The red femi

Posts Tagged ‘menulis

harus serius?

with 2 comments

kami berdebat kecil.

tentang blog. tentang pijatan kecil di papan kunci. tentang kerenyitan dahi dan sembulan senyum.

“knapa harus mengumbar kisah diri di blog?” gugatnya.

“lha harusnya?” tanya saya.

“tak ada yang harus dan tidak harus …” jawabnya cepat.

“kemudian, sebaiknya menulis apa?” tanya saya.

“yang serius dikit lah. tentang pengetahuan. kan berguna buat yang baca … bukan cuma cerita soal toilet, tentang sepeda lipat, tentang kemarahan …” katanya. saya terdiam.

dan saya menutup pembicaran tanpa berkata-kata lagi.

saya capek menulis yang serius-serius. sungguh.

blog menjadi ruang saya yang sangat memberi keleluasaan menulis untuk saya. tidak ada editor. barangkali hanya celaan dan gugatan kecil saja. tapi, tulisan saya adalah tulisan asli saya. tak ada editan layaknya di pabrik kata-kata tempat saya bekerja.

saya ingin menulis tentang keriangan kecil di ujung minggu. maka saya menulis keriangan kecil di ujung minggu. saya ingin menulis tentang teman yang bangsat. maka saya menulis teman yang bangsat. saya ingin menulis tentang gowesan pertama dengan sepeda setelah 13 tahun tak bersepeda. maka saya menulis gowesan pertama dengan sepeda setelah 13 tahun tak bersepeda.

mau apa lagi?

lebih dari sekadar ruang, ini adalah ceceran cerita tentang hidup saya. tentang keceriaan, kelesuan, kemalasan, kejengkelan, dan barangkali sampah.

tak perlu mampir untuk mengintip. tak usah mengetuk pintu dan berharap ada yang membukakan pintu. lewati saja tanpa perlu untuk menoleh.

ini rumah saya untuk mencandai kehidupan saya. tak harus selalu serius menulis. 20 jam saya habiskan untuk menulis 3-4 tulisan seminggu. tulisan yang serius-serius. 8-10 jam saya habiskan untuk wawancara dengan 3-4 narasumber. sumber yang serius-serius.

lantas, apa halaman putih ini masih harus saya goresi dengan tulisan yang serius?

maaf, saya tidak mau.

Written by femi adi soempeno

July 6, 2008 at 12:22 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

bagaimana kalau memulainya dengan blogging?

with one comment

sumpah, saya merasa malas sekali menulis saat ini.

seharian hanya mempelototi berita dotcom, dan mencoba mencari mood diantara huruf yang berserak di layar monitor. selebihnya, keenganan untuk membuka halaman lay out koran dan mulai menulis. dengan tangan kanan yang ‘cacat’ begini, menulis terasa sulit. bahkan, mencari mood pun selalu gagal.

padahal, meja sudah lebih bersih dari kemarin. artinya, tak ada alasan meja resek untuk tidak menulis. juga, barusaja gajian. apalagi, rasa ‘aman’ ini jauh lebih membuat hati terasa hangat dan bebas dari rasa khawatir. juga, barusaja kembali dari jogja. keinginan untuk pulang kembali baru akan ‘diterbitkan’ ujung minggu nanti. ehm.

tapi mood ini belum juga menyeruak.

bagaimana kalau memulainya dengan blogging? saya rasa ini bukan ide buruk.

Written by femi adi soempeno

April 29, 2008 at 7:25 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

kompor mleduk

leave a comment »

saya selalu belajar dari kunto untuk menjadi kompor mleduk.

menularkan semangat, keinginan dan secuil cita-cita, bukankah hal yang tak buruk? dan, saya tahu, saya barusaja melakukannya. pada laki-laki tinggi, tegap, botak, dan sangat narsis.

ayo, mulailah menulis. ada komputer. ada waktu. ada tenaga. ada cita-cita. ayo, menulis. saya ada di sini. bukan, bukan untuk memandu dia dari depan dan menuntun jalannya. saya hanya ingin menabok bokongnya dan memecutnya sembari bilang, “ayo, terus menulis. jangan patah semangat!”

saya sendiri paling ahli mengompori diri sendiri untuk menulis. menulis dan tetap menulis. sudah saatnya memecut orang lain untuk mulai menulis.

saya tunggu ya!

