The red femi

Posts Tagged ‘kubikel

menggesek itu tidak nikmat

with one comment

ada yang berubah dengan kebiasaan saya, dan juga teman-teman di pabrik kata-kata ini.

yaitu, menggesek kartu pengenal sebagai tanda absen. owh. sungguh, ini sangat menyiksa. jam datang yang tak menentu, atau acara menginap di kubikel yang hangat, tetap saja harus menggesek di mesin absen.

dulunya, kami semua njeglok dengan kartu secara manual. kalau lupa, ya tinggal tanda tangan saja. saya cukup nyaman dengan cara absen yang seperti ini.

mengikuti aturan main yang ada, maka cara absen pun berubah, harus menggesekkan kartu dengan kecepatan yang agak tinggi. sreeetttttttt … maka akan muncul nomer induk karyawan. punya saya: 04A09. jika digesekkan ulang, maka akan tertera tulisan: already passed.

perubahan kadang tak menyenangkan. perkaranya sepele saja: tidak biasa.

Written by femi adi soempeno

August 20, 2008 at 1:48 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

kok kasar sekali ya

with one comment

ini bukan yang pertama kalinya.

dia menyampar sandal saya sembari menatap sinis, “kok lo beli lagi yang ini sih!” dan saya pun menjelaskan, bahwa perjalanan ke jogja mengharuskan saya menggunakan sepatu. jadinya, kembali ke jakarta, ya saya harus mengenakan sandal jepit rumah yang ada di jogja. sandal jepit membikin saya nyaman. di tengah penjelasan ini, dia buru-buru memotong, “jadi lo malu pakai sandal jepit hitam lo itu?”

shoot.

tempo hari, sama saja.

saat ia menelpon, entah siapa, tiba-tiba ia menjumput bantal yang ada di goody bag saya. ia mengangkatnya keatas, dan menghempaskannya. saya hanya diam. tak berkomentar. sama sekali. melihatnya pun tidak. tahu reaksi saya, dia diam saja.

gusti, paringana sabar.

saya tahu persis, dia ini teman saya. kami kadang kelewatan bercanda satu dengan lainnya. nyatanya, saling pengertian dan saling memahami, kadang tak bekerja dengan baik. malah, kemudian muncul anggapan yang sangat rasis dan sukuis: ooh, pantes lo begitu, lo kan dari suku blablabla.

entah, kenapa, belakangan saya sebal dengan tingkahnya.

Written by femi adi soempeno

August 19, 2008 at 7:58 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

rasa terima kasih

with one comment

suatu hari saya berjanji pada seorang redaktur senior untuk menulis berita.

dan saya menulisnya, setelah hampir dua minggu tertunda. tentang perjalanan kecil ke luar kota. tentang peputaran uang di kawasan tersebut. ya, saya menulisnya.

saya berkabar padanya, tulisan sudah selesai. sudah masuk, malah. dan tidak ada tanggapan. hingga tulisan itu muncul, juga tak ada tanggapan. kurang ini, kurang itu.

bahkan rasa terima kasih.

ah, apa sulit mengucapkan terima kasih. atau, bahkan hanya sekadar berbalas kabar, “udah aku terima.” juga tidak. bisu.

mungkin saya yang terlalu berharap banyak. mungkin tulisan saya memang tak sebanding dengan rasa terima kasih yang bakal ia muntahkan dari mulutnya.

tapi saya tahu pasti, saya tak akan pernah menyumbang tulisan untuknya lagi. sumpah.

