The red femi

Posts Tagged ‘makan

mashed potatoes, calon perkedel kentang

with 4 comments

Terbayang di pelupuk mata saya, seporsi mashed potatoes lembut dengan daging babi yang saya cecap di koln, jerman. Aih.

Saya selalu menebak-nebak ramuan yang membikin mashed potatoes ini terasa yummy. Ada rasa bawang yang samar-samar. Juga ada rasa asin dari garam dan merica yang menyeruak pelan. Capek menebak, saya pun googling. Nyatanya saya menemukan seribu satu racikan yang membikin mashed potatoes terasa menendang dengan lembut di lidah dan kerongkongan.

Dan hari ini saya membuat mashed potatoes dengan bumbu a la femi. Yaps, seadanya saja, asal tetap lembut dan nikmat. Usai merebus kentang dengan kaldu sapi, saya menyisihkannya untuk saya gerus dengan mesin penggerus kentang secara manual. Bukan, bukan ditumbuk, tetapi diperas. Humh. Bagaimana menjelaskan alatnya ya. yang jelas, saya mengangkut alat penggerus kentang itu dari ace hardware.

Agar kentangnya berasa nendang, saya memanaskan margarin di wajan antilengket. Usai lumer, saya membubuhinya dengan bawang putih yang saya rajang dengan halus, blackpepper, whitepepper, garam dan susu beruang. Sesudah berkolaborasi semuanya, saya mengangkatnya dan memasukkannya dalam kentang yang sudah tergerus dengan sempurna. Saya mengaduknya, dan yummy!

Pagi tadi saya memasangkan mashed potatoes dengan tumis ampela-sosis-pakcoy-gambas-wortel. Sementara siang ini saya menjodohkannya dengan daging sapi kecap.

Ada yang mau mashed potatoes bikinan saya?

Saya amat-amati, mashed potatoes ini kalau dicelupkan dalam telur kocok kemudian digoreng, kok mirip perkedel kentang. Tapi enggak ah. Saya suka mashed potatoes ini. begini saja. barangkali bisa disebut sebagai calon perkedel kentang. Bagaimana?

Written by femi adi soempeno

September 27, 2008 at 9:38 am

disorientasi so[ buntut

with one comment

Dari kejauhan, kakak saya mentertawakan saya. Sialan.

Awalnya adalah godaan buntut sapi di superindo. Sepertinya menakjubkan membikin sop buntut di rumah. Bumbunya? Beli saja yang instan. Bamboe menyediakan bumbu oxtail soup. Dan saya mengangkut beberapa irisan buntut sapi. Sedap!

Tapi, olala, ternyata sedang tidak tersedia bumbu instan Bamboe untuk sop buntut. Kalau begitu, barangkali bisa diganti rawon saja. isinya, ya buntut sapi ini. selain buntut, saya mengangkut daging sapi untuk dibikin kaldu.

Sampai di rumah, karena tidak makan nasi, ya saya mengiris dua gelundung kentang. Ada empat irisan daging berukuran sedang, dan juga buntut sapi. Bumbu saya masukkan dalam panci dengan kuah kaldu. Plus irisan kentang. Plus daging dan buntut. Plus telur kampung rebus.

Hasilnya? Duh, entah, sop buntut bukan, rawon juga bukan. Merem sebentar, rasa kuahnya adalan rawon dengan komposisi bumbu dan air yang tidak seimbang. Terang saja, asin mendominasi kuah rawon. Sementara, daging dan buntut serta telur rebus nya baik-baik saja.

Tidak lagi ah. Sop buntut harus untuk sop buntut, bukan untuk rawon begini. Sungguh disorientasi sop buntut!

Written by femi adi soempeno

September 24, 2008 at 9:42 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , , ,

berebut perhatian laki-laki dengan laki-laki

leave a comment »

Awalnya adalah sebuah reriungan kecil di dixie, sebuah warung makan yang cukup cozy di Jogja.