Written by femi adi soempeno

April 12, 2008 at 3:32 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

baru!

leave a comment »

eits. ada yang baru rupanya!

iya, dashboard dan seisinya wordpress ini baru. waduh. warna disini lebih pucat karena putih harus beradu dengan biru muda. tapi, tak apalah.

orang yang duduk di belakang meja desain wordpress agaknya berusaha menyempurnakan wordpress dari waktu ke waktu. lebih dari dua tahun mengisi halaman putih ini, kalau tidak salah ingat, dua kali juga perubahan ini terjadi.

terima kasih, pak wordpress.

Written by femi adi soempeno

April 6, 2008 at 10:58 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

malas ngeblog

with 2 comments

penyakit ini hinggap. entah, bagaimana virusnya melekat dengan sangat erat di tubuh saya.

malas ngeblog.

aiiihhhh! sejak kapan ya saya malas ngeblog? ditelisik-telisik, ternyata sejak ujung tahun lalu. desember 2007. postingan menciut. jumlahnya semakin tipis. januari 2008. februari 2008. saya jadi sebal dengan diri saya sendiri. jelas, ini bukan femi banget!

padahal, menulis itu sebuah komitmen. seperti yang saya jalin untuk hidup saya. menulis. dan terus menulis. nyatanya, energi lain menyedot komitmen ini. seperti tervakum. rencana perjumpaan dengan lelaki dengan pjamas kotak-kotak. cinta yang membunga usai pertemuan kecil itu. melarikan jemari diatas keyboard mengejar tenggat penulisan untuk edisi reguler maupun edisi khusus, plus buku.

capek. halaman putih ini selalu dibuka. tapi hanya dibuka saja. sesekali diintip. tapi, tak juga menulis. padahal harusnya tidak seperti itu. harusnya menulis. dan terus menulis.

mulai saat ini, harus banyak menulis. iya, mengisi halaman putih ini dengan sejuta satu cerita.

Written by femi adi soempeno

February 27, 2008 at 12:01 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

eneg

with 3 comments

ya olo, napas saya tak putus-putusnya.

seminggu. ya, sudah seminggu kolong ini tak pernah absen. oleh desakan tubuh saya. oleh jejalan ponsel dan kacamata yang saya sisihkan di pinggir. untuk hempasan rasa letih yang amat sangat. seminggu ini, saya ngolong di kolong kubikel. hangat. sesak. dan, mungkin sedikit berdebu. hingga saya terbangun paginya, karena kedinginan oleh AC yang tersemprot sepanjang hari.

senin malam. selasa malam. rabu malam. kamis malam. nanti malam, saya pulang jogja, bermalam di kereta.

edisi mingguan usai selasa sore. iya, sudah selesai sesuai dengan deadline. malamnya, harus mengganjal satu tulisan lagi. satu lagi, dan selesai rabu siang. aargh. tapi acara menarikan jemari belum selesai sampai disini. edisi khusus, iya, edisi khusus. kali ini, tiga halaman harus saya hamburi dengan penggalan kata, potongan kutipan dan cuilan huruf-huruf. kamis malam, baru usai.

rasanya eneg.

hari ini sudah harus mulai lagi. edisi mingguan kembali.

Written by femi adi soempeno

February 22, 2008 at 1:15 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

done, again

leave a comment »

Sebuah sejarah telah diguratkan oleh sejumlah pejabat di negeri ini, satu dasawarsa silam. Mereka yang saat itu disebut-sebut sebagai anak emas Soeharto, mendadak dituding sebagai orang-orang yang berperan menjungkalkan Soeharto. Iya, anak-anak itu telah ‘membunuh’ bapaknya sendiri.