Written by femi adi soempeno

August 14, 2008 at 6:27 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

tumpukan yang menipis

with one comment

ada yang berbeda dari sudut kubikel saya pagi ini.

yaitu, tumpukan gunungan koran yang menipis. tak percaya? silakan datang ke kubikel saya, dan intip di bagian sudut. saya sudah membabatnya pagi ini. tebalnya kira-kira tiga puluh centimeter. lumayan kan. hasilnya, ya hanya menyisakan koran edisi khusus saja.

saya memang harus berbenah. segera. oops. tidak mau kemana-mana kok. hanya merasa perlu membuang beberapa sampah yang ada di meja. biasanya, mengganti beberapa pernak-pernik dengan yang lebih anyar, akan membangkitkan gairah bekerja.

eh, tunggu dulu.

tapi saya memang ‘biasa’ menulis dalam keadaan berantakan. mengisi halaman putih ini dengan seserakan bungkus daim atau dompet-dompet yang tak beraturan.

hanya saja, agaknya penting untuk berbenah ulang. menata kubikel agar lebih rapi. agar ke-rapi-an itu tak muncul hanya usai deadline saja.

tapi saya harus berhati-hati meletakkan buku di kubikel saya. saya harus menyimpannya lebih rapat. menaruhnya di tempat yang tak bisa diintip dan dibaui oleh orang lain. tahu kenapa? karena buku-buku di kubikel-kubikel ini punya kaki.

hehehe …

Written by femi adi soempeno

August 14, 2008 at 2:02 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

hanya perkara Rp 500 ribu

with one comment

ada pepatah yang pernah mengatakan, “jangan pinjamkan uang pada temanmu, atau kamu akan kehilangan keduanya.”

dan benar. saya kehilangan riangnya dan obrolan yang selalu ramai dengannya. membincangkan si anu yang begini begitu, jogja yang seru dan jakarta yang panas, hingga gaya pacarannya yang serampangan.  sebaliknya, dia jauh lebih kalem, tenang dan segan untuk menggoda saya. ah. padahal, ‘hanya’ Rp 500 ribu saja.

saban akan menyapanya, selalu ia buru-buru mengangkat gagang telepon. atau, dia selalu melemparkan pertanyaan yang sangat formal dan tak masuk akal. misalnya, tahu saya suka pulang ke jogja naik kereta bengawan dari tanah abang, “pulang naik apa mbak? kayak biasanya ya? bisnis? dari senen?”

ah.

sial. mestinya saya tak meminjaminya Rp 500 ribu. karena duit segitu, saya kehilangan ketidaksopanannya, keriangannya, keceriaannya dan obrolan yang hangat dengannya.

Written by femi adi soempeno

August 11, 2008 at 12:26 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,

hush … hush …

with one comment

kesan saya padanya tidak baik.

iya. pada perempuan di balik kubikel tanpa kubikel itu. alasannya sederhana saja: suka menggampangkan dan menyepelekan pekerjaan. hmm … rasa egoisnya juga terlalu tinggi. sepertinya tidak pernah siap untuk menjadi seorang pekerja. untuk menjadi buruh di pabrik kata-kata ini. duh, karma apa sih yang bakal dia petik kelak.

ah, untungnya sebentar lagi saya tak akan berjejalin dengannya.

Written by femi adi soempeno

July 28, 2008 at 3:10 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with ,

tiga kotak transparan

with one comment

tiga kotak transparan.

ketiganya menyimpan rahasia. tentang sebuah masa. tentang sebuah senja. juga, tentang impian hari esok.

kotak pertama, muntahan kenangan ada di sana. potret jejalin yang hangat dan terus menghangat. dan harus berhenti pada sebuah titik di pucuk kehangatan. ada cuilan cerita disana. tak akan hilang. juga, kenangan dengan sejumlah teman. san fransisco. malaysia. berlin. amsterdam.

kotak kedua, memecah heningnya senja. pada kenangan kemarin sore. juga, luapan rindu untuk seseorang. jauh. hanya bisa berdendang saja, sembari membongkar ingatan sejenak. take off to padang. everything. when I think of you. sakura.

kotak ketiga. ini untuk besok. tebalan huruf F. menegaskan, saya akan terus melangkah. ada yang harus saya jejakkan sebagai penanda. seperti menaburkan remah-remah di jalan setapak agar bisa kembali pulang.

ketiganya ada di kubikel saya. di kotak transparan.

Written by femi adi soempeno

July 22, 2008 at 7:24 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,