembaran IDR 3000-an.

tapi, banderol dalam perjalanan ke jogja kali ini IDR 5000. “larang tenan!” seru saya. dan saya pun baru tahu, ini bukan pecel kecombrang yang biasa saya santap. ah, pantas. sontak, si penjual bilang, “belanjane yo larang je …”

sebenernya, IDR 5000 itu tak terlalu mahal. tapi, jika dibandingkan dengan pecel sejenis dalam acara berkereta seperti biasa, ongkos segini terlalu mahal.

karena tetangga sebelah juga menginginkan pecel, ya jadilah pecel itu tak jadi saya angkut. saya memilih sabar menunggu pecel kecombrang.

masuk ke purwokerto, saya mendapatkannya. seporsi pecel kecombrang yang dilego hanya dengan tiga lembar uang seribuan saja. sedap.

Written by femi adi soempeno

August 22, 2008 at 8:23 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

nomer E

with one comment

“satu, bandung, nomer E, kursi yang agak tengah ya,” kata saya, pada si penjaga loket.

saya melihat mimik muka si penjaga. berubah. tangannya yang semula siaga di atas papan kunci, jadi terhenti, dan diletakkan di ujung meja. saya juga jadi ikutan diam. “E? nggak ada …” katanya.

wah, saya jadi ragu sendiri. saya mencemati papan kecil menyerupai kalender meja, berwarna kuning. disana tertera ‘parahyangan 13.30’. benar kok. ini kereta yang akan saya tumpangi. “yang dekat jendela,” jawab saya. tegas. bersemangat. berusaha meyakinkan. ujaran ini dijawab tak kalah mantap, “adanya A atau D.”

oops.

saya baru sadar. saya tahu. saya salah bilang. bukan E, tapi mestinya A atau D. ini bukan kereta ekonomi yang saya tungganggi saban weekend ke jogja. tapi kereta bisnis dan eksekutif yang hendak ke bandung. jadi, tak ada nomer E. adanya, A dan D, itu yang di dekat jendela.

“mulane fem, mlarat ojo kesuwen,” komentar esti, kakak saya, saat saya berbagi cerita soal kecelakaan pembelian tiket nomer E ini. (makanya fem, miskin jangan kelamaan)

Written by femi adi soempeno

July 26, 2008 at 1:01 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

I’m home

with 2 comments

hijau.

kanan dan kiri saya hijau, selepas cikampek. selamat datang pada alam nan indah. kian ke timur, kian indah. jogja membikin saya tersenyum pagi ini.

kereta fajar yang saya tumpangi melaju pesat. ah, rasanya seperti terbang. membelah hijaunya ladang padi dan kebon tebu. jalanan begini selalu mengingatkan pada rumah ayah dan ibu yang baru. I miss u soo much dad, mom …

saya pulang.

mata ingin mengatup sementara terik semakin menyengat. kotak yang bergerak-gerak ini seperti menyediakan tempat tidur yang sangat nyaman: kolong kursi, dengan beralaskan koran. dan saya menggeletak.

penjual pecel membikin saya sabar menanti. sementara sekotak getuk sokaraja dan sekarung lanthing harus saya bungkus lantaran mimik muka si penjual yang kerutannya tebal, tanda sudah cukup tua. seperti mengingatkan saya, betapa saya sangat bersyukur, ayah saya tak harus bekerja ekstra keras hingga ujung usianya.

dad, mom, I’m home.

Written by femi adi soempeno

May 31, 2008 at 11:59 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , , ,

bantal punggung

with one comment

ada temuan spektakuler minggu malam lalu. bantal punggung.

aih. spektakuler? memang. tak mudah menemukan back pillow seperti itu. untuk mengganjal punggung saat berkereta di ujung minggu. juga saat mengisi halaman putih ini di kantor. nyaman.

saya sudah menjajalnya selama setengah minggu ini. dan cukup nyaman mengisi ruang kosong dibalik tulang punggung saya. empuk-empuk. ya bantal biru ini.

si empunya kursi-kursi di pabrik kata-kata ini memang sudah mengisinya dengan bantal punggung. semula saya tak melihat urgensi itu. sebaliknya, bantal punggung saya butuhkan untuk berkereta ke jogja saban weekend. bukan membantali kepala untuk mengganti bantal kereta seharga IDR 2.000. tapi untuk mengganjal punggung dari punggung kursi yang begitu lurusnya.

nyatanya, saya membeli kenyamanan ini dengan ongkos IDR 59.500.

 

Written by femi adi soempeno

May 21, 2008 at 7:32 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

bagor

with one comment

kereta progo yang saya tumpangi semalam penuh. malah sampai luber.

usai kereta diarak ke jalur 2, ada pengumuman di loud speaker yang membikin saya terbahak sendiri. bunyinya, “penumpang tidak usah tergesa-gesa naik ke kereta. Masih cukup waktui 30 menit sebelum kereta berangkat. Jangan lupa, tas-tas, kardus-kardus dan bagor-bagor agar tidak ketinggalan atau terbawa oleh pengantar …”

aih.

bagor? mm … bagor itu wadah besar, merupakan karung yang dibikin dari plastik. jamak untuk mewadahi beras atau pasir, atau-barang-barang yang biar simpel maka dimasukkan dalam satu wadah. saya tidak bisa membayangkan kalau bagor terbawa pengantar. kalau karcis terbawa pengantar itu wajar dan umum. tapi kalau bagor sampai terbawa pengantar?

hahahaha …

dasar kereta ekonomi. remah-remah ceritanya ada saja.

 

Written by femi adi soempeno

May 5, 2008 at 1:28 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

gajayana

leave a comment »

ndeso ah.

lama sekali saya tak berkendara dengan kereta eksekutif. setahun lebih. mungkin dua tahun. aih. lama sekali. semalam, saya mencoba kenyamanan duduk di kursi single nan empuk. dengan selimut hangat dan bantal empuk. semalaman. nyaman. humh.

memang berbeda dengan kereta ekonomi yang saya tumpangi saban minggu, kemarin-kemarin sebelumnya. berkeringat. pengap. duduk berdesakan berhimpitan. harus berebut. sesekali, dengan kemarahan kecil lantaran ujung jempol terinjak sandal becek. atau, kursi untuk dua penumpang dipaksakan untuk tiga penumpang. atau, penumpang yang barusaja masuk gerbong serampangan berjalan dengan tasnya yang besar dan melindas wajah-wajah yang dilaluinya.

kali ini tidak.

hanya saja, tak ada penjual pecel kembang kecombrang di kereta eksekutif ini. menyesap wangi kembang kecombrang dengan bauran sambal kacang pedas, hummmh! kemana mereka malam ini ya? juga, tak ada kelokan nan dahsyat selepas jogja yang biasa saya intip di sore hari. berada di gerbong depan atau belakang, si ular besi ini tampak lebih seksi. malam ini saya tak dapat keduanya. juga, tak ada rinto dengan nasi hangat pulen kemebul dengan rempela-ati yang biasa saya tebus dengan harga Rp 5.000 sebungkus.

penyebabnya ya karena kereta yang saya tumpangi ini tak memungkinkan untuk mendapati ketiganya.

saya naik gajayana.

Written by femi adi soempeno

March 10, 2008 at 3:53 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,