Direncanakan atau tidak, surungan agar Soeharto mundur dari kursi RI-1 telah mereka lakukan. Mulai dari Harmoko yang menggelar sidang terbatas dengan para pemimpin fraksi di Senayan dan bersepakat, “… demi persatuan dan kesatuan bangsa, agar Presiden secara arif dan bijaksana sebaiknya mengundurkan diri.” Sekonyong-konyong, sebuah batu besar ditimpakan Soeharto oleh ‘Si Bung’, anak emas yang sebelumnya senantiasa menuruti petunjuknya.

Belum selesai satu perkara, perkara lain muncul. Yaitu, mundurnya empat belas orang mentri yang berada dibawah koordinasi anak emasnya yang lain, yaitu Ginandjar Kartasasmita. Padahal, semalam sebelumnya Ginandjar ikut membantu Soeharto menyusun orang-orang yang bakal didudukkan dalam kabinet yang anyar.

Hingga akhirnya pada pemakaman Soeharto 28 Januari 2008 silam, tak urung Ginandjar berujar, “Saya bilang kepada Mbak Tutut, maafkan saya, kalau peristiwa itu dianggap sebagai dosa atau kesalahan.” Ia mengimbuhkan, ia meminta maaf juga lantaran berbeda pandangan dengan Pak Harto sesaat sebelum reformasi.

Anak emas Soeharto yang dituding mengkhianati keluarga Cendana adalah Prabowo Subianto. Malam itu, Soeharto sedang duduk bersama Wiranto dan putra-putri Cendana. Prabowo dianggap pecundang di depan keluarga istrinya. Yang pertama berdiri adalah putri bungsu Suharto, Mamiek. “Mamiek melihat saya, kemudian menudingkan jarinya seinci dari hidung saya dan berkata: “Kamu pengkhianat!” Dan kemudian “Jangan injak kakimu di rumah saya lagi!” Jadi, saya keluar. Saya menunggu. Saya ingin masuk. Saya katakan saya butuh penjelasan. Istri saya menangis.” Setelah itu, Prabowo pulang.

Belum lagi Habibie yang diharapkan juga ikut lengser saat Soeharto lengser, nyatanya pasrah menerima sampur untuk melanjutkan pemerintahan Soeharto. Ketidaksukaan Soeharto terhadap sikap Habibie ini tercermin dari sikap Soeharto pada 21 Mei 1998. Habibie bercerita, “Namun, baru saja saya berada di depan pintu ruang Jepara, tiba-tiba pintu terbuka dan protokol mengumumkan bahwa Presiden Republik Indonesia memasuki ruang upacara. Saya tercengang melihat Pak Harto, melewati saya terus melangkah ke ruang upacara dan melecehkan keberadaan saya di depan semua yang hadir.”

Siapapun itu, orang-orang yang pernah sangat dekat dengan Soeharto pada masa kejayaannya, harus ditendang dari lingkaran Cendana. Suka atau tidak suka, itulah yang terjadi pada Habibie, Harmoko, Prabowo maupun Ginandjar. Bahkan, ABRI dan Golkar yang selama tiga dasawarsa menjadi kendaraan Soeharto, juga ikut diasingkan oleh The Smiling General itu.

Dengan tudingan jari telunjuk berjarak seinci dari wajah, dengan surat pengunduran diri para menteri, dengan himbauan untuk mengundurkan diri, semoga saja Indonesia bisa belajar dari sejarah bangsanya yang ditulis dengan cerita-cerita tentang pengkhianatan. Sungguh, sejarah senantiasa berulang.

Salam hangat,

Femi Adi Soempeno

(Ps: terima kasih ya, kalian sungguh baik. energi ini tak ada habisnya untuk mencatatkan diri sebagai penulis, dan kian menggurat sebagai penulis. it is done, again.)

Written by femi adi soempeno

February 12, 2008 at 12:17 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,