Perbincangan saya dengan seorang teman lama begitu hangatnya. Dia banyak bercerita tentang kehidupannya. Saya tahu, dia mulai terbuka dan berbicara terus terang tentang orientasi seksualnya sebagai laki-laki yang menikmati kehangatan dari laki-laki. Tentang rasa cemburu dengan laki-laki lain yang sudah tidur dengan pasangannya. Tentang permainan dahsyat di atas ranjang di sebuah siang dengan seorang laki-laki yang sudah beranak-istri.

Hingga saya mengganti posisi duduk saya agar lebih intim. Dan ternyata ada pemandangan bagus dari balik kaca sebelah tempat kami duduk. Seorang laki-laki dengan kaos merah marun, berkacamata, dan terlihat bersih. Sejurus, laki-laki ini memindahkan posisi duduknya sehingga bisa mengamati meja saya dengan lebih cermat.

Saya merasa, kami sering beradu pandangan. Sampai akhirnya saya membisiki si teman lama, “Eh, wong lanang klambi abang kae nggatekke aku terus!” Tanpa saya duga, si teman lama ini berujar, “Ora fem, dheweke ki ndeloki aku terus!” oh, shoot! Saya hanya terdiam, mencoba menyadarkan diri bahwa saya sedang berebut perhatian seorang laki-laki dengan laki-laki. Owh!

Dan kami mulai berseteru dengan perasaan kami masing-masing tentang perhatian laki-laki dengan kaos merah marun itu. “Dia merhatiin aku!” dan berbalas, “Enggak, aku!” dan begitu seterusnya.

Hah. Entahlah.

Written by femi adi soempeno

September 22, 2008 at 5:03 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

pantat saya pegel

with one comment

rasanya sudah lama sekali tidak main sepeda.

gara-gara pentil sepeda di jakarta patah, jadinya acara bersepeda hanya dilakukan di jogja saja. dan acara bersepeda di jogja menjadi lebih menyenangkan. bebas polusi, beradu cepat dengan becak dan andong, masih adem dengan banyaknya pepohonan, dan digowes dengan teman. kali ini arun.

rute sudah dibikin: imogiri. tak harus sampai makam imogiri. makam jejeran saja, memburu sate klathak. :p

tapi nyatanya sate klathak tutup! maklum, hari ini hari tirakatan. gosh. jadilah rute didesain ulang. lagipula sudah ada pesan awal dari arun, “aku cuma bisa sampai jam 10 ya …” maka tujuan pun sedikit dialihkan: kotagede. memburu sate sapi di lapangan karang.

acara bersepeda diawali dengan dopingan dua botol bir. hehe … arun sih, pakai acara curhat segala. jadi mau tak mau harus mengeluarkan minuman dingin ini untuk teman berceloteh. sesudahnya, gowes menggowes dimulai.

sesaknya malioboro! saya harus mendentingkan bel sepeda saya lantaran terlalu banyak pejalan kaki yang tumpah ruah di jalanan. maklum, mereka juga ogah berjubel di trotoar dan jalan terlalu pelan beriringan dengan orang-orang yang sebentar-sebentar berhenti untuk menawar barang-barang. okelah. asal masih bisa didentingkan saja.

dan sepeda terus kami arahkan ke kotagede, lewat alun-alun besar, menuju brigjen katamso, bablas menuju kotagede.

kami menggowes sepeda sambil bercerita banyak hal. tentang proyek film, tentang kesibukan saban hari, tentang laki-laki hangat, tentang … banyak hal.

dan, gowesan berujung pada lapangan karang yang tutup. hiks.

jadilah ke kedai hijo milik walhi yang tak jauh dari lapangan karang. kedai yang tak sengaja kami jumpai saat melewati menuju lapangan karang. sesdudahnya, menambal rasa lapar di angkringan nganggo sue.

pulang, kami masih menambah bir untuk menghabiskan malam.

paginya, saya baru berasa tak nyaman duduk. rupanya, pantat saya pegal hasil menggowes semalam dengan arun. ah, lama tak sepedaan sih.

Written by femi adi soempeno

August 17, 2008 at 10:03 pm

nasi kalong, bandung

with one comment

dari roemahkopi, indah melajukan legenda plat AB-nya ke nasi kalong.

ruang perut ini memang sengaja kami sisakan sedikit untuk nasi kalong. ini nasi yang barusaja indah pamerkan pada saya. boleh ah dicoba.

letaknya ada di pelataran gepuk nyonya yong. dulunya, ada di pelataran FO china emporium. karena digusur untuk bikin FO secret, si empunya menggeser lapaknya ke sebelah kiri.

nasi kalong dibikin dari olahan nasi putih dengan daun salam dan kluwek. konon, seratnya menjadi lebih tinggi dari nasi putih biasa. padanannya, ada 20-25 jenis lauk yang bisa dipilih untuk menemani nasi kalong. mulai ayam madu, gepuk, ayam lemon, kentang keju, kacang tempe dan ada juga jengkol. saya mah milih ayam madu, gepuk dan kering saja. dan, sambalnya itu lo. ah, nendang banget.

kami melanjutkan obrolan kami. namun, sedikit lebih tenang karena sebagian besar kekangenan sudah kami gelontorkan di roemahkopi.

Written by femi adi soempeno

July 26, 2008 at 1:41 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

memulai petualangan

with 2 comments

petualangan ini barusaja dimulai.

iya. sejak perjumpaan terakhir dengan pras beberapa waktu lalu, temu janji dibikin. untuk makan-makan. iya, mencoba makanan di kedai anyar yang belum kami sentuh. dan petualangan ini dimulai dari seporsi sate babi di warung mungil prahu layar.

etalasenya kecil, sungguh mini. diletakkan diluar, memuat tusukan sate dan uba rampe-nya. ada bawang, tomat dan kobis. tempat makannya di bagian dalam juga mungil. “dulu nggak ada jendelanya, sekarang ada!” tukas pras. ah, rupanya sudah ada yang berubah.

pesanan datang. “wah, dulu juga bukan begini satenya …” cetusnya. lhah. berarti tidak orisinil lagi!

sate ini mirip sate bikinan robi dan keluarganya di bilangan ketandan, persis di sebelah ramayana-robinson mal. bungkusan kecapnya yang tebal sangat terasa di gigitan pertama. manis. rasa babinya juga sangat bold. nyatanya, saya tak bisa membandingkan sate ini yang dulu dan sekarang.

apapun itu, petualangan barusaja di mulai. minggu depan kemana lagi ya?

Written by femi adi soempeno

July 12, 2008 at 9:05 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

sinar medan, kerakusan itu

with 2 comments

seorang teman, eflin, membeberkan salah satu kedai lezat di jakarta.

sinar medan, di cililitan. persisnya, di depan asabri. masakannya bukan sembarang masakan, tapi olahan khas batak karo. oops. sedap? tidak sedap? ehm. bagi saya, jelas saja sedapnya.

kami menyambangi kedai itu pertengahan minggu lalu. janji temu dibikin di kedai sinar medan. saat itu, pesanan saya adalah panggang dan sop. tak kurang dari sepuluh menit, sajian terhidang di meja. waaah … uenak tenan! sementara, eflin pesan bihun goreng dan panggang. sebagai hidangan konsorsium, kami menambah seporsi panggang ukuran jumbo. wah!

dan saya datang lagi semalam.

bersama dengan teman-teman dari rumah sewa. meninggalkan jejak dari rumah sewa di palmerah, kami berbondong-bondong menyurungkan perut lapar di cililitan. panggang, bihun goreng dan babi kecap. sedap? sedap banget!

kami menikmati sajian ini. menggelak. diselingi dengan obrolan ringan. sesekali, mendecakkan kekaguman atas kelezatan olahan babi ini. ah! sedikit penyesalan datang. mestinya bisa mengajak lebih banyak teman ke kedai ini.

dalam perjalanan pulang, kantuk menyandera di bus patas 46.

Written by femi adi soempeno

July 6, 2008 at 10:50 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,